
"Jika masih tidak enak badan Kau tidak perlu pergi ke kantor. Hartaku tidak akan habis hanya untuk mencukupi kehidupanmu," kata Gilbert saat melihat Zela sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Apakah kau ingin menemui wanita lain lagi?" tuduh Zela. "Aku akan tetap ke kantor untuk mengawasi mu!" tambah Zela lagi.
Gilbert tersenyum tipis sambil mengenai dasinya. "Apakah kau merasa cemburu? Jangan-jangan kau sudah jatuh cinta kepadaku," tebak Gilbert.
Zela tidak tahu apakah ini adalah cinta, tetapi untuk saat ini Zela benar-benar sangat mengharapkan sosok Gilbert sebagai ayah dari janin yang dikandungnya. Apalagi keduanya sudah mengikat janji suci, sehidup semati. Sulit bagi Zela untuk menghianati sumpahnya pada Tuhan.
"Aku tidak ingin berangkat bersamamu karena tidak ingin mendengar orang-orang merendahkan aku." Zela mengalihkan arah pembicaraan. "Satu lagi, meskipun kita sudah menikah tetapi saat di kantor kau adalah bosku, jadi aku harap kau tahu batasannya."
Gilbert mengernyit. Seharusnya Gilbert yang berbicara seperti itu, bukan Zela.
Baru saja sampai di meja makan, tiba-tiba Gilbert merasa sangat mual melihat hidangan yang ada di atas meja. Semakin lama perutnya semakin bergejolak, akhirnya Gilbert memutuskan untuk pergi ke kamar mandi.
"Gil, kau kenapa?" Zela merasa sangat panik ketika melihat tubuh Gilbert sudah lemas. "Kau sakit? Aku panggilkan dokter Frans dulu, ya."
"Tidak perlu! Aku tidak apa-apa," tolak Gilbert.
"Tapi Gil ...."
"Aku bilang aku tidak apa-apa ya tidak apa-apa! Aku hanya mual saja saat melihat hidangan di atas meja. Perintahkan kepada semua pelayan untuk menyingkirkan makanan itu!" perintah Gilbert.
Tidak ada cara lain selain mengikuti apa yang dikatakan oleh Gilbert. Zela pun memerintahkan para pelayan untuk menyingkirkan semua hidangan yang ada di atas meja.
Setelah hidangan itu tak tersisa lagi di atas meja, Zela segera membawa Gilbert duduk kembali. Kali ini wajah Gilbert terlihat sangat pucat.
"Sepertinya kau sakit. Aku panggilkan dokter Frans, ya."
"Apakah aku harus mengulangi kata-kataku lagi?"
Seketika Zela hanya terdiam. "Baiklah. Jadi kau ingin sarapan apa?" tanya Zela.
"Aku ingin makan salad."
"Apakah kau sedang diet?"
Gilbert tak menjawab, tetapi sorot matanya sangat menusuk membuat Zela bergidik ngeri. Dengan helaan napas panjang Zela memanggil pelayan untuk membuatkan salad, tetapi Gilbert menolaknya.
"Aku tidak ingin salad buatan pelayan. Aku ingin kau yang membuatnya!"
"Tapi aku bukan pelayan, Gil!"
"Apakah kau lupa jika sekarang kau sudah menjadi istriku? Maka sudah kewajiban seorang istri melayani suaminya!"
Zela hanya bisa membuang kasar napas beratnya. Akhirnya dengan berat hati Zela bangkit untuk membuatkan salad.
Para pelayan merasa sangat heran dengan perubahan selera makan tuan mereka. Saat mereka ingin membantu Zela, dengan keras Gilbert melarangnya dan mengancam jika sampai ada tangan yang membantu Zela, maka Gilbert tak ingin memakannya.
"Sabar Nyonya. Tuan muda memang seperti itu. Sebenarnya dia adalah orang baik, hanya saja dia butuh kasih sayang. Hanya Nyonya Zela yang bisa menenangkan Tuan muda," jelas salah seorang pelayan.
"Iya aku tahu itu."
Tidak butuh waktu lama salad buatan Zela telah dihidangkan di depan Gilbert. Zela hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Gilbert melahap salad dengan rakus. Saat Zela hendak beranjak pergi, tangannya ditahan oleh Gilbert. "Mau kemana?"
Zela menautkankan alisnya dengan heran dan berkata, "Aku juga ingin sarapan, Gil."
"Kau tak boleh makan nasi! Kau harus makan salad ini agar anak kita juga sehat." Gilbert memaksa Zela untuk menerima suapan salad yang ada ditangannya.
"Gil, aku tidak suka!" Zela mendorong Gilbert.
"Kau harus mau, Zela!"
"Aku tidak mau!"
__ADS_1
Keduanya saling ngotot tak ada yang mau mengalah. Zela yang memang tidak menyukai salad, menutup kuat mulutnya agar salad itu tidak masuk ke dalam perutnya. Namun, Gilbert terus memaksanya.
"Stop!" Satu suara membuat keduanya saling berpandangan. Mereka tahu itu suara siapa.
"Gil, apa yang Kau lakukan?" Dengan cepat Oma menjewer telinga Gilbert.
"Aduh Oma ... sakit," pekik Gilbert.
Melihat Gilbert mendapatkan hukuman dari Oma, Zela hanya bisa menahan tawanya saja. Dalam hati dia sangat senang saat melihat Gilbert kesakitan.
"Gil hanya ingin menyuapi Zela, Oma."
"Bohong Oma! Zela tidak menyukai salad, tapi Gil memaksa Zela." Zela mengadukan perbuatan Gilbert pada Oma. Biarkan saja Gilbert mendapatkan hukuman dari sang Oma, karena hanya Oma-lah yang bisa menghukum Gilbert. Beruntunglah Oma datang tempat pada waktunya, jika tidak pasti salad itu sudah masuk ke dalam Zela.
"Baru hitungan hari kau sudah ingin menyakiti istrimu? Aku semakin tidak yakin jika kau bisa menjaga Zela dengan baik. Jika kau memang tidak bisa menjaga Zela, biarkan dia tinggal di rumah utama!"
"Oke! Gil mengaku salah. Gil hanya ingin mengerti Zela saja Oma, puas!"
"Oke, Oma maafkan. Sebagai tanda permintaan maaf, maka untuk dua hari ke depan Zela akan Oma bawa pulang ke rumah utama. Oma akan mengadakan arisan di rumah."
Oma tidak butuh persetujuan dari Gilbert. Meskipun Gilbert tidak setuju, Oma akan tetap membawa Zela pulang ke rumah utama.
Karena kehadiran Oma yang tiba-tiba dan Gilbert harus di sidang, maka keduanya pun harus terlambat untuk berangkat ke kantor.
"Gil, aku tidak mau satu mobil denganmu. Aku ingin diantar sopir saja," kata Zela saat hendak berangkat.
"Itu hanya akan memakan waktu saja. sudahlah ikut saja denganku. Jika ada yang macam-macam, tinggal pencet saja dia!"
Pada akhirnya Zela pun harus ikut satu mobil dengan Gilbert. Sebenarnya Zela merasa sangat senang saat berada di dekat Gilbert, tapi hatinya belum kuat untuk menghadapi para deterjen. Perbedaan keduanya bak langit dan bumi. Zela tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Gilbert.
*
Zela tak merasa heran jika sebagian karyawan melihatnya dengan satu mata, mungkin saja satu matanya sedang sakit. Dia tidak ambil pusing dengan ucapan yang menusuk ke telinganya. Sudah menjadi makanannya setiap hari jika dia diperbincangkan oleh para karyawan lainnya, terutama wanita yang bernama Selly. Entah salah apa yang telah dibuat oleh Zela sehingga wanita itu membenci Zela terlalu dalam.
"Tuan, ada seseorang yang menunggumu," datar Kimi saat melihat Gilbert hendak memasuki lift.
Mata Kimi melirik ke arah Zela. Lidah Kimi kelu saat ingin mengucapkan nama tersebut. Hal itu membuat Gilbert paham siapa yang dimaksud oleh Kimi.
"Dimana dia?" tanya Gilbert dengan nada dingin.
"Ada diruang kerjamu," kata Kimi.
"Suruh dia pergi! Katakan jika aku tidak datang! Ze, ayo kita pergi saja." Tangan Gilbert langsung menarik tangan Zela untuk mengikuti langkahnya.
Kimi hanya bisa mendengus pelan. Dia tahu Gilbert tidak akan pernah untuk menemui wanita yang sudah menghancurkan hidupnya.
...~BERSAMBUNG~...
Mau bilang makasih aja buat kalian yang masih mau menantikan cerita ini. Tanpa kalian, mungkin aku sudah mundur 🤧
Oh iya, selagi nunggu aku up lagi mampir dulu ke novel Mak Teh Ijo ya.
Judul Novel Menikahi Ketua Osis
CUPLIKAN BAB :
Setiap pagi Hazel bagaikan seorang satpam yang harus berdiri disamping gerbang demi menangkap tikus nakal yang selalu telat.
"Rin, bangun! Bukankah kamu harus berangkat ke sekolah. Ini sudah hampir pukul 7 pagi." Suara Vie sang bunda sudah berulang kali membangunkan anak bungsunya. Anak yang selalu dimanja oleh ayahnya, sehingga tumbuh menjadi gadis yang manja.
Rinjani langsung menyingkapkan selimut yang membungkus tubuhnya. "Pukul 7." Rinjani membeo. "Mati gue! Mana hari senin lagi. Aaaaa ...." Teriakan Rinjani seakan menggoncang rumahnya.
"Awas minggir, Kak." Rinjani menyenggol tubuh kakaknya yang sedang menapaki anak tangga.
__ADS_1
Tidak ada lagi waktu Rinjani untuk sarapan. Dia hanya menyomot roti yang sudah ada di piringnya dan menyeruput susunya.
Dirga dan Vie hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan anaknya selalu saja terburu-buru setiap paginya.
"Pelan-pelan, Nak."
"Gak bisa, Yah. Ini bentar lagi udah telat. Kak Arga, ayo!"
Arga yang masih menyantap sarapannya tak bergeming saat sang adik sudah sangat panik. Bahkan saat memakai sepatunya pun juga sambil berlarian.
"Kak Arga, ayo!" ulang Rinjani lagi.
"Kakak lagi sarapan, Rin. Suruh minta pak Sam buat antar kamu!"
"Gak mau! Aku maunya dianterin sama kak Arga. Si ketos killer itu pasti udah nungguin aku di depan pintu, kak." Tangan Rinjani menarik paksa lengan Arga untuk segera berangkat.
Sepeninggal kedua anaknya Vie menatap Dirga yang sedang menyesap kopinya. Sadar akan tatapan sang istri, Dirga pun bertanya, "Ada apa? kurang jatahnya?"
"Lihat itu anak kamu, Mas! Itu akibat dari cara didikan mu yang berlebihan!" Vie masih menatap Dirga dengan tatapan maut?
"Berlebihan apanya? Rinjani itu masih dalam proses pengembangan diri. Wajar saja jika dia seperti itu. Coba ingat-ingat, dulu kamu gimana?"
"Terus saja kamu belain anak kamu biar tambah manja!" Vie yang merasa kesal memilih meninggalkan suaminya.
"Salah lagi, salah lagi," gerutu Dirga sambil menyeruput tandas kopinya.
Arga yang mengendarai mobilnya terus dipaksa untuk melakukan lebih cepat lagi. Waktunya tinggal 5 menit lagi, belum lagi dia harus membuat barisan sebelum upacara.
"Lebih cepat lagi, kak. Bisa-bisa aku beneran di jemur sama ketos killer itu, kak," rengek Rinjani.
Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya. Setiap hari sang adik harus terlambat akibat malas bangun pagi. "Ya, tinggal kasih kiss aja, pasti selesai."
Bola mata Rinjani memutar saat mendengarkan saran dari kakaknya. Menurutnya itu bukan saran, tapi salah satu proses menuju neraka. "Kakak gila! Yang ada setelah memberikan kiss, aku langsung dibawa ke neraka! Heran deh, si ketos killer itu bawaan sensi mulu sama aku, kak."
"Menurut kakak itu hal yang wajar, kalian kan dah tunangan. Jadi sah-sah aja kalau kamu sosor dia."
"Stop, Kak! Adik kakak itu aku atau si killer itu?"
Tak ada lagi percakapan keduanya hingga mobil sampai depan sebuah gerbang yang sudah hendak di tutup. "Kak, ayo bantuin aku biar gak kena tilang sama ketos killer itu, kak."
Arga membuang napas beratnya. Setelah melepaskan safety belt, Arga malah menyuruh Rinjani untuk segera turun dari mobilnya. "Untuk kali ini, kakak minta maaf gak bisa antarin kamu sampai sana karena kakak ada rapat penting. Dah sana ... selamat berjuang adikku sayang."
Rinjani mengerucut bibirnya dengan rasa kesalnya. Percuma saja dia membawa kakaknya jika tidak bisa berbuat apa-apa. Biasanya jika Rinjani diantar oleh Arga, maka Rinjani bisa mendapatkan kortingan hukuman. Tapi pagi ini ....
"Awas kamu, kak!" Rinjani menutup kasar pintu mobil dan menendang ban mobilnya.
"Selamat berjuang. Cepatlah, lihat itu punya hampir tertutup!" teriak Arga dari dalam mobil.
"Sial!" Rinjani segera berlari mendapatkan kesempatan untuk masuk.
Husss .... bagaikan angin yang sedang melintas, Rinjani berhasil melewati celah yang masih tersisa. Deru napas yang naik turun. "Aman," ujarnya.
"Apa yang aman?" Bagaikan suara malaikat yang hendak menyabut nyawa, suara Hazel mampu membuat Rinjani bergidik merinding.
"6.59." ujarnya.
Rinjani mendongak. "Belum telat 'kan?"
"Segera masuk ke barisan! Jangan lupa abis upacara langsung ke ruangan osis!"
"Tapi 'kan gue gak telat, Zel!" protes Rinjani. Namun, Hazel sudah berlalu meninggalkan Rinjani yang masih memanggil namanya.
"Dih, nyebelin banget sih! Dasar ketos killer!" Rinjani menghentak kakinya dengan kesal.
__ADS_1
...~~~...
MAMPIR YA!