
"Apakah masih kurang jelas? Aku paling tidak suka mengulang kata-kataku. Jika kau tidak mendengar, sudahlah lupakan saja!"
Zela tertawa pelan. Bukan tidak dengar, hanya saja Zela ingin memperjelas ungkapan Gilbert. Mama sayangnya pria itu tidak suka untuk mengulang kata-katanya dua kali.
"Biaklah. Mungkin aku hanya salah dengar saja. Sudahlah, lebih baik memang dilupakan."
Gilbert melotot ke arah Zela. Rasanya Gilbert ingin merekamnya. Bagaimana bisa Zela tidak memasang telinganya dengan baik. Seharusnya Zela bisa mendengar dengan jelas ucapannya tadi karena Gilbert mengatakan dengan jelas bahwa dia mencintai. Namun nyatanya Zela tak mendengarkan ucapan.
"Kau ...!" Tunjuk Gilbert dengan rasa kesal. "Apakah kau tak pernah membersihkan telingamu, sehingga ucapan ku tak masuk ke dalam telingamu?" lanjut Gilbert lagi.
"Tapi aku memang benar-benar tidak mendengarnya Gil. Sudahlah kalau begitu aku permisi."
"Tunggu!" Tangan Gilbert menahan lengan Zela. "Aku mencintaimu, Zela."
Akhirnya tawa Zela pecah. Seorang Gilbert mampu mengungkapkan kata cinta kepada dirinya. Sungguh hal yang luar biasa, akhirnya Gilbert menyerah lebih awal.
"Iya aku tahu dan aku juga sudah mendengarnya tadi," ucap Zela masih dengan sisa tawanya.
Gilbert melotot. Akhirnya dia menyadari jika ternyata Zela telah mengerjai dirinya. Namun, sadar akan tatapan Gilbert yang sudah menusuk, akhirnya Zela memilih kabur sebelum dia dimangsa oleh Gilbert.
"Kabur lah, tapi aku pastikan bahwa nanti malam kau tak akan bisa kabur dariku!" ancam Gilbert sambil mengepalkan tangannya di udara.
Jantung Zela hampir lepas saat dia berusaha kabur dari Gilbert. Bukan hanya itu saja, tetapi ucapan Gilbert mampu membuat jantung tak hentinya untuk terus bergerumuh.
"Tak ku sangka jika Gilbert bisa mengungkapkan kata cinta. Apakah itu murni dari hatinya atau hanya sedang meluncurkan bualan untuk meluluhkan hatiku agar aku terbuai?"
***
Akhirnya Zela merasa lega saat jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Itu artinya dia sudah terbebas dari pekerjaan yang membuat kepalanya berdenyut.
Langkahnya begitu santai menelusuri lorong untuk menuju ke lift. Namun, tiba-tiba bulu kuduk Zela naik, seakan ada yang sedang mengikutinya dari belakang. Zela yang merasa penasaran langsung menoleh untuk meyakinkan perasaannya.
__ADS_1
Kosong.
Tak ada siapapun dibelakang Zela. Namun, matanya tetap was untuk melirik ke kanan dan ke kiri. Berharap itu semua hanya perasaan saja.
Tepat pada saat Zela berbalik hendak melahirkan lagi langkahnya ke, tiba-tiba seseorang telah membungkam mulutnya dengan sebuah sapu tangan. Sebisa mungkin Za memberontak, namun karena sapu tangan yang telah diberikan obat bius maka Zela hanya bisa pasrah akan dirinya yang sudah tak berdaya.
Gilbert sudah tidak sabar untuk segera pulang. Dia juga sudah menyusun rencana untuk membalas cinta kepada malam ini karena telah berani mengerjai dirinya.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti malam. Aku pastikan jika wanita itu akan meminta ampun kepadaku."
Gilbert pun berusaha untuk menghubungi Zela, karena Gilbert melihat Zela telah meninggalkan ruangannya beberapa menit yang lalu. Akan tetapi panggilan Gilbert tak mendapatkan jawaban dari Zela. "Kemana wanita itu sampai mengabaikan panggilanku. Apakah dia sudah merasa ketakutan."
Gilbert melangkah kakinya untuk meninggalkan kantor. Malam ini dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya. Hati yang dahulu gelap, kini perlahan sudah mulai terang dengan kehadiran Zela. Perlahan tapi pasti, wanita itu telah melunakkan hati Gilbert. Bahkan saat ini Gilbert sudah melupakan sisi gelap yang sering keluar masuk club malam, semua itu dia lakukan untuk menghabiskan waktunya bersama dengan Zela. Dan di hari ini, Gilbert dengan penuh kesadaran mengungkapkan perasaannya pada Zela.
Mobil telah melesat jauh meninggalkan kantor. Tak berselang lama mobil yang dikendarai oleh Gilbert telah sampai di depan rumahnya. Semua pelayan segera berjejer untuk menyambut kedatangan tuan mereka.
"Dimana Zela," tanya Gilbert pada kepala pelayan.
Gilbert menghentikan langkahnya. Matanya menyorot semua para pelayan dengan tak terkecuali. "Apakah kalian yakin?"
"Sangat yakin, Tuan. Karena kami belum menyambut kedatangan Nona muda," jelas salah satu pelayan.
"Mungkin Nona muda berada di rumah utama, Tuan," celoteh kepala pelayan.
"Mungkin juga."
Sudah berulang kali Gilbert mencoba untuk menghubungi Zela, tetapi panggilannya tak terjawab. Akhirnya Gilbert memutuskan untuk menghubungi Omanya.
Gilbert harus menelan rasa kecewanya saat sang Oma mengatakan jika Zela tak berada di rumah utama. Bahkan sang Oma juga sudah bersumpah saat Gilbert terus mendesaknya untuk berkata jujur.
"Jika tidak berada di rumah utama lalu dimana?" Gilbert terus berpikir keras dimana saat ini Zela berada. "Apakah wanita itu memang sedang ingin menghindari ku?"
__ADS_1
Tak ada pilihan lain, Gilbert akhirnya menghubungi Kimi untuk mencari tahu dimana keberadaan Zela. Karena hanya ada dua kemungkinan tempat yang akan Zela kunjungi. Jika tidak di rumah utama berarti sedang bersama dengan Rena. Gilbert takut jika Zela akan terpengaruh dengan pekerjaan Rena saat ini.
"Jangan sampai wanita itu salah bergaul dengan orang yang salah. Sudah ku peringatkan berulang kali, masih saja bergaul bersama wanita malam ini." Gilbert menyugar kasar rambutnya. Saat ini dia benar-benar takut jika Zela sedang bersama dengan Rena. Namun, detik kemudian Kimi menelepon dan memberitahu jika saat ini Zela sedang tidak bersama dengannya.
"Lalu kemana perginya Zela," gumam Gilbert penuh kecemasan.
Tidak ingin duduk diam di rumah , Gilbert memilih untuk mencari keberadaan keberadaan Zela. Bahkan dia juga sudah menyebar beberapa orang untuk mencari keberadaan Zela. Ditengah-tengah melaju, ponsel Gilbert berbunyi. Sebuah panggilan dari Kimi.
"Ada apa?"
"Kau harus ke kantor sekarang juga! cctv mereka Zela."
Belum sempat Kimi menjelaskan berita selanjutnya, Gilbert sudah memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
***
Disebuah ruang dengan tangan dan kaki yang terikat, serta mulut yang telah di bungkam menggunakan sapu tangan, Zela perusahaan untuk memberontak. Jangankan untuk bergerak untuk bernapas saja Zela merasa sangat kesusahan. Saat ini istilah hanya pasrah dengan keadaan.
"Akhirnya kau bangun juga." Suara seseorang dibalik topeng membuat Zela meminta belas kasihannya. Namun, seseorang itu hanya menertawakan keadaan Zela saat ini yang terlihat sangat menyedihkan.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apakah kau berharap aku akan membebaskanmu? Jangan berharap dan jangan bermimpi, karena aku akan membuatmu mati disini." Seseorang itu menekan kata mati, membuat Zela menghilangkan kepalanya.
Seseorang dengan jubah panjang serta topeng yang menutup wajahnya, semakin mendekat kemudian tangannya menarik rambut Zela dengan kuat.
"Apakah ini sakit?"
Zela terus berusaha untuk memberontak. "Percuma saja kau mengerahkan segala kekuatan mu untuk bisa lepas. Kau tidak akan pernah bisa melepaskan diri, kecuali aku. Karena di sini hanya ada kita berdua."
"Ya Tuhan ... siapakah dibalik topeng ini? Apa salahku sehingga dia melakukan semua ini padaku? Tuhan tolong bantu aku. Gil, aku takut."
Zela hanya bisa mengadu dalam doanya. Berharap Tuhan akan memberikan jalan untuk dirinya. Zela yakin jika Tuhan akan terus bersama dengan dirinya dan tidak akan membiarkan dia dalam kesendirian.
__ADS_1
...~BERSAMBUNG~...