
Tidur nyenyaknya harus terganggu mana kala isi dalam perut telah bergejolak hebat. Zela terbangun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan rasa yang bergejolak.
"Hueek." Berulang kali Zela memuntahkan cairan bening hingga tubuhnya terasa lemas. Zela mengatur napasnya agar bisa tenang, tetapi rasa itu lagi-lagi harus muncul kembali.
Zela yang sudah tidak sanggup untuk berdiri, seketika jatuh, luruh ke lantai.
Gilbert yang terbangun akibat suara Zela yang menggangu tidurnya segera menuju ke kamar mandi. Melihat Zela yang sudah bersandar di lantai, Gilbert seketika merasa sangat panik. "Kau kenapa? Jangan menakuti ku!"
Zela masih bergeming. Bahkan hanya untuk bernapas saja terasa berat untuk Zela. "Kau kenapa?" ulang Gilbert lagi. Karena Zela tak menjawab, Gilbert segera mengangkat tubuh Zela dan membawa untuk ke tempat tidur.
"Makanya jangan ngeluyur malam-malam. Ini akibatnya kalau gak nurut!"
Tangan Gilbert segera mengangkat gagang telepon yang ada diatas nakas. "Bawakan air hangat dan Paracetamol!" ucapan tanpa ingin mendengarkan jawaban pelayan yang ada di lantai bawah.
Wajah Zela terlihat sangat pucat. Relung hati Gilbert seakan teriris saat mengingat jika malam tadi Zela tidur di bawah. Meskipun sudah menggunakan sebuah alas tetap saja terasa dingin. Itulah hukum untuk Zela yang telah nekat membohongi dirinya. Beruntung saja Gilbert masih bisa untuk menahan diri tidak menyentuh Zela.
Sebuah ketukan pintu membuat Gilbert mengalihkan pandangannya. Entah sejak kapan Gilbert merasa peduli dengan Zela. "Apakah ini masih hangat?" tanya Gilbert pada salah satu pelayan yang membawa nampan. "Masih, Tuan," jawabnya.
"Mana Paracetamolnya?"
Salah seorang pelayan maju dan langsung menyodorkan sebuah pil berupa tablet.
__ADS_1
"Kau harus minum ini agar tidak merepotkan," kata Gilbert.
"Tapi aku tidak demam. Aku hanya mual. Bisakah diganti?" Alis Zela menaut sering dengan penawarannya.
"Pelayan, ambilkan obat mual!" titah Gilbert pada pelayan. "Baik, Tuan." Salah seorang bergegas keluar untuk mengambil apa yang diinginkan oleh tuannya.
"Jika setelah ini kau masih merasa mual, aku akan panggilkan dokter Frans," datar Gilbert tanpa ekspresi.
Setelah minum air hangat, rasa mual yang dialami oleh Zela sudah sedikit berkurang. Bahkan sedikit demi sedikit sudah tak terasa mual. Hanya saja saat ini hidupnya lebih sensitif dengan aroma yang dia tangkap.
"Kenapa lagi?" tanya Gilbert saat Zela hanya mengaduk-aduk makanya.
"Aku tidak selera."
Zela melihat kembali ke piringnya. Memang betul itu adalah makanan kesukaannya, tetapi entah mengapa saat ini Zelq tak tertarik untuk menelan makanan tersebut.
"Makanlah! Hari ini aku ada rapat dengan petinggi kantor! Kau jangan sampai membuat waktuku habis."
"Bisakah pelayan memasakkan omelette?"
Gilbert hanya membuang kasar napasnya, sebelum pada akhirnya menyuruh salah satu pelayan untuk memasakkan omelette.
__ADS_1
"Dasar merepotkan!" cibir Gilbert.
****
Pemandangan yang tak asing lagi jika pasang mata tak menyukai dengan kedekatan Zela yang selalu menempel pada bosnya. Semakin lama bisikan-bisikan itu hampir sangat terdengar di telinganya, bahkan Gilbert sampai berhenti untuk menatap mereka satu persatu. Hanya dengan tatapan matanya ssja, seketika bisa membuat para karyawan membisu.
"Jika masih ingin bekerja, jaga mulut dengan baik!"
Satu ancam yang mampu menggegerkan para karyawan julid. Ternyata tidak sampai diitu saja, saat Zela singgah ke pantri semua menatapnya dengan penuh tidaksuka. Entah kesalahan apa yang telah Zela perbuat hingga membuat para karyawan membenci dirinya.
"Lihatlah wanita yang sok polos ini. Demi bisa naik ke ranjang bos, dia rela bekerja untuk menjadi sekertarisnya. Padahal jika dilihat, dia tidak memiliki kemampuan apa-apa," kata seorang wanita yang sudah sangat Zela hafal namanya. "Dia hanya mempunyai kemampuan diatas ranjang," sambungnya lagi diikuti dengan gelak tawa para rekannya.
Zela tak menanggapinya hingga akhirnya mata Zela membulat saat melihat fotonya malam tadi yang sedang berada di club malam. Tapi sayangnya foto itu telah diedit dan sandingkan dengan pria tua.
"Lihatlah, apakah kau masih mempunyai malu saat bos Gilbert tahu jika wanita simpanan memiliki pria lain yang tak sebanding dengannya? Siap-siap saja kau angkat kaki dari perusahaan ini."
Zela tak bersuara, bahkan dia mengabaikan foto yang tidak benar itu. "Apakah disini ada kumbang yang sedang ingin menjatuhkanku? Aku salah apa?" Zela tak hentinya memikirkan para karyawan yang tak menyukai dirinya.
Meskipun sudah tidur dengan baik, rasa kantuk itu menyerang hebat. Meskipun Zela sudah menyeduh kopi agar matanya tetap bisa bertahan, tetapi tetap saja Zela terus menguap, padahal hari masih pukul 9 pagi.
"Kenapa aku ngantuk berat?" Zela menguap sambil menutup mulutnya. "Mana lapar lagi," keluhnya lagi.
__ADS_1
Tangan Zela segera mengambil ponselnya dan segera mengulir-gulirkan layar ponsel. Beberapa makanan telah Zela pesan, berharap setelah ini dia tidak merasakan kantuk dan lapar lagi.
"Untung Gilbert sedang rapat." Zela tertawa bahagia saat dia memiliki waktu luang untuk sedikit bersantai.