Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 26 | Rencana Oma


__ADS_3

Alih-alih ingin membuang rasa frustasinya, Gilbert malah terus membayangkan wajah Zela. Wanita biasa saja yang saat ini selalu membuat dadanya mampu berdebar. Bahkan, meskipun saat ini dikelilingi wanita pilihan, Gilbert masih acuh, tak tertarik sedikitpun.


"Minggir!" Gilbert mendorong wanita-wanita yang telah disiapkan Madam Re untuk menemani Gilbert malam ini. Namun, siapa yang menyangka jika Gilbert tak melirik satupun diantara mereka.


"Anda ingin kemana, Tuan? Bahkan kita belum melakukan melakukan pemanasan," kata salah seorang wanita.


"Kalian sudah ku beli dan terserah ingin ku pakai atau tidak. Aku tidak naf.su bermain dengan kalian!"


Saat itu juga Gilbert meninggalkan sebuah kamar yang telah disediakan oleh pihak club. Tepat saat tiba di lantai bawah, madam Re terkejut saat melihat Gilbert hendak meninggalkan club milik.


"Tuan apakah ada yang salah?" tanyanya.


Gilbert memandang Madam Re tanpa kata, sebelum Gilbert benar-benar meninggalkan tempat itu. Saat Gilbert hendak menuju ke mobil, lengannya di tahan oleh Madam Re. Wanita itu tak rela jika Gilbert berlalu begitu saja tanpa penjelasan. "Tuan, apakah mereka melakukan kesalahan?"


"Simpan saja mereka untuk pria lain. Aku sama sekali tidak tertarik," ujar Gilbert datar.


"Tetapi mengapa, Tuan? Apakah pelayan mereka tidak memuaskan? Mereka adalah barang baru."


"Sekali aku katakan tidak tertarik, maka selamanya aku tidak akan pernah tertarik." Tanpa kata, Gilbert berlalu begitu saja menyisahkan sebuah kekecewaan untuk Madam Re. Hasil jerih payahnya mencari gadis perawan untuk Gilbert berakhir sia-sia. Dan ini adalah kali pertama Gilbert menolak barang barunya. Madam Re hanya bisa membuang napas kasarnya sebelum Kembali masuk kedalam.


Baru saja Gilbert hendak menginjakkan pedak gas, ponsel yang baru saja dia beli berdering. Siapa lagi jika bukan Kimi, karena hanya dia yang mempunyai nomer barunya.

__ADS_1


"Ada apa?" jawabnya dengan ketus.


Gilbert terdiam saat mendengarkan Kimi berbicara. Dengan hembusan napas panjang, Gilbert langsung menutup ponselnya tanpa kata.


"Apalagi yang ingin dilakukan oleh wanita tua itu? Merepotkan saja!" gerutu Gilbert, kemudian menjalankan mobilnya ke rumah utama.


Sudah tiga jam Zela berada didalam sebuah ruangan yang sangat luas. Entah apa yang diinginkan oleh nyonya Roberto memasukkan Zela di ruangan tersebut. Bahkan pintu ruangan tersebut juga telah dari luar. Zela pikir, Oma mengundangnya untuk makan malam bersama, tapi nyatanya Zela malah dimasukkan ke sebuah kamar yang luas lengkap dengan segala fasilitasnya.


Tak ada yang bisa Zela lakukan untuk bisa keluar dari kamar tersebut. Hanya pasrah dengan keadaan, berharap Gilbert datang untuk mengeluarkan dirinya.


"Aku tidak tahu apa maksud nyonya Roberto mengurungku disini. Bukankah dia yang menginginkan pernikahanku dengan Gilbert dilakukan dalam minggu ini? Lalu mengapa sekarang aku ditahan? Apakah sebenarnya dia hanya pura-pura setuju saja?" Zela tak hentinya berpikir buruk tentang Oma.


Sudah tiga jam berada dalam ruangan, Zela pun terasa haus. Matanya lantas menangkap sebuah gelas yang terlihat memang telah disediakan untuk Zela. Tangannya dengan cepat menyambar gelas dan menenggaknya tandas.


Karena dirasa tak akan ada pertolongan datang, akhirnya Zela merebahkan tubuhnya di ranjang besar yang megah. "Kok malah terasa gerah, sih?" Zela menambahkan suhu ruangan, namun ternyata suhu AC telah maksimal. "Apakah AC nya rusak? Astaga ....gerah sekali." Zela membuka satu kancing kemejanya agar mengurangi rasa panas yang bersarang di tubuhnya. "Ya Tuhan, ada apa ini?" Semakin lama semakin gerah dan gelisah. Saat ini Zela benar-benar seperti cacing yang sedang kepanasan.


Diluar, kedatangan Gilbert ditahan oleh pengawal Oma jika Gilbert belum mengkonfirmasi kedatangan kepada nyonya besar mereka. "Kalian tidak berhak melarang ku untuk masuk! Aku ini satu-satunya cucu dari Nyonya besar!" sentak Gilbert.


"Maag Tuan muda, tapi itu perintah dari Nyonya besar."


Gilbert mengacak kasar rambutnya secara frustasi. "Baiklah. Sekarang panggilan nyonya kalian!" perintah Gilbert cepat.

__ADS_1


"Nyonya besar sedang tidak ada di dalam, silahkan anda hubungi melalui panggilan telepon!"


"Berani sekali wanita tua itu bermain dengan ku," gerutu Gilbert. "Sekarang dimana Zela?" tanya Gilbert kepada para pengawal Omanya.


"Nona ada di lantai atas. Jika anda telah mendapatkan konfirmasi untuk menemui Nona Zela, mari saya antar. Namun, jika anda tidak mendapatkan izin, mohon anda pergi!"


Hanya seseorang yang mendapatkan perlindungan dari Oma saja yang bisa melawan Gilbert, karena jika itu orang lain, mungkin detik itu juga Gilbert tidak akan membiarkan orang tersebut untuk bernapas.


"Kau lihat sendiri! Sekarang antara aku ke kamar Zela!" Gilbert memberikan ponselnya kepada pria yang mencegahnya.


"Baik, mari saya antar!"


Gilbert tidak habis pikir apa yang sedang Oma lakukan, mengapa dia mengurung Zela di kamar atas. Kamar yang sama sekali tak boleh dibuka selama ini.


"Apakah wanita tua itu sedang ingin bermain kucing-kucingan. Baiklah, mari kita lihat siapa yang akan memang," batin Gilbert dengan senyum smirk.


"Nona Zela ada di dalam, silahkan masuk." Pintu pun dibuka dan Gilbert langsung masuk kedalamnya.


Sebuah kamar yang selalu dijaga dengan ketat oleh Oma. Bahkan selama Gilbert tunggal di rumah itu, Gilbert tak pernah menginjakkan kakinya di kamar misterius itu.


Pandangan Gilbert terus menyapu sudut-sudut ruangan. Merasa takjub dengan keindahan kamar yang megah. Namun, matanya langsung tertuju pada seorang wanita yang berada diatas tempat tidur dengan kemeja yang tak terpasang lagi ditubuhnya.

__ADS_1


"Zela," kata Gilbert segera berlari menuju keatas ranjang.


__ADS_2