
Masih di Flashback on
Pagi pagi sekali Jino sudah datang ke kediaman Hanggono. Tentu saja untuk membahas perihal pekerjaannya. Saat memasuki rumah itu, yang pertama ia cari adalah gadis pujaannya. Tapi sepertinya ini masih terlalu pagi untuk melihat bidadari turun dari kahyangan.
"Jadi ini keponakan Rizal ya?" tanya ayah Senja sambil mengulurkan tangan.
Jino segera menyambutnya, "iya om kenalkan saya Jino, saya satu kampus dengan Senja."
"Oke, kamu tau yang harus dilakukan?" tanya om Pradita mulai serius.
"Tau om semalam om Rizal sudah menjelaskan pada saya."
"Baguslah kalau kamu sudah tau, saya cuma tekankan sama kamu jangan sampai lalai, saya bisa jebloskan kamu ke penjara kalau sampai lalai." ucap om Pradita penuh penekanan.
Jino hanya bisa menelan ludah, "baik om.."
"Jadi gini Jino, Senja itu sebenarnya fisiknya cukup lemah, apalagi karena beberapa kejadian yang lalu membuat kondisinya cukup mengkhawatirkan."
Jino hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan om Pradita.
"Kamu harus memperhatikan dengan baik segala aktifitas nya, terutama yang bisa membahayakan kesehatan Senja. Biasanya saat sakit ia selalu pura-pura tidak apa-apa, itulah yang membuat saya khawatir." ucap om Pradita.
Jino terhenyak, bisa bisanya Senja seolah baik saat penyakit nya kambuh. Ia cukup tau, penyakit jantung Senja ini tergolong berat dan menyakitkan. Ini semakin melipatgandakan rasa kagumnya.
"Baik om, saya akan berusaha.."
"Bagus, ayo kita sarapan dulu," om Pradita berdiri dan menunjukkan jalan menuju ruang makan.
Sampai di ruang makan mata Jino terpaku pada gadis cantik yang ada di depannya. Entah kenapa jantungnya seakan ingin keluar menyambut pemandangan indah itu. Padahal sebelum ini mereka sudah sering bertemu meski tidak mengobrol lama. Dan sejak kapan ini? jantungnya mulai berdetak tidak normal!
Senja yang selalu nampak cantik, meskipun pagi ini wajahnya terlihat pucat. Ah Jino harus melindungi anugrah Tuhan ini, kalau bisa sekaligus memiliki hatinya.
Flashback off
Senja menghela nafas panjang setelah memberi ultimatum pada Jino. Ia segera duduk di bangku favoritnya, pikirannya sedang tidak disitu.
Senja sebenarnya tidak tega dengan Jino, selama ini ia begitu perhatian pada Senja. Dan beberapa hari tidak bertemu saja ada perasaan ganjil, yang biasanya ada Jino dan tiba tiba tidak ada.
Apa aku sudah benar-benar bergantung padanya?
Ah tidak! Senja hanya tidak ingin memberikan harapan untuk Jino, yang akan membuatnya merasa sakit saat Senja pergi. Yang jelas Senja tidak akan bisa memberikan apa yang Jino butuhkan.
"Sedih banget? habis putus?" tiba tiba suara yang Senja kenal menyapanya.
Orang itu dengan percaya dirinya duduk di samping Senja, dan menatap wajah Senja begitu dekat.
Kaget! dasar demit!
"Ngapain sih! ini kan bukan tempat duduk kamu!" sentak Senja, berusaha mendorong Ryan yang muncul tiba-tiba seperti hantu.
Senja lalu celingak celinguk mencari sahabatnya, yang ternyata sedang mengobrol dengan sahabatnya yang satu 'Ridho'.
Senja membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Lagi PMS? atau patah hati di depan kelas?" tanya Ryan santai, masih menatap Senja lembut.
"Bukan urusan kamu!" jawab Senja ketus.
"Ceh.. galak amat kayak kuntilmamak.."
"Eh apa? nggak salah ya? situ kali yang muncul tiba tiba kayak demit!" cerocos Senja kesal.
Ryan menyeringai, "Salah! gua udah disini sejak setengah jam yang lalu.."
"Whatever!" Senja segera beranjak hendak pergi, malas sekali meladeni pria ini.
Ryan menarik tangan Senja, mendudukkannya kembali.
"Jangan marah, aku minta maaf.." ucap Ryan lembut. Kali ini menatap mata Senja tulus.
"Aku bingung Yan sama kamu, dibilangin baik baik nggak bisa!" Senja terlihat sangat kesal.
"Iya maaf.. aku janji nggak bakal nglakuin itu lagi.." cicit Ryan.
Senja memutar matanya, jengah.
"Ini udah janji yang keberapa Yan? dengan kata kata yang sama?"
"SENJA! RYAN!" suara yang menggelegar dari depan mengagetkan mereka.
Dan ternyata, pak dosen sudah masuk, memulai kegiatan belajarnya. Tapi Ryan dan Senja tidak menyadarinya, mereka malah asyik berdebat.
"Setelah ini kalian ke ruangan saya!"
Ah, dan disini lah mereka sekarang. Berada di ruang pak dosen yang cukup tegas dengan mahasiswanya. Ini kali pertama untuk Senja, ia sama sekali bukan gadis bandel.
Dan Ryan, entah harus bersyukur atau bersedih.
Bersyukur karena mereka bisa lebih lama bertemu.
Bersedih karena pasti Senja akan semakin marah.
Ah pikirkan itu nanti, yang penting sekarang mereka sedang memiliki nasib yang sama.
"Kalian pilih sekarang, mau bapak hukum? atau dapat nilai E di mapel saya?" ucap pak Dosen tegas.
Ryan dan Senja saling berpandangan, mereka punya pikiran yang sama.
Bapak bercanda? Itu pilihan yang sama sama buruk!
"Em, saya pilih dihukum pak.." Ryan mengawali.
"Saya juga pak." Senja mengekor dengan pilihan Ryan. Bisa jatuh prestasinya kalau dapat nilai E.
Ayah dan bundanya pasti akan kecewa.
Mata bapak Dosen menatap mereka seakan ingin membunuh, aih..
__ADS_1
"Baik, hukuman kalian adalah mendekorasi panggung saat night party sabtu depan."
Jeng jeng
What?! Hukuman macam apa itu, nggak bisa aku tu..
Senja pov
Shit! Gua nggak suka party woi, lagian apaan tu dekor? ?
Ryan pov
Senja memijit kepalanya yang seketika pening. Bingung dengan hukuman yang ia terima. Sebenarnya tidak berat sih, tapi ia benar-benar tidak bisa mendekorasi apapun.
Sementara Ryan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia juga sama sekali tidak tau soal dekor mendekor, kalau resep masakan jangan ditanya.
"Yasudah kalian boleh keluar.." tanpa menunggu jawaban Ryan dan Senja, pak dosen sudah mengusir mereka.
"Sorry..." ucap Ryan setelah diluar.
"Hmm.." Senja menjawab malas, segera menuju parkiran.
"Cabut yuk.." ajak Ryan.
"Sorry Yan, aku ditunggu kak Jino kita mau cari buku ntar." tolak Senja.
"Oh .." jawab Ryan singkat, kentara sekali dia nggak suka.
Senja hanya meliriknya saja, tidak berniat bicara lagi. Ia sungguh kesal karena kejadian hari ini.
"Assalamualaikum.." pamit Senja.
"Waalaikumsalam.."
Katanya nggak menjalin hubungan sama siapapun? Tapi ini apa? Dekat sekali dia denganmu, semua orang pasti tau dia berhubungan dengan Jino.
Tapi kamu salah Senja! Gua nggak akan nyerah buat dapet hati lu! Meskipun gua harus mendapatkan hukuman karena itu.
Ryan pikir karena hukuman itu kemungkinan besar ia dan Senja akan selalu bersama, dan tentunya Ryan akan berusaha memupuk perasaan Senja agar berbalik menyukainya juga.
πΎπΎπΎπΎπΎ
Hay readers, mohon tinggalkan jejak loveβ€οΈ dan jempolmu π,
Tinggalkan komentar mu π¬,
Terimakasih π
Author juga butuh banget vote or tip.. sebagai suntikan semangat π
Terimakasih atas perhatian kalian,
Stay health and happy yaπ
__ADS_1
Love you all π