Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 29 | Sedang Tidak Baik-Baik Saja


__ADS_3

Seperti tersiram guyuran air es, tubuh Gilbert kaku dan membeku. Sebuah kenyataan yang tak pernah terpikirkan dalam sejarah hidupnya jika benihnya akan berbuah di rahim seorang wanita. Selama ini Gilbert selalu menggunakan pengaman saat sedang menjelajahi para wanita malam. Namun, karena kebodohannya malam itu, Gilbert melakukannya tanpa pengamanan apapun.


"Tidak mungkin! Aku hanya satu kali menyentuhnya. Bagaimana bisa langsung berbuah," sanggah Gilbert yang masih tak percaya.


"Percuma saja kau sekolah tinggi jika otakmu hanya sejengkal! Meskipun hanya satu kali jika bibit yang kau semai adalah bibit unggulan, maka akan berbuah. Dasar bodoh," cibir Oma.


Zela tak berani untuk menatap siapapun yang ada di dalam kamarnya karena masih shock. Bahkan dia juga tak menjawab apa yang sedang dokter Frans tanyakan.


"Sepertinya Nona Zela sedang shock. Sebaiknya kita beri ruang untuknya sendiri terlebih dahulu," pesan dokter Frans sebelum meninggalkan kamar Zela. "Saya akan tulis resep vitamin yang harus ditebus untuk mengurangi rasa mualnya," lanjut dokter Frans lagi.


Oma mengangguk sambil mengikuti langkah dokter Frans keluar. "Kau tenangkan Zela. Semua itu karena Pytonmu yang tak berakhlak!" bisik Oma tepat disamping Gilbert.


Setelah hanya ada dua orang yang saling membisu, Gilbert tidak tahu apa yang akan dia katakan kepada Zela. Karena semua terjadi tanpa keinginannya. Baru saja keduanya saling bercumbu satu jam yang lalu, kini keduanya dalam situasi canggung.


"Apakah kau baik-baik saja?" Gilbert berusaha untuk mencairkan suasana, meskipun pada dasarnya Gilbert tahu jika Zela sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Zela melirik kearah pria penanam benih di rahimnya. Antara kesal dan kecewa, Zela membuka mulutnya. "Menurutmu?" ketus Zela.


"Menurutku kau sedang tidak baik-baik," timpal Gilbert.


Zela melirik Gilbert dengan rasa kesal. "Lalu mengapa kau bertanya?"


Gilbert tidak tahu lagi apa yang akan dia bahas. Untuk meminta maaf saja bibir kelu karena Gilbert bukanlah tipe pria yang mau mengucapkan kata maaf.


"Mengenai malam itu ... aku ...."


Gilbert menyugar kasar rambutnya. "Bisakah kau seperti wanita pada umumnya yang lemah lembut? Saat seperti ini saja kau sama sekali tak mengiba kepadaku untuk pertanggungjawaban. Kau sebenarnya wanita seperti apa?"


Zela membuang kasar napas sesak yang bersarang di dadanya. Gilbert tetaplah pria angkuh yang tak pernah memikirkan perasaan orang lain. "Untuk apa aku mengiba jika tanpa aku minta pun kau sendiri yang akan menikahi ku." Zela tersenyum sinis saat melihat wajah Gilbert tanpa rasa penyesalan.


"Kau pikir aku bahagia mengandung benihmu? Jika bisa meminta aku enggan untuk mengandung benih dari pria egois yang selalu menjelajahi setiap wanita malam."

__ADS_1


Telinga Gilbert tiba-tiba memanas saat mendengarkan ucapan Zela. Entah mengapa Gilbert tidak suka mendengarkan ucapan Zela yang terasa menusuk dadanya. "Kau harusnya bersyukur bisa mengandung benih ku. Wanita mana yang tak menginginkan untuk mengandung benih ku? Mereka rela menyerahkan tubuhnya agar bisa mengandung benihku. Kau wanita yang tak bisa bersyukur!"


Tidak akan ada habisnya untuk meladeni seorang Gilbert. Zela akhirnya memilih untuk memejamkan matanya. "Kau ingin tidur? Bukankah wanita hamil itu tidak boleh tidur di pagi hari?" celoteh Gilbert.


Dengan mata yang memejamkan, Zela menyahuti. "Kau tahu dari mana? Keluar sana, muak aku liat wajahmu!" seru Zela.


****


Hampir satu hari Zela mengurung dirinya di dalam kamar. Bahkan dia juga enggan untuk mengisi perutnya.


Karena Gilbert harus bertanggung jawab dengan tugas kantornya, dia tidak bisa menemani Zela. Tak di pungkiri ada sedikit celah rasa kebahagiaan saat mengetahui jika Zela sedang mengandung benihnya. Bukan hanya Gilbert saja yang turut bahagia, Oma adalah orang pertama yang sangat bahagia atas berita kehamilan Zela. Berharap dengan adanya sebuah benih yang telah tertanam, hubungan Gilbert dan Zela semakin membaik. Harapan Oma memanglah ingin segera memiliki cicit sebelum malaikat maut menjemputnya.


"Tidak ku sangka jika Tuhan telah menggerakkan hati cucu kurang ajar itu untuk melakukan penanaman lebih awak. Tidak sia-sia aku mencari keberadaan Zela. Zela jika kau tahu kenyataan yang sebenarnya, pasti kau tak akan memaafkan Oma mau Gil, tapi dengan cara seperti ini, Oma berharap jika Gilbert bisa bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, sungguh dia tak sengaja." Oma hanya bisa berbicara pada pantulan dirinya didepan cermin besar.


"Gil, maafkan Oma yang menutupi kenyataan ini. Oma tidak ingin kau merasa bersalah seumur hidupmu karena telah menghancurkan hidup seseorang. Tidak hanya kehilangan sebuh nyawa dan kelumpuhan, tetapi kau tak pernah tau jika perusahaannya juga ikut hancur saat itu. Setelah kau menikah, kau harus bisa merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik Zela. Oma hanya berharap kau hidup bahagia. Sudah cukup penderitaanmu selama ini. Cukup Oma saja yang mengetahui rahasia malam itu." Oma menyeka air matanya yang menetes.

__ADS_1


__ADS_2