
Warning!! Jangan dibaca jika tidak ingin pikiran kalian tercemari. Hanya untuk 21 + yang belum cukup umur mohon skip aja!
***
"Astaga ... Zela," pekik Gilbert panik.
"Gil," lirih Zela hampir tak berdaya. "Aku ..." Zela segera mengalungkan kedua tangannya di leher Gilbert yang hendak memeriksa tubuhnya. "Apa yang sudah terjadi?" tanya Gilbert yang belum siap dengan seragam dadakan dari Zela.
"Sentuh aku, Gil. Sentuh!" Zela menuntut tangan Gilbert untuk menyentuhnya.
Dengan has.rat yang menggebu, Zela mencium bibir Gilbert dengan penuh gai.rah, berharap Gilbert memberikan balasan. Lidahnya sudah menarik di rongga mulut Gilbert, tetapi Gilbert masih terdiam belum ada perlawanan. "Kau dalam pengaruh obat, Zela!" Gilbert melepaskan ciuman Zela.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu, Gil." Zela yang sudah tidak sanggup lagi menahan has.rat dalam tubuh terus meronta-ronta agar Gilbert menyentuh dirinya. "Apakah aku tidak menarik karena sudah tidak perawan? Asal kau tahu, kaulah yang telah mengambil keperawananku. Lalu kau tidak mau dengan bekasmu sendiri?" racau Zela yang sudah selimuti gai.rahnya.
"Bukan begitu. Aku sudah berjanji pada diriku, bahwa aku tak akan menyentuhmu. Namun, jika kau yang meminta, dengan senang hati aku akan menyentuhmu," ujar Gilbert yang memang sudah tidak bisa menahan rasa sesak dibawah sana.
"Maka sentuh aku, Gil." Mata Zela menatap manik mata yang ada dihadapannya dengan napas yang sudah terkontaminasi dengan alkohol.
"Apakah kau yakin tidak akan menyesalinya?"
Dengan sebuah anggukan, Zela mengiyakan ucapan Gilbert. "Aku yakin tidak akan menyesal. Sentuh aku sekarang Gil, aku sudah tidak kuat."
Tak membuang waktu lama lagi, keduanya kini sudah tanpa kain penutup. Jika saat itu Zela memberontak, tatapi malam ini Zela mendambakan sentuhan dari Gilbert.
__ADS_1
Zela memejamkan matanya saat merasakan sesuatu yang telah memasuki milikinya. Bukan erangan penolak atau kesakitan seperti pada saat pertama kali Gilbert lakukan. Malam hanya erangan kenikmatan yang keluar dari bibir Zela. Sebisa mungkin malam ini Gilbert melakukan dengan lembut dan meresapi setiap sentakan yang dia lakukan.
Rasa yang tak pernah Gilbert dapatkan meskipun dia telah menjelajahi beberapa wanita, karena selama ini Gilbert hanya mencari kepuasaasannya saja, namun tidak untuk malam ini yang benar-benar Gilbert resapi hingga dalam hati.
***
Tubuh Zela terasa berat saat dia ingin bangkit. Sebuah tangan kelar menimpa pinggangnya. Mata Zela membuat saat melihat Gilbert berada disampingnya dengan telanjang dada. Zela menangkup bibirnya sambil melihat pelan kebawa selimut tebal yang menutupi tubuh.
Zela hanya bisa menelan kasar ludahnya saat melihat tak ada satu kain yang menempel pada tubuhnya. Zela memukul pelan kepalanya saat mengingat kejadian memalukan malam tadi, dimana dia seperti ja.lang murahan didepan Gilbert.
Jantung Zela mendadak berpacu dengan cepat saat sebuah tangan telah memegangi lengannya. "Tak perlu menyakiti diri sendiri. Aku suka gayamu malam tadi. Jika kau bisa memberikan kepuasan seperti itu setiap hari, aku rela tidak mengunjungi club malam dan memberikan lagi sepertiga hartaku, jika kau bisa memuaskan ku seperti malam tadi. Aku benar-benar sangat puas. Apakah kita harus mengulanginya lagi?"
__ADS_1
Zela tersipu malu. Namun, dia tidak bisa memberontak lagi saat tangan kekar telah mengunci kedua tangannya. Bahkan bibir Gilbert telah membungkam bibir Zela.
"Ehhhmm." Suara deheman dari arah pintu membuat Gilbert memejamkan mata dan menyingkir dari atas tubuh Zela.