
Pagi ini Senja sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Senja segera turun ke bawah untuk sarapan bersama. Keluarga Hanggono meski sibuk dengan aktivitas masing-masing tapi mereka tetap berusaha mengawali hari untuk sarapan bersama. Agar kehangatan keluarga tetap terjaga, juga agar bisa tau kabar keluarga setiap hari.
Disana sudah ada bunda dan kak Jino. Kak Jino memang rajin, pagi pagi selalu sudah disini.
"Pagi bun.. kak Jino.. " ucap Senja sambil memeluk bundanya.
"Pagi cantik.. " jawab Jino.
"Pagi nak.. ayo duduk, ini udah bunda siapin.. " bunda sudah menyiapkan sarapan ku.
Seperti biasa kak Jino hanya minum saja, di tangannya sudah ada segelas susu yang sudah berkurang setengah. Masih senyum sendiri menatap Senja. Senja hanya geleng-geleng kepala melihat Jino.
"Bunda.. ayah belum pulang dari Berlin?" ucap Senja.
"Belum nak.. kayaknya agak lama disana, ada masalah sih kayaknya." ucap bunda sedikit sedih.
"Bunda udah kangen sama ayah?" tanya Senja.
"Ya iyalah nak.. istri mana yang suka ditinggal lama sama suami.. hahaha" bunda tertawa, wajahnya terlihat merah.
Senja yang melihat ini merasa sungguh senang, keluarga yang saling menyayangi. Kalau dipikir-pikir sebenarnya keluarga ini sempurna. Tapi bukankah tidak ada yang sempurna di dunia ini. Keluarga ini berkecukupan, harmonis, beragama kental.
Tapi Senja, anak satu satunya mengidap penyakit jantung sejak lahir. Bukankah Tuhan sangat adil?
Dia menuntun manusia agar selalu bersyukur dan bertaqwa dengan memberi mereka cobaan.
Dan menjadi manusia maka akan selalu menjadi masalah untuk manusia lainnya ( author pov)
Setelah selesai sarapan, Senja segera berpamitan ke kampus.
"Senja berangkat ya bund, Assalamualaikum.." ucap Senja sambil mencium tangan bundanya.
"Waalaikumsalam nak.. hati hati.. " ucap bunda.
"Tante.. Jino juga pamit, Assalamualaikum.." ucap Jino kemudian.
"Waalaikumsalam, ingat jaga Senja baik baik, jangan sampai hilang lagi anaknya." ucap bunda mewanti-wanti.
"Beres bund.." ucap Jino tersenyum.
++++++
Senja sudah sampai di kampus.Tatapan warga kampus aneh sekali, mereka melihat Senja dan Jino sambil berkasak kusuk. Senja sudah membatin hal ini pasti terjadi. Pasti gara gara ucapan Jino kemarin. Senja sudah memantapkan hati agar tidak terbawa emosi.
Sesampainya di kelas, Senja langsung diberondong pertanyaan oleh Ridho dan Nisha.
"Iya bener kak Jino pacarku, tapi aku kemarin terpaksa zeyenk, dia mau ngaduin aku ke ayah bunda pas aku kabur kemarin.." Senja menjelaskan kepada sahabat nya.
"Sejak kapan kalian sedekat ini? apalagi sama orang tua mu?" tanya Ridho sambil menyipitkan matanya. Jelas sekali dia curiga.
__ADS_1
"Duh jawab apalagi coba, .. nggak mungkin aku kasih tau dia bodyguard ku.." batin Senja.
"Zeyenk, lagi mikir mau ngeles apaan?" tanya Nisha tak kalah curiga.
"Nggak kok.. dia itu anaknya temen ayah ternyata, dan kemarin kita ketemu, jadi .. yaa gitu deh.. " ucap Senja.
"Oke, cukup disini dulu interogasi kita, dosen dah masuk." ucap Ridho.
"Syukur.. dosen masuk, nggak jadi ngeles lagi dah aku.." batin Senja lega.
Entah kenapa Senja melihat tempat Ryan, hanya melirik. Takut Ryan lihat.
"Lho.. nggak ada tuh.." batin Senja.
Lalu celingak celinguk melihat kesuluruh kelas. Tapi tak didapati Ryan ada disini.
Senja hanya berfikir kalau Ryan telat. Dia lalu fokus dengan penjelasan dosen.
Tapi setelah beberapa lama juga Ryan belum terlihat, Senja semakin gelisah.
"Apa dia semarah itu sampai nggak masuk? Ih ngapain juga sih aku pikirin jauh jauh.." Senja membatin sambil menggelengkan kepalanya.
Akhirnya kuliah hari ini selesai. Senja sedang membereskan mejanya, raut wajahnya terlihat murung. Ya, Senja sedih karena Ryan sampai tidak masuk kuliah karena sebal dengannya. Atau karena ia sedang berharap, bisa melihat Ryan hari ini. Entahlah, Senja sungguh ingin melepas rasa yang aneh ini.
Di mobilpun Senja hanya bisa terdiam memandang keluar. Kepalanya ia sandarkan di jendela. Jino merasa aneh.
Senja hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sama sekali tidak bergeming.
"Cantik... mau jalan jalan? ntar kakak bilang ke bunda?" ucap Jino lagi.
Senja hanya menggeleng lagi.
"Atau mau balon?" ucap Jino selugu mungkin.
Kali ini Senja menatap Jino. Sebenarnya dia sangat malas bicara. Tapi melihat Jino yang terus berusaha dia jadi tidak tega.
Senja mengulas senyuman, sambil menggelengkan kepalanya. Hanya itu jawaban Senja.
"Okey cantik.. tapi jangan cemberut, ntar jadi chabby" ucap Jino sambil menggembungkan pipinya.
Sebenarnya kalau suasana hati Senja sedang baik pasti dia tetawa terbahak-bahak melihat Jino. Tapi hatinya yang gundah masih belum bisa diselamatkan. Dia malah menjadi sedikit jengkel dengan Jino yang terus memaksa.
"Kakak bisa diam? Diamlah sebentar!" bentak Senja.
Seketika itu Jino langsung diam. Tak bicara apapun sampai rumah.
Senja juga langsung masuk tanpa mengucap sampai besok atau salam sekalipun.
Senja sudah gemas ingin menangis. Senja selama ini tidak pernah secengeng ini. Tapi yang dia alami kali ini adalah masalah hati yang rumit. Disatu sisi dia merasa nyaman dengan Ryan, disisi lain Senja tidak ingin namanya sampai terukir dihati Ryan.
__ADS_1
Apalagi sampai Ryan meninggalkan kuliahnya karena Senja.
Jino melihat punggung Senja masuk kerumahnya dengan tatapan yang ... entahlah.. Senja sudah membuat hatinya kebas.
Segera Jino mengambil motornya di garasi dan tancap gas pergi pulang.
Senja segera masuk ke kamar nya, menumpahkan segala tangisnya. Dia merasa khawatir terhadap Ryan tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Apa kamu kecewa Ryan?
Apa kamu marah?
Atau kamu sakit?
Atau kamu pergi?
Ah untuk apa kita sampai punya perasaan seperti ini,
Maafkan aku Ryan,
Namaku adalah Senja, dan kamu nggak boleh jatuh cinta dengan ku, aku akan menghilang dalam kegelapan, tidak lama lagi..
Dan setelah luka ini, kamu nggak akan terluka lebih dalam lagi karena aku, cukup, biar aku yang tau perasaan ku, ah ternyata..
Aku mencintaimu... " Senja menangis dalam diam.
Lama dia menangis sampai Allah memanggilnya untuk melaksanakan kewajibannya.
Segera Senja mandi dan berwudhu, ia ingin segera mengadu pada sang Khalik. Hanya Dia yang bisa menentramkan hatinya.
"Ya Allah Ya Rabb..
Sampai dimana umurku hanya Engkau yang tau,
Hamba memohon ampunan Mu, karena telah melukai sebuah hati. Bukan hanya hatinya Ya Rabb tapi juga hatiku sendiri.
Wahai dzat yang membolak-balik kan hati,
Balikkan hati kami menjadi tenang, dan sabar menerima cobaan Mu. Aku ikhlas dengan segala kesakitanku. Aku mohon ikhlaskan juga hatinya menerima keputusan ku. Aku mohon jaga dia untukku. Bila memang Engkau mentakdirkan kami bersama maka dia yang akan menjadi jodohku kelak. Sampai habis umurku"
Senja menumpahkan segala dalam hatinya.
Dadanya terasa sesak..
"Ya Allah kuatkan aku... Kuatkan. "
Silahkan like comment like fav vote bagi yang syuka yaaa.. terimakasih 😘
Yukk lanjooot 👇👇👇
__ADS_1