
Hanya karena sebuah foto yang jelas-jelas hanya di rekayasa, Gilbert sampai mengacaukan semuanya. Bahkan dia memilih untuk pulang lebih awal. Pikirannya saat ini benar-benar sangat kacau. Bahkan Gilbert juga bertambah marah kepada Zela, meskipun itu bukan salah Zela.
Zela segera menyuruh office boy untuk membersihkan ruangan Gilbert yang sudah hancur berantakan. Zela pun bergidik ngeri bagaimana kelak jika dirinya sudah jatuh dalam genggaman Gilbert. Pasti tidak akan mudah untuk keluar.
Hampir semua karyawan melihat foto Zela dengan pria tua. Mereka terus menertawakan jika Zela adalah wanita murahan yang menginginkan ranjang bos mereka saja.
Diujung sebuah meja, dengan senyum yang menghias luas di garis bibirnya, Selly merasa sangat puas telah menciptakan sebuah drama. Dia memang sengaja mengganti foto Gilbert menjadi sosok pria tua agar semua orang mempercayainya. Selly selalu menabur benih kebencian. Sudah bermacam cara dia lakukan untuk menjatuhkan Zela, tetapi selalu saja gagal. Dalam kesempatan ini, Selly tidak akan diam begitu saja. Apalagi saat semua karyawan mengetahui jika Zela bukanlah wanita baik-baik. Dia hanya menginginkan ranjang bos mereka.
"Sekarang kau tau akibatnya, bukan? Saat ini semua orang akan percaya dengan foto itu. Tunggu sebentar lagi, kau pasti akan jatuh." Selly tersenyum smirk sambil melihat foto yang ada di ponselnya.
***
"Nona Zela, nyonya besar menyuruhmu untuk singgah ke rumah utama," kata Kimi yang telah berada di depan Zela.
__ADS_1
Zela menautkan alisnya. "Ada apa?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Hanya itu saja yang di pesankan oleh nyonya besar."
"Oke, tapi aku akan izin kepada Gilbert terlebih dahulu. Aku tidak mau membuat kesalahan yang kedua kalinya."
Zela menepuk jidatnya saat mengingat jika ponsel Gilbert sudah rusak. Lalu bagaimana dia akan menghubungi Gilbert. "Ah, sial. Mengapa aku tak mengingat jika ponsel Gilbert sudah hancur. Mana Kimi sudah pergi," rutuk Zela di dalam ruangan.
Dua pilihan yang sangat berat. Baru juga malam tadi dia membuat kesalahan yang mengakibatkan Gilbert marah besar dan tidak mungkin jika Zela mengulangi kesalahannya. Zela sudah berjanji akan meminta izin saat pergi kemanapun. Namun, satu sisi lain hati Zela berbisik untuk datang saja ke rumah utama tanpa meminta izin kepada Gilbert.
"Tidak! Aku tidak ingin mengecewakan Gilbert!" Kini kata hati itu telah mantap. Zela segera menyambar tas dan keluarga dari ruangan.
Sesampainya di lantai dasar, tak hentinya semua mata memandangi Zela dengan tatapan tajam. "Lihatlah wanita seperti itu masih memiliki wajah untuk tetap berada di perusahaan ini. Apakah dia telah berwajah tembok," ujar salah seorang yang menatap Zela dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Zela memejamkan matanya, setelah kata-kata itu menusuk ke telinganya. Namun, Zela tak ingin membuat keributan kepada wanita yang sama.
"Heran. Maunya apa sih, wanita itu?" gerutu Zela pelan.
Sesampainya di rumah Gilbert, Zela segera mencari keberadaan Gilbert. Semua ruangan telah dicari, tetapi tak ada tanda-tanda Gilbert bernapas didalamnya. "Kemana perginya pria itu," batin Zela.
Tak sampai disitu, Zela turun lagi ke lantai bawah untuk menanyakan kepada pelayan dimana Gilbert saat ini. Beberapa pelayan tidak tahu kemana tuannya pergi, tetapi mereka mengatakan jika Gilbert baru saja keluar rumah.
Bagi Zela, kemanapun Gilbert pergi tak menjadi bahan pikirannya, karena dia sudah tahu jika pekerjaan Gilbert akan menyita waktunya. Namun, untuk kali ini Zela sangat khawatir dengan kepergian Gilbert, karena Gilbert masih dalam keadaan marah.
"Semoga pria itu masih berpikir waras." Hanya itu permintaan Zela sebelum kembali ke kamar.
Tidak ada pilihan lainnya, Zela tidak bisa meminta izin kepada Gilbert, tetapi dia meninggalkan sebuah pesan di sebuah kertas, berharap saat Gilbert pulang dia akan membaca suratnya, dari pada dia terkena hukuman dan masuk angin lagi, pikirnya.
__ADS_1
Tidak hanya pesan diatas kertas, Zela juga berpesan kepada beberapa pelayan jika saat Gilbert pulang dan mencarinya, dia sedang berada di rumah utama atas undangan dari Oma.
Dentuman musik DJ hampir memekakkan telinga. Sudah lama Gilbert tak menikmati alunan musik serta minum yang berbau alkohol. Semenjak kehadiran Zela, seolah Gilbert melupakan kesenangan selama ini. Dan malam ini Gilbert mencoba untuk eksis kembali ditempatnya semula, berharap bisa membuang rasa penat yang bersarang dipikirkannya.