
26
Hampir satu bulan setelah kejadian itu, Senja benar-benar seperti hilang ditelan bumi. Ia tidak berangkat kuliah, dan Ridho dan Nisha juga bungkam bila ada kawan lain yang bertanya tentang Senja. Ryan apalagi, entah sudah berapa kali ia bertanya pada Ridho ataupun Nisha. Berkali-kali pula ia tidak mendapatkan jawaban. Bahkan setiap libur kerja ia mengunjungi rumah Senja, tapi tidak ada siapapun hanya asisten rumah tangganya yang ada. Mereka juga tidak tau kemana ayah,bunda dan Senja berada. Ryan merasa frustasi, ia merasa tersiksa karena khawatir. Entah juga karena Rindu yang tidak kunjung menghilang dari hatinya. Rasanya jiwanya tidak lengkap tanpa Senja.
Kali ini ia pergi ke rumah Senja lagi, sepulang kuliah Ryan langsung menuju kediaman Hanggono. Ryan bertekad akan menunggu sampai batas kemampuannya, ini sudah cukup sering ia lakukan saat libur bekerja. Sampai-sampai badannya sekarang tampak lebih kurus, kantung matanya menghitam. Ia sering kesulitan tidur setelah pulang kerja, padahal pulangpun ia selalu tengah malam menjelang pagi. Waktu istirahat setelah pulang kuliah ia gunakan untuk menunggu Senja dan keluarga, sebelum ia pergi kerja.
Ryan memarkirkan motornya sedikit jauh dari rumah mewah itu, yang penting ia tetap bisa melihat ke gerbang tempat keluar masuk keluarga itu. Awan sedikit mendung saat itu, musim penghujan sudah mulai melanda negara ini.
Tunggu? Ada motor sport yang hendak memasuki rumah itu, sepertinya Ryan mengenal motornya. Ah, bukankah itu motor Jino? Untuk apa ia kemari? Bukankah Senja tidak ada?
Baru beberapa menit Ryan bertanya-tanya ada mobil lain yang memasuki rumah itu. Mobil itu tampak berhenti sejenak di gerbang, kemudian masuk ke rumah. Ryan segera tancap gas demi ingin melihat lebih jelas siapa yang sedang berkunjung. Jantung nya berdebar kencang.
Apa ini kamu Nja? Semoga ini benar-benar kamu!
Ryan melihat seorang pelayan yang membawa kursi roda mendekat ke mobil tersebut. Lalu disusul orang tua dari gadis yang ia cari-cari, dan benar saja! Senja turun dari mobil itu, raut wajahnya sayu dan pucat, sangat terlihat gadis itu sedang tak berdaya. Gadis itu dibantu orang tuanya dan Jino, sungguh makin panas hati Ryan. Ia memutuskan untuk pergi dari situ. Meskipun rasa rindu dan khawatir mendominasi hatinya, ia tidak bisa semena-mena masuk ke rumah itu. Ia sadar diri, ia bukan siapa-siapa dan tidak punya pengaruh apapun.
Maaf...
Maaf kan aku....
Maaf please!
Maaf Senja....
Pikiran Ryan yang kalut terus mendominasinya sepanjang jalan. Sampai Ryan tidak sadar, ia melajukan motornya ke batas maksimal. Ia menuju rumah Miko sahabat karibnya yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.
****
Tanpa salam atau apapun Ryan segera masuk ke rumah Miko, ia tau sahabatnya itu ada di rumah, motornya terparkir di depan rumah.
"Ko... gua sun--" belum selesai Ryan bicara ia sudah dikagetkan dengan sosok yang sedang berbincang dengan Miko.
"Nisha...? lu kok disini?" tanya Ryan heran.
"Iya Yan? emm... itu... aku..." Nisha bingung ingin menjawab apa.
"Kalian kenal? ini saudara sepupu gua." Miko yang menjawab.
"Oh...." ucap Ryan dengan muka ditekuk.
"Oi oi, kalo punya masalah bawa ke psikiater jangan bawa kesini dong!" ucap Miko.
__ADS_1
"B****** lo! gua kagak gila!" ucap Ryan garang.
"Lagian elu, cari gua kalo lagi ada masalah doang, lagi seneng lupa lu!" ucap Miko tak kalah garang.
"Gua tadi ketemu dia." cicit Ryan.
"Ha? seriusan lu? trus?" cecar Miko.
Nisha tau arah dari pembicaraan mereka berdua. Tapi ia lebih memilih diam, karena ayah Senja melarang ia bicara.
"Gua cuma liat dari jauh."
"Buset dah! ni anak! kemarin lu dah kayak orgil nyari nyari dia, anaknya nongol lu diem aja? cemen lu ah!" ucap Miko kesal.
"Lagi ada bokap nyokap nya, mana berani gua?."
Ada beruang kutub juga, yang ngaku pacarnya.
Batin Ryan berteriak.
"Lu kalo suka beneran perjuangin dong! kalau kek gini gua juga ogah punya mantu cemen!" nasihat sang Raja bertebaran.
"**i sapa juga yang mau jadi mantu lu!" mata Ryan sempurna melebar ke arah sang Raja playboy alis Miko.
"Lu suka banget ya sama Senja?" tanya Nisha serius.
Ryan menatap Nisha nanar, kaget juga tiba-tiba Nisha bertanya hal yang jawabannya udah pasti.
"Apa kurang Nish? selama ini gua udah teror lu sama Ridho dengan pertanyaan yang sama, tentang Senja?" Ryan menghela nafasnya kasar, merasa kalut hanya karena wanita. Yang baru kali ini ia rasakan juga. Yang benar-benar sudah memporak-porandakan hati dan pikirannya. Apabila pria lain dapat dengan mudah jatuh cinta dan bermain dengan wanita, tapi Ryan bukanlah tipe yang seperti itu. Selama hidupnya, baru kali ini ia jatuh cinta. Sayang sekali gadis itu adalah Senja. Ryan sudah minder dengan status Senja sebagai anak orang berada dan terpandang. Apalagi sekarang sepertinya ia benar-benar tidak disukai oleh ayah Senja.
Nisha juga terdiam sejenak, melihat Ryan yang sekacau ini ia sebenarnya iba. Tapi bagaimana? Senja tidak ingin bila Ryan tau tentang apa yang terjadi.
"Udahlah bro, jangan terlalu mikirin jauh-jauh, berdoa aja semoga Tuhan ngasih jalan buat kalian." ucap Miko sambil menepuk bahu sahabatnya yang sedang kacau itu.
Ryan menyunggingkan senyuman, merasa bersyukur meskipun dia tidak punya keluarga kandung, tapi ia punya sahabat serasa saudara ini.
"Thanks, gua ke kamar lu ya? ntar bangunin gua kayak biasa."
"Iye, gua disini dulu sama Nisha."
Ryan menuju kamar Miko dan segera merebahkan dirinya. Menutup matanya segera, agar lupa segala gundah hatinya meski hanya sejenak. Meluncur ke alam mimpi, dimana semua hal bisa ia capai.
__ADS_1
Sementara Nisha dan Miko masih di ruang tamu. Nisha juga menceritakan tentang Senja, tentang kekhawatiran terhadap sahabatnya yang sedang sakit itu.
"Kak, aku sebenarnya kasihan sama Ryan, tapi gimana dong? Senja nggak ngijinin aku untuk kasih tau ke orang lain." ucap Nisha resah.
"Yaudah lah dek, kamu diem aja, biar Ryan tau sendiri ntar, lagian kalau kita kasih tau juga percumah kalo Senja nggak mau ketemu."
"Iya sih kak, tapi yang aku tau Senja itu sebenarnya juga sayang sama Ryan."
"Iye keh? trus kalo suk ngapain dia ngehindar? yakin kamu dek?."
"Yakin lah kak, aku tau banget malah itu, kita kan sama-sama cewek, kayaknya dia takut Ryan nggak bales perasaannya mungkin, atau dia takut nyakitin Ryan."
"Nyakitin? kalo emang suka nggak di jadiin itu baru namanya nyakitin!" ucap Miko.
"Ya nggak gitu kak, ah kakak mikirnya pendek banget!" ucap Nisha kesal.
"Lha trus apa? ah kagak mudeng gua bahasa bucin gitu dek."
"Bucin? Kakak aja nggak tau perasaan perempuan. Nih ya aku bilangin, Senja itu takut Ryan jadi sakit hati kalau tau Senja sakit."
"Sakit? sakit apaan seh? kayaknya sehat gitu?" tanya Miko penasaran.
Nisha membisikkan sesuatu ke telinga Miko, Miko pun manggut-manggut mendengarkan Nisha. Lalu sedetik kemudian mimik mukanya tampak kaget.
"Ah yakin lu? jadi dia itu ngilang ke Berlin? oprasi gitu?" ucap Miko sedikit keras.
"Ssst! kakak bisa pelan nggak sih? nanti Ryan denger!" ucap Nisha sebal.
"Ah kagak mungkin, dia mah kebo kalo dah tidur."
Dibalik pintu seseorang mendengarkan mereka dengan seksama.
"Gua pulang dulu Ko, Nish...." pamit Ryan tiba-tiba, tanpa tau kapan keluar dari kamar Miko.
"Eh iya...." jawab Nisha dan Miko canggung.
Ryan segera meninggalkan rumah Miko, seolah tergesa-gesa.
"Kakak... jangan-jangan Ryan denger?" ucap Nisha gugup.
"Biar aja deh dia denger." ucap Miko santai.
__ADS_1
"Ih kakak!" teriak Nisha marah.