Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 42 | Aku Mencintaimu


__ADS_3

Zela dan Gilbert terbelalak saat lihat kemunculan Monica yang secara. Bahkan saat ini dengan cepat dengan istilah merapikan kancing bajunya kembali.


"Siapa yang mengizinkan kau untuk datang ke sini?" tanya Gilbert dingin.


Monica tersenyum ketika melihat apa yang baru saja dia. Ternyata benar apa yang diucapkan oleh Selly jika saat ini ada wanita malam yang berpura-pura menjadi seorang sekretaris. Tak perlu meminta penjelasan, Monica tahu apa yang telah mereka lakukan.


"Gil, aku datang untuk meminta maaf. Saat itu aku khilaf. Please, beri satu kesempatan untukku. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi, Gil." Monica mengiba.


"Stop! Jangan mendekat! Pergi kau dari ruanganku sekarang juga!" usir Gilbert dengan nada membentak.


"Gil ... kau ...." Monica menutup mulutnya. Dia tidak percaya jika Gilbert yang dia kenal mampu membentuknya dengan kasar. "Oke, aku keluar." Meskipun Monica telah meninggalkan ruangan Gilbert, tetapi hatinya merasa tidak terima atas perlakuan Gilbert. Terlebih saat ini ada sosok wanita lain disampingnya. "Kau pikir aku akan terima dengan kekalahan ku? Tidak Gil. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu lagi." Monica mengepalkan tangannya sebelum dia masuk ke dalam sebuah lift.


Zela membuang napas kasarnya. Dia tidak habis pikir jika Gilbert mencumbunya di kantor. Padahal sudah sangat jelas Zela memberikan peringatan kepada Gilbert agar bisa menjaga sikapnya.


"Haruskah aku mengulanginya lagi?" Gilbert kembali menatap bibir Zela yang masih basah. Bahkan warna lipstiknya juga sudah memudar.


"Sudahlah, cepat tanda tangani file ini. semakin lama berada di dalam ruangan mu rasanya semakin panas," kata Zela.


"Baiklah, tapi aku akan menagih ucapanmu tadi." Gilbert segera menandatangani beberapa file yang telah berada di atas. istilah hanya bisa menautkan alisnya. "Ucapanku," cicitnya.


"Kau tadi sempat mengatakan jika aku tidak boleh melakukannya di sini, berarti jika aku melakukannya di rumah kau tidak merasa keberatan, bukan? Aku akan menunggumu nanti." Gilbert mengedipkan satu matanya sambil menyerahkan map yang sudah dia tandatangani.


Dada Zela tak hentinya bergerumuh. Desiran aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. Tak intinya Zela memegang bibir yang beberapa menit lalu dicumbu oleh Gilbert. Namun, detik kemudian Zela menahan dada yang tiba-tiba terasa sesak saat mengingat sosok wanita yang masuk itu saja.


Ternyata benar saat ini mau nikah telah kembali. Bahkan tanpa rasa malu wanita itu memunculkan wajahnya di depan Gilbert, sungguh wanita yang tak memiliki orang malu.


"Dia pikir dia siapa? Setelah berkhianat lalu pergi begitu saja dan tiba-tiba kembali dengan mengiba, meminta satu kesempatan lagi. Dia pikir Gilbert mau menerimanya lagi? Jangan mimpi terlalu tinggi, karena saat ini Gilbert sudah menikah." Zela berbicara sendiri di dalam ruangannya.

__ADS_1


Hari ini pekerjaan Zela benar-benar sangat menumpuk, setelah beberapa hari dia tidak masuk ke kantor. Meskipun sebagian sudah dikerjakan oleh Kimi, tetapi nyatanya tidak terselesaikan juga. Hingga waktu istirahat tiba Zela masih berkutat di depan laptopnya.


"Kau tidak ingin makan siang?" suara Gilbert mengejutkan Zela yang sedang fokus.


"Aku tidak lapar," ucap Zela yang tetap fokus pada layar laptop. Hal itu membuat Gilbert merasa kesal dan menutup paksa laptop milik Zela.


"Aku tidak mengizinkanmu bekerja jika kau mengabaikan makan siang. Well kita makan siang sekarang!"


Zela mendongak menatap Gilbert yang sudah melibatkan kedua tangannya di depan dada.


"Tapi pekerjaanku masih banyak."


"Kau bisa kerjakan nanti. Aku tidak mau jika kau menyiksa anakku. Asal kau tahu, dia adalah calon pewaris keluarga Sanders. Jadi kau harus menjaganya dengan baik."


"Tapi aku tidak ingin keluar bersamamu. mereka pasti akan membullyku habis-habisan," tolak Zela.


Zela harus berperang saat melihat makanan yang dipesan oleh Gilbert. Bagaimana tidak Gilbert memesan salad dalam jumlah yang banyak. Tidak sampai di situ, ternyata mangga muda tak pernah ketinggalan dalam situasi apapun.


"Gil, apakah kau serius mau menghabiskan semua makanan ini?" tanya Zela yang hanya bisa menelan kasar ludahnya.


"Kenapa tidak? Kau harus mencoba salad ini. Ini adalah makanan yang paling enak," kata Gilbert.


"Apakah kau sedang kelaparan?" tanya Zela lagi. "Cara makanmu menunjukkan kau seperti seorang gelandangan yang sangat kelaparan," cibir Zela.


"Aku tidak tahu. Semenjak kau hamil selera makanku menjadi berubah dan lebih parahnya lagi saat ini aku lebih suka mengkonsumsi buah segar. Anakmu memang sedang ingin memberikanku pelajaran," jelas Gilbert yang tetap menyantap makan siangnya.


"Tapi kau kan bisa menolaknya, Gil?".

__ADS_1


"Kau pikir gampang untuk mengendalikan keinginan ini? Jika kau yang mengalami kau pasti sudah nangis-nangis setiap pagi. Tapi syukurlah itu bukan kau yang mengalaminya."


Zela tersenyum tipis melihat Gilbert yang terus saja mengoceh, layaknya bukan seorang Gilbert yang dia kenal.


"Gil, apakah kau masih memiliki perasaan kepada Monica?" tiba-tiba saja Zela memecahkan keheningan dengan menyebut nama Monica. Tentu saja dengan cepat Gilbert akan menatap Zela dengan tajam. Bahkan dengan tiba-tiba Gilbert sudah tidak selera lagi untuk menyantap hidangannya.


"Jangan pernah kau sebut nama wanita itu di hadapanku!"


Zela tertunduk sambil menyesali ucapannya. Seharusnya Zela tahu jika Gilbert tak akan pernah kembali Monica. Zela hanya sangat khawatir jika suatu Gilbert akan berpaling darinya dan kembali lagi bersama Monica.


"Maaf, aku sudah berpikir terlalu dalam. Aku hanya takut jika kau akan kembali kepadamu nikah dan meninggalkanku," sesal Zela.


Gilbert menatap Zela dengan lekat. "Apakah kau merasa cemburu? Jangan-jangan kau sudah mulai mencintaiku," tebak Gilbert dengan alis yang menaut.


Zela memberanikan diri untuk menatap kedua mata Gilbert. Zela tidak tahu apakah dia benar-benar mencintai Gilbert atau hanya sekedar rasa takut kehilangannya karena sudah merasa nyaman.


Namun jika boleh jujur Zela tidak akan pernah untuk melepaskan Gilbert. Gilbert adalah pria pertama yang sudah menyentuhnya. Bahkan Zela dan Gilbert juga sudah bersumpah kepada Tuhan, jika keduanya akan mencintai dalam suka dan duka sampai maut yang memisahkannya. Bagi Zela itu bukan sumpah biasa.


"Ze," panggil Gilbert saat Zela larut dalam pikirannya.


"Apakah salah jika aku memiliki rasa kepada pria brengsek sepertimu?"


Gilbert semakin lekat untuk menatap Zela. "Maksudmu kau benar-benar mencintaiku?" Gilbert menarik garis bibirnya.


Tak ada jawaban dari bibir Zela. Bibir Zela terasa sangat kelu saat ingin mengatakan 'iya aku mencintaimu'


"Ze, aku tahu, aku bukanlah pria baik. Kau pasti sudah tahu sisi gelap ku. Bahkan aku tidak percaya jika aku akan memiliki denganmu. Selama ini aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Tapi aku sadar jika seiring dengan kebersamaan kita, aku merasa nyaman saat bersamaan mu dan aku juga sangat takut kehilanganmu. Aku cemburu saat kau bersama dengan pria lain.. Bahkan itu sudah terjadi semenjak kau baru masuk ke perusahaan ini. Aku pernah berpikir untuk menaklukkan mu, tapi siapa yang menyangka jika takdir juga setuju dengan kata-kataku. Ze, demi anak kita yang sedang berada dalam perutmu, aku Gilbert Ray Sanders mencintaimu."

__ADS_1


Mata Zela terbelalak mendengar penuturan panjang lebar dari Gilbert. "Kau bilang apa Gil?"


__ADS_2