Rasa Senja

Rasa Senja
Bab 16


__ADS_3

Pagi ini sedikit mendung, Senja sudah berada di meja makan bersama Jino. Bunda Resma masih belum pulang, nampaknya beliau akan lama disana.


Senja mengamati kursi dimana ayah dan bundanya sering duduk saat makan.


Jino memperhatikan muka wanita cantik di depannya ini, wajahnya sendu.


"Tenang aja cantik.. om sama tante masih lama pulang nya.." ucap Jino.


"Hmmm .." ucap Senja dengan malas.


Pagi ini lagi lagi Senja hanya diam. Jino juga nggak mau memaksanya, di dalam mobilpun mereka masih saling diam.


Senja kangen sama ayah bundanya, juga dengan seseorang yang belum menampakkan batang hidungnya di kampus. Cuaca mendung hari ini semendung hatinya.


"Zeyenk kamu sakit?" tanya Nisha yang melihat Senja diam saja.


"Nggak kok, nggak papa.." jawab Senja, matanya masih fokus ke tempat Ryan biasa duduk.


"Yaudah, ayok ke kantin, nih aku sama Ridho dah mau jalan." ucap Nisha.


"Duluan aja.. aku pengen tidur aja bentaran.." ucap Senja tanpa mengalihkan pandangannya.


"Dia nggak masuk Nja.." ucap Ridho, seakan dia tau apa yang sedang Senja pikirkan.


"Ummm.. he em.." ucap Senja, kali ini dia memejamkan matanya.


"Yaudah kita cabut dulu, ntar kalo mau dijemput bilang aku.." ucap Ridho.


Senja tersenyum mendengar sahabat nya ini.


"Aku belum lupa jalan ke kantin.." Senja menjawab.


"Okey bye zeyenk.." ucap Nisha, lalu pergi bersama Ridho ke kantin.


Dalam perjalanan menuju kantin..


"Senja kenapa ya...? Nggak biasanya dia murung.." ucap Nisha.


"Nggak tau.. menurut ku sih karena Ryan nggak masuk beberapa hari ini.." ucap Ridho.


"Emang mereka ada hubungan gitu?" ucap Nisha.


"Entahlah.. " jawab Ridho.


Mereka lalu makan bersama di kantin, masih membahas soal Ryan yang absen kuliah.


"Hey... gua ikutan dong .. bangkunya penuh.." tiba tiba Deka teman sekelas mereka nimbrung.


"Monggo..." ucap Nisha.


"Eh ntar pulang kuliah ikutan kagak? Kita mau jenguk Ryan di RS?" ucap Deka.


"Innalilahi.. emang kenapa dia?" tanya Nisha.


"Katanya sih kesiram minyak panas kaki nya, pas dia lagi kerja.." jawab Deka.


"Lhah.. emang dia kerja tah? Kerja apaan?" tanya Ridho.


"Lho kalian nggak tau? dia itu kerja di resto, paruh waktu sih.." ucap Deka.


"Oh.. kasian juga ya.. " ucap Nisha iba.


"Kalian nggak tau juga pasti, dia kan sebatang kara, nggak ada ortu atau saudara.." ucap Deka lagi.

__ADS_1


"Hah? Gue kira dia tu anak mama.." ucap Ridho tak percaya.


"Yeee emang anak mama lah! tapi udah nggak ada sih ortunya.. " ucap Deka lagi.


"Trus di RS sama siapa dia?" tanya Nisha.


"Kita kita bantu ngejagain sih.. kasian gua liatnya.. luka nya mayan parah.." jawab Deka.


"Giliran gitu?" tanya Ridho.


"Iye .. mau ikut kagak ntar? sama anak anak kok.." ucap Deka.


"Iya lah.. kita ikutan.. iya kan Dho?" tanya Nisha.


"Hmmm.. iye..." jawab Ridho.


++++++


Selesai kuliah hari itu teman teman sudah bersiap untuk menuju ke RS tempat Ryan dirawat.


Jino segera menuju ke kelas Senja setelah jam kuliah usai. Senja masih berkutat dengan laptopnya.


"Zeyenk.. mau ikut nggak? kita mau ke RS jenguk Ryan.." ajak Nisha kepada Senja.


Mata Senja langsung membulat, mengetahui Ryan sedang sakit. Senja merasa sangat cemas, ada yang sakit dalam relung hatinya. Tapi dia nggak ingin sahabatnya tau dia sedang cemas. Wajahnya ia buat sedatar mungkin.


Tapi ini nggak berlaku pada Nisha, dia tau benar tadi rona muka Senja berubah sendu saat mendengar ini. Tapi segera berubah lagi. Nisha tidak ingin bertanya lebih jauh lagi, takut Senja terusik.


"Sakit apa dia?" tanya Senja, suaranya ia buat senormal mungkin.


"Kata anak anak sih kemarin dia kesiram minyak panas pas lagi kerja.." jawab Nisha.


Senja membulatkan matanya, selama ini dia sudah salah sangka ternyata.


Beberapa hari yang lalu, aku lihat dia baik baik aja?


Trus kapan dia kena?


Atau jangan-jangan pas di resto kemarin?


Segini nya aku ngerasa khawatir, dadaku sakit lagi.


Hhhh ,,batin Senja.


"Nja... Kamu ikut nggak?" tanya Nisha.


"Eh.. iya deh.." ucap Senja sambil mengusap dadanya, berharap rasa sakitnya mereda.


Mereka segera beranjak dan menuju ke parkiran.


Ponsel Senja tiba tiba berbunyi.


Kak Jino calling


"Assalamualaikum kak.."


"Waalaikumsalam cantik.."


"Kakak dimana? Bareng nggak?"


"Maaf cantik kakak nggak bisa bareng, ini lagi sama dosen pembimbing, lama banget dah.."


"Oh yaudah nggak papa, ini aku juga mau ke RS jenguk temen.."

__ADS_1


"Okay, hati hati, maaf kakak nggak bisa jagain, ntar kakak ke rumah.. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


+++++++


Senja sempat takut takut saat akan masuk ke ruangan Ryan. Takut nggak bisa mengendalikan hatinya sendiri. Tapi dia juga penasaran dengan keadaan Ryan.


Rasa penasaran dan khawatir nyatanya lebih besar dari rasa takutnya.


Teman temannya sudah di dalam duluan, tapi Senja masih di depan pintu, menyiapkan hatinya. Entahlah kenapa, jantung nya berdebar debar.


"Assalamualaikum.. " ucap Senja.


Sontak semua yang ada disitu memandang Senja dan menjawab salamnya. Tidak terkecuali mata Ryan yang menatapnya penuh arti. Sejenak mata mereka bertemu, tapi cepat cepat Ryan berpaling dan memasang muka datar. Seperti tidak ada siapapun yang baru saja datang.


Senja yang melihat ini menjadi tidak enak hati.


Ada apa?


Kamu marah?


Batin Senja.


Senja lalu bergabung dengan teman-temannya. Berusaha stay cool, meskipun hatinya gundah.


"Bro sory ini.. tadi nyokap telfon, gua hari ini nggak bisa nemenin lu.." ucap Deka. Ya ini jatahnya menjaga Ryan. Tapi nyokap minta diantar pergi.


"Ceh... dadakan banget sih.. kita juga nggak bisa udah ada schedule.." ucap Faris.


Sahabat yang bener bener setia, tapi sayang, malam ini mereka semua punya acara, termasuk Ridho dan Nisha yang sebenarnya juga nggak terlalu dekat dengan Ryan.


"Udah.. nggak papa.. gua bisa sendiri.. udah biasa.. " ucap Ryan kecut.


"Janganlah .. biar gua bilang nyokap dulu, gua suruh sopir aja dah.." ucap Deka.


Deka sudah memencet ponselnya hendak menelfon mamanya, tapi tiba tiba Ryan mencegahnya.


"Jangan kecewain nyokap lu, mumpung beliau masih ada, sayangi beliau.." ucap Ryan.


"Biar aku aja.." semua menoleh demi melihat siapa yang menawarkan diri.


Wajah Ryan pias, saat tau siapa yang menawarkan diri.


"Nggak usah!" jawab Ryan seperti sedang sedikit emosi.


Teman temannya pun heran dengan mereka.


Apa mereka ini masih saling membenci karena kejadian itu?


Tapi Senja dengan entengnya mau menjaga Ryan bukan?


Kenapa ditolak?


Ah embuh yaa.. author bingung sama mereka malu malu mau tau nggak.. hahahaha..


Oh ya jangan lupa like comment ya.. yang belum favorit.. di love dulu dahh.. vote juga yang banyak ya. . Ah author banyak maunya..


Hehehe..


Silahkan zeyenk bagi yang ikhlas aja..


Yuk lanjooot 👇👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2