
Selly pasrah ketika Kimi membawanya ke sebuah ruangan. Selly sudah yakin jika saat ini dia akan dihakimi. Percuma saja menjelaskan kepada semua orang bahwa dia tidak bersalah, karena hanya dia satu-satunya orang yang tidak menyukai Zela.
"Sekarang katakan dimana kau sembunyikan nona Zela? Jangan sampai tuan Gilbert yang turun tangan!" desak Kimi yang sudah tidak sabar, karena Sellya tak kunjung untuk mengakui perbuatannya.
"Harus berapa kali aku katakan, jika aku tidak tahu dan aku bukan pelakunya," elak Selly yang tetap merasa tenang.
"Jika bukan kau, lalu siapa lagi? Disini hanya kau yang tidak menyukai nona Zela. Dan yang lebih jelas lagi jika kejadian itu ada di lantai atas, dimana hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk kesana. Selly, aku tidak tahu apa yang sedang kau inginkan, tapi tolong jangan kau sentuh nona Zela jika kau masih ingin bernapas. Satu yang perlu kau kau tahu bahwa sebenarnya nona Zela itu adalah istri dari tuan Gilbert dan saat ini dia sedang mengandung darah daging tuan Gilbert. Jika sampai terjadi sesuatu dengannya, aku tidak bisa menjamin kau masih bernapas atau tidak," jelas Kimi panjang lebar, membuat Selly ternganga.
Tubuh Selly membeku saat mendengar penjelasan Kimi yang mengatakan jika Zela adalah istri dari bosnya. Jadi selama ini dia menghina istri dari bosnya. Selly tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak! Aku tidak percaya jika wanita malam itu adalah istri dari tuan Gilbert. Kau pikir aku tidak tahu, jika kau hanya ingin menjebakku saja kan? Kalian semua telah tertipu dengan kepolosan wanita malam itu. Bisa saja itu bukan darah dagingnya tuan Gilbert." Belum siap Kimi melontarkan ucapan untuk merendahkan Zela, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Selly.
Plaaakkk!
Selly memejam, pipinya terasa panas karena Kimi hilang kendali.
"Jaga mulutmu jika masih ingin kau gunakan untuk berbicara. Beruntung saja bukan tuan Gilbert lawan mu untuk bercerita, jika dia lawan mu, aku pastikan kau akan langsung dicincang!" tegur Kimi dengan wajah merah padam.
Selly tak bisa mengucap kata untuk melawan lagi. Dia bisa melihat jika saat ini Kimi sedang marah besar.
"Sekarang kau katakan dimana kau sembunyikan nona Zela!" bentak Kimi sambil menggebrak mejanya. Sedari tadi Kimi mencoba untuk sabar, tetapi Selly malah mengajaknya untuk bermain.
Mendadak wajah Selly terlihat pucat. Meskipun bukan dia pelakunya, tetapi Selly yang menciptakan api agar seseorang terbakar dengan ucapannya.
__ADS_1
"Aku berani bersumpah jika bukan aku pelakunya." Untuk kesekian kalinya Selly membantah.
"Aku tidak peduli. Jika nona Zela tidak kembali, maka bersiap-siaplah untuk menuju ajalmu!" Kimi yang sudah merasa lelah akhirnya memilih meninggalkan Selly di dalam sebuah ruangan.
Sepeninggal Kimi, Selly segera menghubungi Monica agar lebih berhati-hati karena saat ini Gilbert sedang melakukan pencarian Zela. Selly pun sempat memperingatkan jika Monica lebih baik menyerah dan mengembalikan Zela sebelum sesuatu yang buruk. Namun, karena Monica sangat berambisi untuk mendapatkan Gilbert, dia tidak akan melepaskan Zela dengan mudah.
"Terserah kau saja, yang terpenting kau jangan mengiba saat sesuatu menimpa mu."
"Kau tak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja." Monica langsung memutuskan panggilan telepon secara sepihak. "Mereka kira mudah untuk menemukan tempat ini. Mimpi!" cibir Monica sambil mengepalkan telapak tangannya.
Siapa yang menyangka jika ternyata Kimi telah memasang kamera tersembunyi untuk memantau Selly. Diapun segera menghubungi Gilbert untuk melaporkan informasi yang baru saja dia dapatkan. Meskipun bukan Selly pelakunya, tetapi Selly juga terlibat dalam penculikan Zela. Maka Kimi tidak akan membiarkan Selly untuk pergi begitu saja sebelum Zela ditemukan.
***
Siapa yang tidak akan naik darah, jika istri dan calon anaknya saat ini sedang dalam bahaya. Gilbert bukan tipe pria yang bisa santai saat dalam keadaan yang genting. Bahkan dia juga sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Monica.
"Akan aku coba," kata Gilbert datar.
Kimi mengangguk dan menghubungi Monica untuk melakukan pertemuan dengan Gilbert. Mungkin cara seperti ini bisa melacak dimana keberadaan Zela.
"Waow ... amazing. Baru juga satu malam tak melihat wanita itu kini Gilbert telah mencari ku. Aku harus menyiapkan diri agar Gilbert tak bisa berpaling lagi dariku." Monica tersenyum tipis setelah mendapatkan telepon dari Kimi.
1 jam kemudian.
__ADS_1
Monica sudah tak sabar untuk menanti kehadiran Gilbert. Dia sengaj datang lebih awal agar membuat Gilbert menunggunya. Karena Gilbert adalah salah satu tipe pria yang tidak suka menunggu.
"Gil," gumam Monica saat melihat Gilbert sudah duduk di depan mejanya.
"Lama tak bertemu, kau semakin terlihat gagah," puji Monica dengan wajah yang terus mengembangkan senyum di bibirnya.
"Kau terlalu berlebihan untuk memujiku."
"Apakah kau sudah berubah pikiran dan ingin kembali lagi untuk bersama ku? Gil, untuk kejadian waktu itu, aku benar-benar minta maaf. Aku hanya di jebak, Gil. Percayalah padaku." Sebisa mungkin Monica meyakinkan agar Gilbert mempercayai ucapannya.
"Sebenarnya aku coba sangat merindukanmu. Tak dapat kupungkiri jika aku benar-benar sangat membutuhkan mu. Bisakah kita mengenal waktu kita yang telah terbuang?"
Seperti sedang bermimpi, tetapi ini nyata. Monica tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, dia pun langsung mengangguk untuk menyetujui permintaan Gilbert.
"Akhirnya ... Gil, aku merasa sangat bahagia jika kau bisa menerima aku lagi. Setelah ini aku berjanji tidak akan pernah membuat satu kesalahan asalkan kau bisa menerima aku lagi."
Gilbert hanya mengangguk pelan. Tangannya melambai untuk memanggil waiters.
"Kau mau pesan apa?" tanya Gilbert.
"Terserah kau saja."
Mata Gilbert terus melirik ponsel milik Monica yang ada di depannya. Bagaimanapun caranya Gilbert harus bisa mengambilnya.
__ADS_1