
"Senja.. lu tenang aja nggak usah banyak berpikir, kita jalani seperti air mengalir.. " ucap Ryan sambil mengusap punggung tangan Senja dengan lembut.
Senja yang diperlakukan selembut ini makin melayang. Dia masih menunduk takut Ryan melihat rona merah diwajahnya yang sedang tersipu.
Mendengar ucapan Ryan, hatinyapun menjadi lebih tenang. Rasa sesak juga perlahan menghilang.
"Selamat pagi.. " ucap Dosen lantang. Membuyarkan lamunan mereka. Mereka kembali belajar.
++++++
Jam kuliah yang melelahkan akhirnya usai. Ryan masih ditempatnya tadi, disebelah gadis yang menyita pikirannya sejak kemarin.
"Mau kuantar pulang?" tanya Ryan.
"Nggak usah, aku sama kak Jino, sama sopir.." jawab Senja.
Perasaan Ryan jadi jengah mendengar ini.
"Sebenernya ada hubungan apa kamu sama Jino?" ucap Ryan cukup keras. Ada penekanan dalam nada suaranya.
"Sejak kapan dia pake bahasa aku kamu?? " batin Senja.
"Dia cewek gua, kenapa? ada masalah?" tiba tiba Jino datang menjelaskan statusnya. Padahal Senja baru aja mau menjawab kalau mereka hanya berteman. Suara Jino tadi cukup keras, anak anak yang masih disitu jadi menoleh dan berkasak kusuk.
"Dah jadi gosip baru nih.. " batin Senja.
Senja tanpa bicara apapun meninggalkan Ryan, menarik Jino segera pergi dari situ. Senja hanya memberi senyuman penuh arti pada Nisha dan Ridho yang masih melongo disitu.
"Kakak ini apa apaan sih kak! ember banget dah!" Senja memarahi Jino di mobil. Untungnya pak Dani sedang pamit ke toilet jadi tidak akan mendengarkan perdebatan mereka.
"Lho kamu lupa sama perjanjian kita cantik?" ucap Jino santai.
"Aku nggak lupa, tapi nggak usah ember! seneng banget ya jadi omongan se kampus?" ucap Senja masih sangat marah.
"Cantik.. jangan marah marah, ingat kesehatanmu!" ucap Jino menekankan suaranya.
Senja malah makin marah mendengar Jino. Dia langsung diam dan melihat keluar jendela.
Bahkan saat pak Dani bertanya pun dia tidak menjawab.
Perjalanan kepantai cukup lama ,satu setengah jam. Tapi Senja juga masih diam sepanjang perjalanan.
Senja sebenarnya terus berpikir, bagaimana perasaan Ryan tadi?. Ryan baru saja mengatakan simpati pada Senja. Tapi ternyata Senja berpacaran dengan Jino.
"Kenapa aku mikirin kamu sih? " batin Senja sambil menutup mukanya.
"Senja kamu sakit? Apa kita pulang aja? " tanya Jino setelah melihat tingkah Senja.
__ADS_1
Senja masih diam, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di pantai suasana sore yang indah langsung mengubah mood Senja yang berantakan.
Senja sangat kangen pantai, lama sekali dia tidak datang kesini. Sebenernya dia cukup merasa beruntung ada Jino, karena dia tau apa yang paling Senja rindukan. Dan Jino lah yang meyakinkan kedua orangtuanya untuk mengajak Senja kesini.
Senja duduk dipinggir pantai, melihat dua pasang sejoli yang sedang bermain air hatinya jadi senang Senja ikut tertawa riang. Jino yang melihat ini tidak mau kehilangan moment dia mengambil foto Senja
"Cantik udah selesai marahnya?" ucap Jino menggoda Senja.
Senja tersenyum,
"Karena kakak yang bawa aku kesini jadi termaafkan.. " ucap Senja.
"Syukur deh.. aku nggak kuat lama lama didiemin bidadari.. " ucap Jino nakal.
"Dasar play boy!" ucap Senja sambil memukul lengan Jino.
"Itu fitnah cantik.. hahaha" Jino tertawa lepas.
"Kak aku mau jalan kesana.. " ucap Senja.
"Oke, tapi nggak boleh sendiri, sama aku ya!" ucap Jino sambil menarik tangan Senja menuju tempat yang ingin ditujunya.
"Ah kakak ini modus!" ucap Senja sambil manyun.
Mereka berdua berjalan bergandengan menyusuri bibir pantai.
"Kak makasih udah ngajak Senja kesini, jujur aku tadi marah banget kakak ember sama anak anak, aku nggak mau jadi bahan gosip" ucap Senja.
"Kakak yang makasih kamu mau jadi pacarku, soal tadi kamu nggak perlu khawatir, namanya gosip pasti akan hilang dengan sendirinya" ucap Jino menenangkan Senja.
"Tetep aja, kakak kan populer di kampus, ntar aku dimusuhin sama cewek cewek" ucap Senja.
"Kamu kan punya boyband kayak aku, jadi nggak usah takut.. " ucap Jino santai.
"Bodyguard maksudnya? hahaha " Senja tertawa mendengar Jino.
"Iya gitu kali.. " ucap Jino sambil tersenyum melihat kebahagiaan Senja.
"Ini mah judulnya asal kamu bahagia,, cantik,, " batin Jino terpesona melihat kecantikan di depannya.
"Cantik, kamu mau nggak kakak foto?" tanya Jino.
"Buat apa sih kak? males ah!" jawab Senja.
__ADS_1
"Kamu kok aneh sih cantik, biasa nya cewek kan suka foto tuh, apalagi kamu cantik .." Jino malah heran kelakuan cewek cantik ini, low profile banget.
Itu yang bikin tertarik, cantik tapi sama sekali nggak kepedean. Sopan, dan misterius.
"Please yah.. satu aja.. " Jino kali ini memohon.
Senja sebenarnya malas meladeni permintaan Jino, tapi dia juga senang kan karena Jino.
"Okey.. satu ya? awas kalo nambah, ntar aku kenain hak cipta!" ucap Senja sambil mengepalkan tangannya.
Cekrek..
"Huh! Cantik banget! Liat sini hasilnya." ucap Jino.
Senja langsung menghampiri Jino, melihat hasil jepretannya.
Senja nggak percaya sih sebenarnya, ternyata Jino pintar mengambil foto.
"Bagus kan.. kamu ini cocok jadi model cantik.. " ucap Jino.
"Nggak mungkin lah kak, cewek penyakitan kayak aku jadi model!" jawab Senja tersenyum.
Tapi Jino melihat ada kesedihan di mata Senja.
Jino langsung mengambil tangan Senja dan menggenggam erat tangannya.
Senja cukup kaget, Jino tiba tiba melakukan ini.
Spontan dia berusaha melepaskan genggaman Jino.
"Kamu nggak boleh bilang gitu, mulai saat ini stop bilang gitu oke!" Jino menekankan suaranya.
"Kamu masih beruntung seperti ini,punya kehidupan sebaik ini, Tuhan masih sayang sama kamu, dengan kamu sakit hidupmu jadi lebih baik, kamu terus mengingat hidup ini tidak kekal, jadi terus perbaiki dirimu seperti sebelumnya, jangan putus asa lagi" Jino masih menekankan suaranya. Menatap mata Senja dalam dalam.
"Apa kita dulu pernah kenal kak?" tanya Senja heran.
Jino hanya menggelengkan kepalanya, lalu menarik Senja dalam pelukannya. Cukup lama juga mereka terdiam dengan posisi ini. Senja mulai merasa jantungnya berdegup kencang.
"Sudah cukup!" batin Senja.
"Kak aku tau hidupku nggak lama lagi, aku nggak mau kakak punya perasaan lebih sama aku, kita nggak perlu sampai pacaran kak!" ucap Senja melepaskan pelukan Jino.
Senja lalu menyenderkan kepalanya di pundak Jino. Melihat ke arah langit yang berwarna jingga, matahari akan segera tenggelam.
"Darimana kamu tau cantik? apa kamu udah ngintip di buku milik malaikat pencabut nyawa?" tanya Jino .
__ADS_1
Hay readers jangan lupa like,tip,fav,vote and commentnya yak buat author,
Thingkiu 😘