Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 34 | Kekhawatiran Gilbert


__ADS_3

Moon maap Nitta batu bisa Up karena masih sibuk di RL. Terimakasih masih setia nungguin Nitta Up. Namun, sebelum itu setelah baca, tinggalin Jejaknya dong. Biar Nitta lebih semangat lagi nulisnya~


...Selamat Membaca...


Mata sebelah membuat lebar saat melihat Gilbert sedang berjalan dengan seorang wanita. Hatinya terasa sangat panas, ingin sekali detik ini dia masuk ke dalam kulkas untuk mendinginkan hatinya.


"Tuh kan ... dia itu memang pria brengsek! Kau lihat ... dia jalan bersama dengan wanita lain. Bahkan dia juga berbohong kepadamu, Ze!" Rena membuang kasar nafasnya.


Rasanya ingin sekali Zela melabrak Gilbert dan wanita itu, tetapi Zela sadar bahwa dia sama sekali tidak berhak melakukan itu semua. Meskipun keduanya sudah menikah, Zela sama sekali tidak berhak melarang Gilbert bersama dengan wanita lain. Karena semua sudah jelas tertulis di kontrak bahwa keduanya tidak boleh mencampuri urusan masing-masing.


Dada Zela yang terasa sesak memilih untuk meninggalkan tempat itu. Namun karena tidak memperhatikan jalan, Zela menabrak seseorang.


"Sorry," kata Zela.


"Zela." Suara yang sangat familiar bagi Zela. Perlahan dia mendongak untuk memastikan suara siapa. Matanya hampir lepas karena melotot dengan lebar. Sosok itu tak lain adalah Jack, mantan kekasihnya.


"Jack," seru Zela.


Rena yang berada di samping menatap Jack dengan sinis dan mengajak Zela segera pergi. Namun, tangan Jack dengan cepat menahan tangan Zela. "Tunggu, aku ingin berbicara sebentar dengan Zela."


"Kau bicara apa lagi? Bukankah hubungan kalian sudah berakhir?" sinis Rena.


"Urusanku dengan Zela, bukan denganmu!"


"Kau pikir Zela mau berbicara denganmu? Mimpi!"


Rena segera menarik tangan Zela untuk meninggalkan pusat pembelanjaan tersebut. Dia tidak ingin Zela mengingat kembali luka lama yang sudah berhasil dia balut.


"Semua pria itu sama saja, Zel! Kau tak boleh menggunakan hati saat berbicara dengan pria. Karena ludahnya itu penuh racun."


Zela menatap nanar ke arah sahabatnya. memang benar apa yang dikatakan oleh Rena, semua pria itu mulutnya berbisa. Hanya dengan iming-iming kata cinta wanita akan terasa lemah. "Kau benar, Ren. Semua pria itu sama saja, termasuk juga dengan Gilbert."


"Kau bodoh Zela jika kau telah jatuh cinta kepada Gilbert! Dia itu raja malam, di mana dia akan meniduri para wanita malam."


Zela memutuskan untuk pulang dengan sejuta rasa kecewa kepada Gilbert. Di hari pertamanya dia menjadi seorang istri, Gilbert malah pergi dengan wanita lain dengan alasan memiliki urusan yang sangat penting.


"Dari mana?" tiba-tiba suara menggelegar membuat dadanya berdebar.


Zela hampir tidak percaya dengan sosok yang dia lihat di dalam rumah. Padahal 30 menit yang lalu Zela melihatnya sedang berjalan dengan wanita lain. Namun, mengapa tiba-tiba Gilbert bisa berada di dalam rumah.

__ADS_1


"Kau darimana?" ulang Gilbert lagi.


"Aku ... aku dari mall."


"Bagus sekali kamu pergi tanpa seizin dariku. Kau bener-bener ingin melihat aku sangat berkah?" tekan Gilbert.


Zela tak bisa menjawab. Tubuhnya kaku seperti sedang tersiram air es. Padahal 1 jam yang lalu dia ingin masuk ke dalam kulkas untuk mendinginkan hatinya. Siapa yang menyangka jika saat ini padanya pun sudah terasa dingin.


"Bukankah kau juga pergi dengan seorang wanita." Zela memberanikan diri untuk membuka mulut.


Gilbert menautkan alisnya. "Apakah kau menguntit?"


Hening untuk sesaat. Entah mengapa nyali Zela menciut saat melihat bola mata Gilbert telah menyala. Sepertinya Zela telah menyinggung Gilbert.


"Jangan sampai Gil memarahiku," batin Zela


Zela yang memutar otak. Dia mencari cara agar Gilbert tidak marah dengannya. Dengan senyum smirk, Zela tiba-tiba mengaduh kesakitan sambil memegang perutnya.


"Aduh ... Gil, sakit."


Gilbert yang hampir saja memuntahkan amarahnya langsung merasa sangat panik saat melihat Zela kesakitan.


"Aduh Gil, perutku sakit," rengek Zela.


"Jadi aku harus bagaimana, Ze? Kita ke rumah sakit ya!"


Zela menggeleng, menolak ajakan Gilbert untuk ke rumah sakit. Bisa-bisa sandiwaranya malah hanya akan membuat Gilbert murka lagi.


"Tidak usah, Gil. Mungkin anakku kelelahan saja."


"Tutup mulutmu! Kau begitu percaya diri mengakui dia dan anakmu. Padahal jelas-jelas itu adalah anakku. Jika tidak ada aku maka tidak akan ada anak itu, kau mengerti?"


Gilbert langsung membawa tubuh Zela untuk ke kamar. Saat ini Gilbert juga sedang menghubungi dokter Frans untuk memeriksa Zela. Gilbert takut jika sesuatu telah terjadi kepada calon anaknya.


"Sudah tahu lelah bukannya beristirahat malah berkeliaran," ketus Gilbert dingin.


"Aku hanya menemui Rena karena aku merindukannya," kilah Zela.


Alis Gilbert menaut setelah mendengar nama Rena. Padahal sebelumnya Gilbert sudah memperingatkan Zela agar menjauhi Rena karena dia bukan wanita baik-baik. Bisa jadi Rena akan membawa Zela kedalam dunia gelap dan menjadi wanita malam. Sungguh Gilbert tidak terima.

__ADS_1


"Bukankah sudah ku katakan jangan mendekati wanita itu."


"Dia itu sahabatku. Satu-satunya teman yang aku punya. Mana bisa aku menjauhi dia! Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan seperti Rena," ucap Zela.


Gilbert menelan kasar salivanya. "Jadi kau tahu apa yang dilakukan oleh Rena selama ini?"


Zela menganguk pelan. "Iya, aku tahu. Bahkan saat Rena telah bertelanjang dan kau tak menyentuhnya."


Deg!


Jantung Gilbert seakan ingin lepas.. Wajah Gilbert telah memanas saat mendengar pengakuan Zela. Berarti selama ini Zela telah mengetahui sisi gelapnya.


"Jadi kau tahu jika aku .... "


Zela mengangguk dengan cepat. "Gil ..."


Ucapan Zela terpotong karena dokter Frans telah masuk ke kamar Zela.


"Maaf Tuan, ada sedikit kendala," kata dokter Frans yang memang mengalami keterlambatan 10 menit.


"Baguslah kau sudah datang. Cepat periksa istriku! Dia mengeluh sakit perut!" titah Gilbert dengan panik.


Dokter Frans pun segera memeriksakan keadaan Zela. Mata Zela terus tertuju pada Gilbert yang sedang khawatir.


Gil ... bisakah aku meminta kau berhenti untuk berhubungan dengan wanita malam? Aku rela menjadi penawar atas candu mu, asal kau tak mencari wanita malam untuk melampiaskan hasrat mu.


Itulah kata yang hendak Zela ucapan sebelum dokter Frans datang. Zela sangat berharap jika Gilbert bisa berubah dan melupakan sisi gelapnya.


"Jadi bagaimana, Dok?" Gilbert tak sabar untuk mendengarkan hasil pemeriksaannya.


Dengan helaan napas panjang, dokter Frans berkata, "Nyonya Muda beserta janinnya tidak apa-apa. Mungkin saja hanya kram biasa karena kelelahan. Aku akan memberikan vitamin saja," jelas dokter Frans.


"Syukurlah, kalau begitu." Gilbert saat ini bisa bernapas dengan lega.


Karena Zela tidak apa-apa, dokter Frans pun segera undur diri. "Tuan Gilbert memang sangat berlebihan. Sudah berapa kali aku tertipu olehnya," gerutu dokter Frans saat hendak meninggalkan kediaman Gilbert.


...~BERSAMBUNG~...


Lemparkan kembang kopinya dong! 😃😃

__ADS_1


__ADS_2