Rasa Senja

Rasa Senja
Bab 21


__ADS_3

21


Senja masih memejamkan mata saat tiba tiba ada yang memeluk tubuh nya, ah ada kehangatan yang menjalar dihatinya. Senja pun menikmati pelukan itu dan perlahan nafasnya mulai teratur, dadanya yang sesak perlahan mulai membaik.


Ah apa ini??


Kenapa rasanya begini??


Senja bertanya tanya dalam hati.


"Udah tenang? Kamu nggak papa kan?" tanya Ryan sambil melepas pelukannya dan menatap wajah Senja.


Senja segera membuka matanya, seakan masih ingin berada di pelukan Ryan. Tapi saat ini Ryan sedang menatap nya teduh, mata mereka saling bertemu.


"Kamu sakit apa?" Ryan bertanya, raut mukanya menuntut sebuah jawaban. Tapi Senja masih belum menjawab.


"Yaudah.. sekarang udah baikan? pulang aja ya.." Ryan berkata sambil mengusap rambut indah Senja.


"Iya aku udah baik kok, kita mau lanjut kemana boleh.." ucap Senja yakin.


"Yakin? kamu nggak papa?" Ryan sekali lagi bertanya.


"He em yuk.." Senja mengulas senyuman.


"Okey, nanti kalau ada yang sakit bilang ya.." Ryan segera melajukan motornya ke tempat tujuan.


Senja merasa sangat aneh, tanpa obat atau apapun sakitnya bisa langsung reda hanya karena dipeluk oleh Ryan.


Apa ini sebuah keajaiban?


Senja merapatkan pelukan kepada Ryan, tenggelam dalam pikirannya sendiri.


++++++++


Setelah melewati perjalanan sekitar satu jam, mereka akhirnya sampai di suatu tempat.


Masih berada di parkiran, tapi Senja merasa sangat senang. Ini adalah bukit hutan pinus, benar benar tempat yang indah dan sejuk.


Ryan segera melepaskan jaketnya dan memakaikannya untuk Senja. Takut gadis yang dicintainya merasa dingin dan drop lagi.


"Pakai aja.. nanti di atas bakal lebih dingin lagi."


"Nggak usah kamu aja.." Senja menolak.


"Nurut kenapa sih! ini kan juga demi kesehatan mu!" Ryan berkata tegas.


"Iya ih, bawel dah!" Senja mengerucutkan bibirnya.


Mereka segera berjalan beriringan, menuju ke puncak bukit, mungkin jaraknya sekitar 800m.


Mereka tidak bisa memakai kendaraan karena jalanan yang berbatu. Terpaksa harus berjalan kaki.


Dari kejauhan sudah terlihat puncaknya, di atas ada sebuah menara yang cukup tinggi, disebelahnya dibangun gazebo gazebo. Semakin memperindah tampilan tempat itu.


Suasana hening masih menyelimuti mereka.


Ryan sebenarnya sejak tadi sudah gatal ingin menggandeng tangan Senja. Tapi entahlah, nyalinya menghilang entah kemana.


Perasaan gugup dan berdebar menguasai Ryan.


Ah kemana sifat Ryan yang dingin dan angkuh itu.

__ADS_1


Rasanya sudah sering ia mengabaikan gadis gadis yang ingin mendekatinya. Tapi untuk gadis yang satu ini, ingin memegang tangannya saja harus perang batin dulu.


Pegang, enggak, pegang, enggak..


Senja semakin merapatkan jaketnya, ternyata Ryan benar. Disini dingin, dan saat ini dia hanya memakai dress selutut. Untung Ryan memberikan jaketnya tadi.


Ryan yang melihat Senja kedinginan seolah menemukan kesempatan untuk memegang tangannya.


Benar saja tangan Senja sudah dingin.


Ah dasar gadis ini... Keras kepala, kenapa tidak dari tadi memegang tanganku? huh!


Kali ini Senja juga tidak menolak Ryan, dia sudah benar-benar kedinginan.


Dan karena genggaman tangan Ryan, rasa hangat sudah lumayan membantu Senja.


Sampai di atas, Senja benar benar takjub.


Pemandangan disini sangat indah, Senja bisa melihat seluruh kota dan desa yang ada di bawah.


Rumah rumah terlihat kecil, ladang dan sawah warga yang hijau. Ah indah!


Seperti kebiasaan Senja yang lalu, ia memejamkan matanya dan merasakan sejuk dan hembusan angin semilir. Meskipun dingin, tapi ia tidak mau melewatkan kesempatan langka ini.


"Sebentar ya, aku belikan minum." Ryan pamit pergi.


Senja hanya mengangguk melanjutkan aktivitasnya.


Merem


Alhamdulillah Ya Allah.. saat ini aku masih bisa menikmati anugerah dari-Mu, nafas ini masih bisa menghirup udara yang segar, mata ini masih terbuka untuk melihat keagungan Mu, tubuh ini masih tersadar untuk menyadari bahwa aku hanyalah sebuah titik kecil di dunia ini, kehidupan dan kematian hanya milik Mu, akan kukembalikan semuanya kepada Mu..


Tiba-tiba ada benda hangat mendarat di pipinya.


Senja menengok ke samping.


Ternyata Ryan yang menempelkan minuman hangat di pipinya.


"Jangan ngelamun disini ntar kesambet.." Ryan tersenyum.


"Biarin! biar kamu bingung! lagi nikmat juga kamu gangguin!" ucap Senja sambil menyeruput coklat hangat yang diberi Ryan.


"Idih pede amat mbak! kalo kamu kesambet ntar gua tinggal! malu maluin!" Ryan berkata santai.


"Yaudah sana tinggal aja sekarang.." Senja berkata santai.


"Nggak lah..." ucap Ryan. Mereka berdua saat ini duduk sebelahan, menghadap pemandangan indah di depannya.


"Gimana sih!" Senja mulai jengah. Matanya menatap Ryan tajam.


"Lha kamu kan belum kesambet.. hahaha.." Ryan malah tertawa.


"Nggak lucu.."


"Siapa juga yang ngelucu sih.. "


"Tauk ah.."


"Tau apa?"


Hahahaha..

__ADS_1


Mereka tertawa bersama.


Setelah itu mereka terdiam cukup lama, menikmati keindahan yang ada di depan mereka. Meskipun cuaca disini cukup cerah tapi udara dingin memang tidak bisa terlepas dari daerah dataran tinggi.


Entah darimana Ryan tau, Senja menyukai tempat tempat seperti ini. Atau ini sebuah ketidaksengajaan. Tempat tempat yang berbau dengan alam. Bahkan kalau dia tidak sakit, impiannya untuk naik gunung pasti sudah terlaksana. Tempat dengan suasana asri ini seperti memberikan suntikan kekuatan untuknya.


Lain halnya dengan Senja yang menikmati pemandangan, Ryan sedang menikmati wajah gadis cantik yang ada di depannya. Ia selalu merasa hangat saat melihat senyuman Senja. Entah apa yang membuat hatinya sebegitu tertarik dengan gadis ini.


"Nja.. kamu senang disini?" tanya Ryan tanpa melepaskan pandangannya.


"Emmm.. senang sih, tapi disini dingin, aku salah kostum Yan.. hahahaha.." ucap Senja sambil mengusap tangannya.


Ryan segera menarik tangan Senja dan mengusap nya.


"Uh, nggak usah Yan nggak papa kok.." Senja meyakinkan Ryan dia baik baik saja.


"Nggak papa gimana? Ini udah dingin banget tanganmu.." ucap Ryan gemas.


"Besok lagi nggak usah ke tempat kayak gini kalau kamu nggak nyaman!" Ryan menatap mata Senja iba.


"Besok lagi? yakin banget sih kamu.." Senja tersenyum.


"Yakin lah, mulai saat ini aku akan ajak kamu kemanapun kamu suka.." ucap Ryan yakin.


Senja terhenyak mendengar ucapan Ryan.


Apalagi ini?


Kenapa dia tiba tiba mengucapkan hal yang membayangkannya pun dia tidak berani?


Inipun baru pertama ia keluar selain dengan Jino atau orang tuanya. Apa orang tuanya akan mengijinkan dia terus pergi dengan teman laki lakinya?


"Itu nggak akan mudah Yan, kamu tau kan orang tuaku?" ucap Senja.


"Itu bisa dipikirkan nanti.." ucap Ryan tenang.


"Yakin banget sih kamu.." Senja mengusap tangannya lagi.


Ryan kembali menarik tangan Senja, menyembunyikannya dibalik tangannya sendiri.


"Kita pulang ya.. aku habis ini harus ke resto.." ucap Ryan mengajak Senja bangkit.


"Emm oke.." Senja masih belum ikhlas, dia ingin disini lebih lama.


"Besok besok kita cari yang nggak terlalu dingin.." ucap Ryan seolah tau apa yang ada dipikiran Senja.


"Biar kita bisa lebih lama sama sama, maaf ya.. kamu jadi nggak nyaman kedinginan seperti ini.." Ryan reflek memeluk Senja.


Sedetik dua detik tiga detik..


Pikiran Senja menolak semua ini, tapi tubuhnya malah kaku, dan seolah menikmati kehangatan yang diberikan Ryan.


Ah tubuhmu saja tidak patuh Nja!


Bilang kalau kamu juga mencintainya!


Cie cie babang Ryan..


Cuit cuit ðŸĪŠ


Yuk lanjooot 👇👇👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2