Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 41| Durian Muda


__ADS_3

Zela tidak tahu apa yang sudah terjadi di kantornya sehingga tatapan karyawan itu semakin menusuk ke arahnya saat dia baru saja memasuki kantor. Zela ingin acuh, tapi langkahnya segera ditahan oleh Sely. Wanita yang memang tidak menyukai dirinya.


"Masih memiliki muka untuk datang ke kantor? Bukankah kau sudah mendapatkan ranjangnya bos besar? Lalu untuk apa kau masih bersusah payah untuk bekerja? Apakah uang yang diberikan oleh bos besar masih kurang?" sinis Sely penuh kebencian.


"Maaf aku tidak ada urusan denganmu, minggirlah!"


"Waoow, hebat sekali kau mengusirku! Harusnya Kau yang minggir dari hadapanku. Aku peringatkan agar kau segera angkat kaki dari perusahaan ini, sebelum kau dipermalukan. Asal kau tahu kekasih bos besar saat ini sudah kembali, jadi kau siap-siap saja untuk menangis di pojokan."


Sely terkekeh pelan. dia sudah tidak sabar untuk melihat Zela meninggalkan perusahaan ini. Cepat atau lambat Zela pasti akan ditendang dari perusahaan, karena saat ini Sely sudah menyusun rencananya dengan matang.


Zela acuh. dia memilih meninggalkan Sely dengan segala pemikirannya. "Dia pikir dia siapa bisa mengusirku. Takkan ada yang bisa mengusirku karena saat ini aku adalah nyonya pemilik perusahaan ini. yang ada Aku yang akan menendang kalian satu persatu." Zela ngobatin sambil mendumal dalam hatinya.


Tiba-tiba hatinya terasa nyeri saat mengulang kata-kata Sely, bahwa saat ini kekasih Gilbert telah kembali. Bukankah selama ini Gilbert tidak memiliki seorang kekasih? Jika pun ada itu hanyalah mantan yang telah dia lupakan sejak lama.


"Berarti saat ini Monica telah kembali. Aku tidak yakin jika wanita itu bisa merebut hati Gilbert lagi. Jikapun bisa, Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menjadi garda terdepan untuk menghalangi keduanya bersatu kembali."


Selama melakukan pekerjaannya Zela merasa tak bisa fokus. Bayangan Gilbert kembali lagi kepada Monica terus menghantui pikirannya. Gilbert yang bisa melihat Zela dari kaca pembatas, merasa heran mengapa wanita itu terlihat sangat gundah. Dia ingin menghampiri, akan tetapi saat ini pekerjaannya benar-benar sangat menumpuk. Akhirnya Gilbert memutuskan untuk menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, setelah itu dia akan menemui Zela.


"Kimi, bisakah saat ini kau ke ruanganku secepatnya!" Gilbert memanggil Kimi melalui telepon.


Kimi yang ada di ruangannya segera bergegas menuju ruangan Gilbert. Tak lama kemudian sosok Kimi sudah berdiri di depan Gilbert. "Ada apa?" tanya Kimi.


"Aku ingin kau carikan aku durian muda, secepatnya! Aku ingin sekali mau makan buah itu!" perintah Gilbert.

__ADS_1


Kimi membulatkan matanya dengan alis yang menautkan. Dimana Kimi bisa menemukan durian muda, sementara yang sering dijual hanyalah durian yang telah masak. Itupun sulit untuk menemukan buah tersebut. lalu kimi harus mencari durian muda itu ke mana?


"Mangga muda atau durian muda, Gil?" tanya Kimi untuk meyakinkan pendengarannya.


"Apakah kurang jelas aku mengatakan Durian muda?"


"Tapi aku harus mencarinya kemana? sedangkan durian yang biasa kita makan saja sangat sulit untuk menemukan, apalagi ini durian muda?" protes Kimi.


"Aku tidak tahu, yang aku tahu saat ini aku menginginkan buah itu. Kamu kerahkan saja semua anak buah untuk mencari durian muda. Jika sampai tidak bisa menemukan, aku akan potong persenan kalian semua!" ancam Gilbert.


Kimi hanya bisa menelan kasar ludahnya. kini tidak habis pikir dengan permintaan konyol dari Gilbert. "Baiklah aku akan mencarikan untukmu."


Kimi berlalu meninggalkan ruangan Gilbert dengan lesu. Seumur dirinya hidup, Kimi belum pernah menemukan seorang penjual durian muda. Andaikan saja Gilbert meminta mangga muda, Kimi bisa mencarikannya. Namun ini Durian muda.


"Kimi, kau kenapa?" tiba-tiba dia mendengar suara Zela di depannya.


"Kau kenapa? Apakah Gilbert sudah melakukan hal buruk kepadamu?"


Kimi memberikan anggukan pelan. "Iya Nyonya. Gilbert menyuruhku untuk mencarikan durian muda. lalu di mana aku bisa menemukan durian muda itu?" Kimi mengekspresikan wajahnya yang hendak menangis.


"Apa?" Zela menggelengkan kepalanya pelan.


"Kau tenang saja aku akan berbicara sebentar dengannya," lanjut Zela lagi.

__ADS_1


"Percuma saja Nyonya. Karena permintaan seseorang yang sedang mengidam itu tidak bisa di nego. Bahkan jika sampai tidak keturutan, maka kelak anaknya akan ileran."


"Apa?" Zela tersentak kembali. "Ngidam macam apa itu! Aku saja yang hamil tidak menginginkan apa-apa."


"Itu karena, ngidam mu telah diambil alih oleh Gilbert. Maka bersyukurlah jika kau tidak mengalami morning sickness dan ngidam, karena itu rasanya sangat menyiksa. Sepertinya anakmu benar-benar ingin membalas dendam terhadap dady-nya. Sudahlah aku pergi dulu." Akhirnya Kimi berlalu meninggalkan Zela yang hendak masuk ke dalam ruangan Gilbert.


"Dasar permintaan konyol!" Zela akhirnya masuk kedalam ruangan Gilbert.


Belum sempat Zela menutup pintu dengan rapat, Gilbert sudah menyambut kedatangan Zela.


"Ada apa? Apakah kau sudah merindukanku? kemarilah, ada yang ingin ku tanyakan kepadamu!"


"kau jangan sembarangan berbicara Gil, saat ini kita berada di kantor. Aku tidak mau pusing dengan tanggapan para karyawan. Aku ke sini hanya membutuhkan tanda," kata Zela sambil menyodorkan sebuah map ke hadapan Gilbert.


"Apakah hanya tanda tanganku saja? Kau tidak menginginkan sesuatu lebih dariku? Ciuman atau pelukan? Kemarilah, aku ingin berbicara sebentar dengan anakku." Gilbert memberikan isyarat agar Zela mendekat.


Zela pun mendekat ke samping Gilbert. Dengan sentuhan lembut, Gilbert mengelus Zela yang masih datar. "Bisakah kau tidak menyiksaku? Oke, aku bersalah telah mencetak mu lebih awal. Tapi tolong berhentilah untuk menyiksaku setiap pagi. Aku hampir mati jika setiap hari harus mengalami mual dan muntah. Kau mengerti kan?" Setelah mengelus Zela, Gilbert memberikan kecu.pan singkat.


Mata keduanya saling bertemu. Gilbert tak kuasa untuk menahan gejolak hatinya. Dengan pelan dia mendekatkan wajahnya ke arah Zela. Bahkan saat ini keduanya sama-sama bisa merasakan hembusan nafas yang membuat getaran aneh dalam tubuh mereka. Gilbert mencoba untuk menyentuh bibir Zela. Dengan lembut Gilbert menye.sap bibir Zela. Tak ada perlawanan dari Zela, dia hanya menutup matanya. Melihat sinyal yang bagus, Gilbert terus memperdalam ciuman. Tangan Gilbert pun memegang tengkuk Zela agar lebih leluasa dia menjelajah dalam rongga mulut Zela. Decakan pun menggema di ruangan. Satu kancing kemeja Zela telah berhasil dibuka oleh Gilbert. Saat tangan Gilbert mulai nakal, Gilbert segera mendorong tubuh Gilbert dengan napas tersengal.


"Kau jangan kelewat batas! Ini kantor!" tegur Zela.


Gilbert tertawa pelan. Ini adalah pertama kalinya Zela mau membalas permainan di rongga mulut. "Baiklah, berarti jika di rumah aku boleh untuk melewati batasnya?" Gilbert tersenyum smirk.

__ADS_1


Belum juga Zela memberikan jawaban, pintu ruangan Gilbert telah dibuka seseorang. Dari balik pintu Monica menatap kedua dengan tatapan tajam. "Apa yang kalian lakukan?"


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2