Ranjang Big Bos

Ranjang Big Bos
RBB 30 | Menuju Pelaminan


__ADS_3

Aku gak tahu kenapa satu persatu pada menghapus novel ini dari rak bukunya. Jujur sedikit aku sedih, sih. Tapi sebagai penulis pemula aku tahu aku gak boleh baper. Teruntuk kalian yang masih mengikuti cerita ini boleh kasih saran agar ceritanya gak garing. Akhir-akhir ini aku sebenarnya males nulis. Mau berhenti, tapi berkat dukungan salah satu Author, akhirnya aku kembali lagi ke niat awal, akan menyelesaikan novel ini sampai End, tapi liat dulu ada kemajuan atau tidak. Jika memang masih anyep, mungkin aku gak lanjutin ceritanya disini.


Salam, semoga masih ada sisa dukungan untuk penulis amatir ini ♥️


*Selamat Membaca*


Berbeda dengan pagi sebelumnya, pagi ini suasana kamar Zela telah dimasuki oleh beberapa orang untuk meriasnya. Bahkan baju pengantin telah berdiri di depan matanya. Saat mendengar seseorang membangunkan Zela, diapun mengerjap. Perjalanan malam tadi membuatnya menyisahkan kantuk yang luar biasa.


"Nona, bangun dan bersiaplah! Kami akan segera merias anda."


Zela menautkan alisnya saat menyadari jika ternyata kamarnya telah dimasuki oleh beberapa orang dengan tugas mereka masing-masing.


"Dimana Gilbert?"


"Tuan Muda sedang melakukan meeting sebelum acara pernikahan dimulai."


Zela mendengus pelan. Dihari pernikahan saja seorang Gilbert masih memikirkan masalah pekerjaan. Ah, Zela melupakan sesuatu. Pernikahan yang akan terjadi siang nanti hanya pernikahan palsu. Pernikahan kontrak dimana keduanya sama-sama saling menguntungkan. Setelah pernikahan ini Zela akan menjadi orang kaya yang akan mempunyai sepertiga kekayaan milik Gilbert.


Zela memukul pelan kepalanya sebelum beranjak untuk menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Ada apa Nona? Apakah anda merasakan sesuatu?" tanya seorang pelayan yang ada disamping Zela.


Zela menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak apa-apa."


***


Setiap detik, setiap menit, doa terbaik selalu dipanjatkan oleh seseorang untuk kebaikan Gilbert. Satu-satunya sosok yang dia miliki, sebagai tempatnya bergantung. Dia adalah nyonya Roberto, sang Oma.


Wanita yang sangat menyayangi Gilbert sepenuh hatinya, berharap Gilbert bisa menjadi generasi penerus keluarga kelak. Namun, Oma pernah putus asa saat dihadapkan dengan kenyataan jika satu-satunya pewaris keluarganya mempunyai kecanduan buruk. Bagaimana tidak, setiap malam harus berganti wanita untuk menyalurkan hasratnya.


Gilbert Ray Sanders, nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Berharap kelak bisa menjadi pemimpin yang tegas dan bertanggung jawab. Namun, suatu kenyataan yang membuat Gilbert putus asa. Satu persatu cobaan hidup singgah, hingga akhirnya dia melampiaskan pada wanita malam. Namun, Oma terus berusaha untuk menyadarkan cucunya agar menyudahi kegilaannya dan berusaha mencari keberadaan Zela.


"Gil tidak tahu, Oma."


"Jemput dia sekarang agar upacara pernikahan segera dimulai!" titah sang Oma.


Tak ingin berdebat, Gilbert langsung menuruti ucapan Oma. Dalam hati Gilbert tersenyum kecut saat mengingat jika dalam hitungan menit dia akan menjadi seorang suami yang harus bertanggung jawab kepada istri dan calon anaknya. Gilbert merasa lucu saat mendengar kata anak.


Tanpa mengetuk pintu kamar, Gilbert segera masuk. Pandangannya terfokus pada sebuah cermin besar yang memantulkan bayangan Zela. Wanita yang akan dipersuntingnya nanti. Wajah Zela bersemu saat melihat bayangan Gilbert di cermin. Pria yang arogan itu terlihat sangat gagah dengan tuxedo berwarna putih senada dengan gaun yang ia kenakan.

__ADS_1


"Apakah belum selesai? Mengapa sangat lama? Apakah kalian tidak bisa bekerja dengan baik?"


"Maaf Tuan muda, tapi beberapa kali Nona harus ke toilet, dia tidak tahan karena perutnya mual," jelas salah satu perias.


Dengan langkah pelan, Gilbert mendekati Zela. "Apakah kau tidak mengkonsumsi vitamin pagi ini?"


Zela menggeleng pelan. Detik itu juga Gilbert menggeledah tas milik Zela. Tidak mungkin jika Zela akan meninggalkan benda kecil itu.


"Kenapa kau melupakan agenda rutinmu? Kau ingin membuatku malu pagi ini? Minumlah dan cepat kita keluar. Tamu undangan sudah hampir menjadi jamur di luar sana hanya menunggu pengantin wanita yang biasa saja seperti ini." Gilbert menyodorkan sebuah vitamin untuk Zela.


"Maaf aku lupa."


Tak di pungkiri wanita yang ada didepannya mampu menggetarkan jantungnya lagi. Namun, tidak mungkin Gilbert memanggil dokter Frans untuk memberinya penawar, karena ini bukanlah penyakit jantung biasa.


"Sedikit lebih cepat kenapa? Apakah kau ingin membunuhku hari ini. Semakin lama aku disini, bisa-bisa aku terkena penyakit jantung."


***


Oh iya, aku punya rekomendasi novel keren. Sambil nunggu aku up lagi, mampir di novel TEH IJO ya Judulnya SEPARUH HATI UNTUK NAFISYA.

__ADS_1



__ADS_2