Rasa Senja

Rasa Senja
Bab 29


__ADS_3

Sirine ambulans dan pemadam kebakaran memekakkan telinga, mereka masih berjibaku melakukan tugas mulianya.


Pemadam kebakaran berusaha memadamkan api dari mobil bak terbuka yang ternyata membawa barang barang bekas dari kertas.


Ambulans sedang menunggu, korban yang masih terjebak di api. Satu korban yang lain kondisinya sangat kritis, untung saja berhasil diselamatkan sebelum kendaraan mereka meledak. Naas untuk korban pria yang satunya, ia terjebak diantara mobil yang berisi tumpukan kertas.


Sementara orang-orang masih banyak yang berkerumun. Seorang gadis muda tampak terduduk lemah, ia sepertinya benar-benar syok. Ia tak mengeluarkan suara, hanya air matanya terus mengalir. Sementara wanita paruh baya yang nampaknya adalah ibunya ikut menangis melihat keadaan putrinya. Ia terus merapalkan kalimat-kalimat penguat untuk putrinya. Tapi putrinya sama sekali tak bergeming.


Senja saat ini merasa seperti melayang, ia merasa sudah tak berpijak pada dunia. Penyesalan memang selalu ada di akhir kejadian pilu. Itulah yang ia rasakan mendalam, ditambah dengan rasa kehilangan yang kuat.


Seharusnya ia ikut pingsan, mati, atau apalah itu namanya. Agar hatinya tidak terkoyak melihat kenyataan di depan matanya.


Flashback on


"Aaaaaaaaaaa!!! Ryaaan!!!" Senja berteriak sekencangnya melihat motor Ryan, dan seseorang yang sangat mirip dengan Ryan tergeletak dengan darah yang mengalir dari hidung, mulut dan telinganya. Badannya seperti kejang, tapi entahlah.


Suara sirine dan teriakan orang-orang di sekelilingnya sampai tak terdengar oleh Senja. Ia berlari menarik Ryan yang tak berdaya itu. Tidak ada yang membantu, malah lebih banyak yang sedang mengabadikan moment pilu dengan ponselnya. Senja berusaha sekuat tenaga, untunglah melihat Senja yang kepayahan mulai ada yang membantu menarik Ryan menjauh.


Api kecil sudah terlihat dari badan mobil yang ringsek, bau solar pun sangat terasa di hidung.


Beberapa menit setelah Senja dan kawan-kawan lain berhasil membawa Ryan mobil dan motor itu meledak. Ryan segera dibawa dengan ambulans yang baru saja tiba. Senja begitu syok melihat keadaan Ryan, ia tidak bisa bergerak, pikirannya seketika kosong.


Ayah Pradita langsung sigap membopong putrinya dan dibawa ke rumah sakit, karena Senja yang sama sekali tidak merespon apapun. Keadaannya benar-benar lemah. Wajahnya pucat dan berkeringat dingin.


Senja di bawa ke rumah sakit yang sama dengan Ryan. Keadaan Ryan saat ini dalam fase kritis. Beruntung ia bisa hidup, dilihat dari parahnya kecelakaan dan luka yang ia alami.


Senja pun sedang menjalani perawatan intensif, ia mengalami syok. Kondisinya juga terus melemah, mengingat jantungnya memang lemah.


*******


Senja berjalan perlahan menapaki jalan setapak. Ia sedang berada di dalam hutan yang rimbun. Berjalan sendirian terus ke depan. Ia memakai setelan santai khas orang yang sedang mendaki.

__ADS_1


Ia juga membawa tas carrier yang terasa cukup berat. Ia juga merasa kakinya lelah.


"Ah segar sekali disini...." Senja meregangkan otot-otot tangannya. Melihat ke sekeliling, seketika merasa damai dan bangga atas pencapaian dirinya untuk sampai di sini.


Suasana alam liar, suara dedaunan yang terkena angin. Yang selama ini hanya ia bayangkan saja, sekarang ada di depan matanya.


"Senja!" dari kejauhan terlihat seseorang melambaikan tangannya mendekati Senja.


Senja pun spontan menuju ke arah orang itu.


Dari postur tubuh seperti Senja sangat mengenalnya.


Sosok itu tersenyum lebar, dengan mata yang berbinar indah.


"Aku cari kamu dari tadi sayang, jangan jauh jauh lah." sosok itu menggenggam tangan Senja erat.


"Ryan?"


Rasanya tiba-tiba hati Senja menjadi sedih. Air mata pun meluncur ke pipinya.


"Lho kenapa? Kok nangis? Udah jangan takut, aku disini jagain kamu." Sosok Ryan itu segera memeluk Senja erat. Senja pun tak bisa membendung tangisnya lagi, ia menangis sesenggukan membasahi baju Ryan.


"Aku kira kamu udah nggak ada Ryan, aku kira kita nggak akan bisa ketemu lagi, aku kira aku nggak akan bisa mengatakan apa yang sebenarnya aku mau Yan."


Sosok itu tertawa lagi, "ssst ngomong apa sayang, ngomong aja, jangan ada yang kamu simpan sendiri." ucapnya sambil mengelus rambut Senja.


"Aku mau hidup sama kamu Ryan, aku mau sampai kapanpun kita bersama, aku nggak ingin sendiri lagi, aku mau berbagi apapun sama kamu Ryan, aku mencintaimu Ryan Arga Renditya!" ucap Senja mengeratkan pelukannya.


"Aku tau Sayang, aku tau itu dari dulu, kamu nggak perlu bilang apapun aku tau."


"Kalau kamu tau kenapa kamu pergi? Kenapa kamu nakutin aku! aku takut Ryan! Aku nggak bisa-"

__ADS_1


"Sssst! udah, jangan nangis lagi, sayang air matamu, terlalu berharga buat jatuh, aku juga mencintaimu sayang."


"Ryan kamu harus janji nggak akan pergi lagi!" Senja menunjukkan kelingkingnya.


Sosok Ryan tersenyum, "hanya Tuhan yang tau aku atau kamu akan kemana, asal kamu mau ikut denganku kita akan selalu bersama sayang." Ryan mengulurkan tangannya.


"Kita mau kemana Yan?"


"Kemanapun tempat yang kita impikan untuk hidup. Kamu mau pergi denganku?."


"Aku mau, tapi ayah dan bunda?."


"Kalau kamu ikut, semua masa lalu yang buruk akan segera berubah. Dan aku janji kita akan selalu bersama."


Mata Senja berbinar, mendengar dan melihat wajah Ryan yang teduh.


"Baiklah Ryan..." Senja mengambil tangan Ryan dan berjalan beriringan bersama.


"Pertama ayok kita selesaikan pendakian kita sayang." Ucap Ryan.


"Okey nanti kalau capek gendong aku ya."


"Ah ogah, kalau kamu capek aku tinggal."


"Nggak! janjinya apa tadi?"


"Iya iya cantik!"


Mereka nampak bahagia, tapi bukan di alam ini.....


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2