Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 24 | Kemarahan Gilbert


__ADS_3

Gilbert yang baru saja pulang dari meeting tanpa sengaja bertemu dengan seorang driver dari salah satu aplikasi online. Matanya menaut saat sang driver menanyakan dimana ruangan Zela. Dengan langkah cepat, Gilbert menahan sang driver.


"Apakah kau benar ingin mengantarkan pesanan ini untuk Zela?" tanya Gilbert cepat.


"Benar, Tuan. Ini sesuai dengan alamat."


"Apakah kau yakin jika Zela memesan makanan sebanyak ini?"


Karena tidak ingin dianggap sebagai seorang penipu, sang driver segera menujukan sebuah bukti pemesanan. Dan benar saja itu adalah kontak milik Zela. Akhirnya Gilbert ingin membungkam mulutnya sendiri karena rasa keterkejutan. "Kebetulan aku akan ke ruangan Zela. Bisakah aku yang menerima pesanan ini."


Kimi yang ada di belakang Gilbert merasa ada yang aneh dengan sikap Gilbert akhir-akhir ini yang lebih perhatian kepada Zela. Mungkin cinta yang sesungguhnya telah bersemi dihatinya? "Ya Tuhan ... apa yang aku pikirkan?" rutuk Kimi dalam hati.


Derap langkah menggema disebuah ruangan. Hening nan sepi seperti tak berpenghuni, bahkan beberapa map masih berserakan diatas meja. Gilbert hanya bisa menghela napas beratnya. "Kau ingin bekerja atau ingin tidur?" Gilbert meletakkan beberapa macam jenis makan diatas meja.


Zela tersentak lalu segera bangkit dengan mengucek kedua matanya. "Kenapa kau ada disini?"


"Apakah aku tak memberikan makanan yang cukup kepadamu sehingga kau memesan makan sebanyak ini?"


Zela terkejut saat melihat pesanan makannya telah ada diatas meja. "Kau bilang kau akan meeting, tetapi kenapa kau ada disini?"


"Kau banyak bertanya tanpa ingin menjawab pernyataanku."

__ADS_1


"Kau juga!"


Keduanya saling salah menyalahkan, hingga pada akhirnya Zela memilih untuk mengalah. "Sudahlah, aku lapar. Jika tidak ada kepentingan, silahkan kau pergi!" usir Zela datar.


Gilbert menautkan alisnya dan berkata, "Ini adalah kantorku, berani sekali kau mengusirku!"


Zela membuang napas beratnya. Memang tak ada gunanya dia berdebat dengan Gilbert yang selalu ingin benar sendiri. "Jadi kau ingin disini? Ya sudah, tapi ingat kau tidak berhak untuk meminta makananku!"


Zela membuka satu persatu pesan yang sudah dia pesan dengan tidak sabar lagi. Ludahnya sudah naik turun di kerongkongan. Gilbert pun tak berkutik hanya duduk menatap Zela yang hanya sekedar mencicip makanannya saja tanpa memakannya. "Kenapa? Tidak enak?"


Zela menatap Gilbert yang ada di depannya. "Apakah kau telah menambah garam ke semua makanan ini? Kenapa semua terasa asin?" tuduh Zela dengan tatapan intens.


"Jangan sembarang berbicara! Tak ada gunanya aku menambahkan garam ke makananmu!"


Gilbert langsung mengambil makanan yang ada di depan Zela lalu menciumnya. Untuk lebih memastikan Gilbert mencicipnya sedikit. Bola matanya memutar, seakan sedang meresapi rasa makanan yang dikatakan asin oleh Zela. Bukan hanya satu, tetapi semuanya.


Mata Gilbert menatap lurus kearah Zela. "Aku rasa lidahmu sudah mati!" ujarnya. "Makanan enak seperti ini kau bilang asin!"


Karena Zela tak percaya, dia pun mencicipi makanannya untuk sekali lagi. "Ku rasa lidahmu yang sudah rusak!" kata Zela saat makanan yang dia cicipi masih sama terasa asin. "Kalau enak, habiskanlah!" tantang Zela.


"Kau pikir aku akan menolak?"

__ADS_1


Zela tidak habis pikir dengan Gilbert yang mampu menghabiskan semua makanan yang dia pesan. Bahkan Zela hanya mampu menelan kasar ludahnya saat Gilbert telah bersendawa panjang. "Terimakasih, makanannya enak, aku suka. Ini adalah jenis makanan yang baru pertama kali aku makan, next kau pesan lagi untukku!" pesan Gilbert sebelum meninggalkan ruangan Zela.


****


Raut wajah Gilbert merah padam saat melihat sebuah foto yang telah beredar di lingkungan kantor. Entah siapa dalang dari pengeditan gambar tersebut. Dengan gigi yang menggeretak, Gilbert membanting ponselnya ke dingding hingga hancur. "Kau cari siapa yang telah yang sudah berani bermain kucing denganku. Jika itu karyawan disini, segera beri pelajaran berharga untuknya!" perintah Gilbert dengan emosi yang sudah membubung tinggi.


"Biak Tuan." Kimi segera meninggalkan ruangan Gilbert.


Pagi ini tanpa sengaja Kimi mendengar beberapa orang yang sedang membicarakan tentang Zela yang tidak benar. Bahkan Kimi juga mendapatkan sebuah foto Zela dengan pria tua yang sedang berada di club malam. Karena Kimi tidak tahu apakah itu benar atau tidak, Kimi segera melaporkan kepada Gilbert. Benar saja, Gilbert murka saat melihat foto Zela bersama dengan seorang pria tua.


"Apakah Zela memang seperti itu? Tapi tidak mungkin, karena pengawasan Gilbert terlalu ketat, jangankan untuk pergi ke club, pergi ke toilet saja Zela akan selalu di pantau. Aku harus mencari tahu, siapa orang yang selalu ingin menjatuhkan Zela."


Di dalam ruangan kerjanya, Gilbert memanggil Zela untuk ke ruangannya. Jelas Gilbert tahu siap yang sedang bersama Zela tadi malam. Dan foto itu murni sebuah editan.


"Ada apa?" tanya Zela saat memasuki ruangan Gilbert. Mata Zela mengedar keseluruhan ruangan yang telah berubah drastis. Kertas-kertas berserakan di lantai. Yang lebih parahnya lagi adalah laptop milik Gilbert juga telah tidur di lantai. "Gil, ada apa ini?" Zela melangkah maju dan matanya juga menangkap ponsel Gilbert yang telah hancur juga. "Kau kenapa?" ulang Zela lagi.


Dada Gilbert masih naik turun. Meskipun ini bukanlah kesalahan Zela, tetapi Gilbert sangat tidak terima jika ada satu orangpun yang ingin menjatuhkan Zela.


"Sudah ku katakan kau tak boleh pergi tanpa seizin dariku, lihatlah apa yang terjadi!"


Saat itu juga Zela tahu arah pembicaraa Gilbert. "Bukankah kau juga tau jika malam tadi kau bersama denganku. Dan itu hanya sebuah foto editan, lalu kenapa kau malah menggila?"

__ADS_1


"Iya, aku ku gila karenamu!" bentak Gilbert.


__ADS_2