
Ryan mendengar semua yang dikatakan oleh Nisha, ia kini mengerti alasan Senja ingin menjauh darinya meskipun terlihat jelas ada cinta di matanya. Dan juga untuk perhatian yang sudah diberikannya pada Ryan, itu jelas karena Senja juga mencintainya. Ini artinya cinta Ryan tidak bertepuk sebelah tangan.
Ryan tidak ingin kehilangan gadis cantik itu, ia sungguh sangat membutuhkannya. Sejak ia menghilang sebulan ini, rasanya hidup Ryan sudah kacau. Ryan sekarang tidak perduli, apa yang harus ia lewati agar Senja menjadi miliknya. Ia akan mengambil jalan 'berjuang' .
Ryan segera melajukan motornya kerumah mewah itu lagi, masih ada satu jam sebelum ia bekerja. Tujuan ia datang ke rumah itu tujuannya adalah meminta maaf. Ini adalah langkah pertama yang paling penting untuk memulai.
Tak butuh waktu lama, dengan kecepatan tinggi ia bisa langsung sampai dalam beberapa menit. Saat melihat gerbang rumah ia malah teringat peristiwa itu, yang harusnya sangat berkesan karena ini adalah ciuman pertamanya. Tapi ia kembali meruntuki kebodohannya, yang mencium Senja tanpa permisi. Alhasil sekarang ia malah menjadi susah menemui gadis ini.
"Permisi mas? mau ketemu siapa?" tanya pak satpam yang ada di gerbang.
"Iya pak, saya mau ketemu sama Senja, apa dia ada pak?" ucap Ryan sopan.
"Ada perlu apa ya mas cari non Senja?" tanya Pak satpam.
"Saya teman kuliah nya pak. Mau menjenguk, dia ada kan pak?" terang Ryan.
Satpam itu nampak berpikir sejenak, menimbang-nimbang. "Saya tanya tuan dulu ya mas?" ucapnya kemudian.
"Iya pak."
Setelah menelfon tuannya, akhirnya ia mengizinkan Ryan masuk dan segera membuka gerbang untuk menemui Senja.
Ryan setengah berlari menuju kamar Senja, sebelumnya ia sudah disambut bibi dan dipersilahkan untuk menemui Senja di kamarnya.
Ia nampak tak sabar bertemu gadis yang sudah memporak-porandakan hati nya itu.
"Assalamualaikum."
Ryan terpaku mengamati wajah pucat Senja, rasa hatinya membuncah. Antara bahagia karena sudah bertemu dengan gadis yang ia rindukan, juga sedih karena keadaan Senja yang terlihat memprihatinkan. Tidak tampak wajahnya yang merona lagi, tidak tampak senyuman manis yang biasa menghiasi wajahnya.
"Waalaikumsalam, sini nak, kamu temennya Senja kemarin ya?" tanya bunda Resma yang masih duduk di sebelah Senja.
__ADS_1
Ucapan Bunda Resma menyadarkan Ryan kembali ke dunia nyata. Ryan menatap bunda Resma dengan penuh rasa bersalah.
Ryan segera menghampiri nya dan berlutut.
"Tante... saya minta maaf, karena saya Senja menjadi seperti ini." ucap Ryan tulus.
"Bangun nak, tante tidak menyalahkanmu. Tante tau yang sebenarnya terjadi ini adalah takdir dari Tuhan." ucap Bunda Resma bergetar, ia tidak dapat menahan air matanya lagi.
"Saya sungguh tidak tau tante, sebenarnya Senja sakit apa tan?" tanya Ryan berharap sebuah jawaban.
"Masalah itu kamu tanya Senja ya nak, biar Senja yang bercerita." ucap bunda Resma.
"Hm, baik tan."
"Sekarang kamu tunggu disini, tante permisi sebentar, jaga Senja, dia hanya sedang tidur."
"Baik tante."
Tanpa sadar Ryan mengelus pipi pucat Senja, kali ini ia nampak lebih tirus.
"Senja...." panggil Ryan.
Hanya sekali Ryan memanggil Senja, tapi Senja langsung membuka matanya. Sepersekian detik Senja tampak kaget, tapi ia langsung tersenyum, berusaha menutupi kegugupannya.
"Kok kamu disini?" tanyanya dengan suara yang masih lemah.
"Iya, aku kangen kamu Nja." jawab Ryan membalas senyum Senja dengan tulus.
"Hm? apa itu?"
"Hahaha, kenapa? Kamu nggak kangen aku?" goda Ryan.
__ADS_1
"Aku?" menunjuk dirinya sendiri. "Hm? maumu?" tanya Senja kemudian.
"Nggak tau, makanya aku tanya kamu Nja." Ryan menatap mata Senja dalam-dalam. Ia menggenggam tangan Senja lebih erat. Mengharapkan jawaban dari Senja.
"Tentang apa yang aku katakan waktu itu aku serius Nja, aku mencintai kamu." ucap Ryan mantap.
"Aku tau Yan... tapi aku..." ucap Senja menggantung.
"Kumohon Nja, lihat dalam dalam hatimu, apa kamu juga mencintai ku atau tidak? dan jangan sekalipun kamu membohongi aku!" kali ini Ryan sedikit lebih tegas.
"Aku sakit Ryan, jantungku lemah, beberapa minggu ini aku beristirahat setelah menjalani operasi kemarin, ini sudah yang kesekian kali aku operasi karena jantungku yang semakin lemah, jujur... Aku juga mencintaimu, tapi... Aku nggak bisa menjalin hubungan apapun sama kamu Ryan, aku nggak mau menjadi beban siapapun saat aku pergi..." air mata Senja mengalir tanpa permisi. Ia menarik diri dari Ryan, dan menangkupkan tangannya menutupi tangisnya. Bahunya berguncang seolah menandakan jiwanya yang juga terguncang atas keputusan yang diambilnya sendiri. Selama ini ia benar-benar berusaha keras untuk menyembunyikan apapun yang mungkin akan menjadi beban untuk orang lain, tapi seakan Tuhan memang sedang mengujinya. Bahkan bukan hanya Ryan yang mengatakan cinta padanya, kemarin ia juga diberi pernyataan oleh Jino. Yang malah terang-terangan melamar Senja di hadapan orang tuanya.
Flashback on
"Maaf kak Senja tidak bisa..." ucap Senja, matanya malah menatap kedua orang tuannya.
"Senja, tolong kasih kakak kesempatan untuk kita bersama selamanya." Jino masih kekeuh ingin menikahi Senja.
Kedua orang tua Senja dan mama dari Jino juga ada disana, mungkin mereka pikir Senja akan menyetujui lamaran Jino. Mengingat selama ini mereka begitu dekat. Yang jelas perasaan Senja terhadap Jino hanya sebatas sayang sebagai adik kakak, tidak kurang apalagi lebih. Sepertinya mereka semua menyalahartikan sikap Senja selama ini.
Senja hanya terdiam menatap Jino sendu, Jino masih terus berusaha meyakinkan Senja.
"Kakak nggak masalah dengan penyakitmu, sungguh kakak sangat mencintai kamu Nja, kakak janji akan melengkapi semua kekurangan kamu."
"Bukan ini kak masalahnya, sungguh aku sedang tidak ingin bersama dengan lelaki manapun, dan perasaanku dengan kakak tidak lebih sebagai seorang adik, rasanya mustahil untuk bisa jadi istri kakak." ucap Senja sendu.
Jino lalu melepaskan genggaman tangannya, hatinya saat ini pasti sedang terluka. Mungkin kalau dia perempuan, ia sudah menangis tersedu.
"Maaf kak, kalian bisa keluar, kepalaku pusing, saya ingin tidur..." usir Senja kepada semua orang yang ada disitu. Senja segera berbaring dan memejamkan matanya erat, ia tak ingin merasa jauh lebih iba lagi menatap wajah Jino, yang ia sayangi seperti kakak kandungnya sendiri.
Flashback off
__ADS_1