
Kehilangan calon bayi yang telah didambakan lama oleh Oma, membuat wanita tua itu jatuh shock dan jantungnya kambuh. Begitu juga dengan Gilbert yang sudah sangat frustasi. Calon pewarisnya telah tiada. Apa yang akan dia katakan kepada Zela jika bayi mereka sudah pergi ke Surga.
Bagi Gilbert nyawa yang hilang juga harus diganti dengan nyawa. Pelaku yang telah menyebabkan Zela kehilangan anaknya harus mempertanggung jawabkan atas perbuatan. Sungguh Gilbert tak ikhlas jika belum memberi hadiah yang setimpal kepada pelaku penculikan Zela.
Setelah melewati masa kritisnya, kini Zela telah dipindahkan di ruang rawat. Kesadarannya juga sudah kembali. Saat melihat Gilbert yang ada didepan matanya dia langsung memeluk tubuh Gilbert.
"Gil, aku takut."
Gilbert memeluk erat tubuh Zela seakan menyalurkan tenaga yang dia miliki. "Kau sudah aman sekarang," ujar Gilbert.
Seketika tangan Zela meraba kearah perutnya seperti ada yang berbeda. Dia pun lantas menanyakan keadaan calon buah hati mereka.
"Dia baik-baik saja kan, Gil?" tanya Zela penasaran.
Gilbert hanya menelan kasar salivanya. Terasa berat bibirnya untuk mengucap. Dia tidak ingin membuat Zela semakin sedih.
"Gil?" panggil Zela.
"Diaβ" Gilbert tak sanggup untuk meneruskan ucapannya. Saat itu juga Zela tahu apa jawabannya. Matanya sudah berkaca-kaca dan mere.mas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, Gil! Tidak mungkin!" Zela berusaha untuk menguatkan dirinya.
"Maafkan aku, Ze. Tapi anak kita sudah tidak ada." Saat itu juga tangis Zela pecah memenuhi ruangan. Sebagai seorang suami Gilbert berusaha untuk menenangkan Zela. Bukan hanya Zela yang kehilangan, tetapi dirinya juga amat kehilangan karena calon pewarisnya pergi begitu saja.
β¨β¨β¨
Meskipun sudah satu minggu sejak insiden keguguran, Zela masih memilih mengurung dirinya didalam kamar. Bahkan saat dikunjungi oleh Rena dia acuh tak peduli.
"Ze, sampai kapan kau akan terdiam seperti ini? Ikhlaskan saja apa yang telah pergi, mungkin itu bukan rejeki kalian. Yang hilang pasti akan tergantikan dengan cara membuatnya kembali," kata Rena sahabat Zela.
"Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan karena kau belum pernah merasakan," ucap Zela datar.
Zela yang semula acuh, kini menarik tangan Rena untuk mengulang lagi ucapannya. Zela berharap jika saat ini dia tidak sedang dengar
"Kau bilang apa, Ren?"
"Apakah kau tuli? Aku bilang ibumu akan kembali besok dan saat ini ibumu sudah bisa berjalan seperti ini!" Terpaksa Rena memperagakan bagaimana orang berjalan. Senyum yang hilang beberapa hari yang lalu kini telah bersinar lagi di bibir Zela.
Gilbert yang memantau dari kamar pengawas menyunggingkan senyumnya saat melihat sang istri sudah bisa tersenyum. Itu artinya ibu Zela bisa mengalihkan kesedihannya. Tidak sia-sia jika Gilbert mempercepat kepulangan sang mertua, meskipun keadaannya belum benar-benar pulih, tetapi setidaknya sudah bisa berjalan.
__ADS_1
"Syukurlah jika Zela bahagia atas kabar ini."
Saat ini Gilbert sudah menangkap Monica dalang utama penyebab keguguran Zela. Dia tak peduli dengan siapa dia berhadapan nanti, karena saat ini dia ingin apa yang dirasakan oleh Zela juga dirasakan oleh Monica.
Didalam sebuah ruangan yang gelap tanpa penerangan, tangan dan kaki Monica diikat, sama seperti saat Monica memperlakukan Zela. Berulang kali wanita itu memohon ampun pada Gilbert, tetapi tak membuat hati Gilbert tersentuh.
"Gil, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal dan tidak tahu jika Zela sedang mengandung anakmu. Tolong lepaskan aku, Gil!" pinta Monica dengan rasa sesalnya.
Kecemburuan membutakan hatinya sehingga dia nekat untuk memberi pelajaran kepada Zela tanpa mengetahui jika Zela adalah istri Gilbert.
"Terlambat! Tapi jika kau bisa mengembalikan anakku, maka detik ini juga aku akan melepaskanmu. Tapi jika kau tidak bisa, jangan berharap jika kau akan bisa keluar dari tempat ini!" ucap Gilbert dengan sorot mata tajamnya.
"Gil!" teriak Monica.
.
.
Maafkan aku yang menghilang guys π lama menghilang lupa alurnya, mohon dimaklumi ππ
__ADS_1