
Satu bulan berlalu, Ryan juga sudah pulang kerumah setelah 10 hari dirumah sakit. Restoran tempat Ryan bekerja memberikan kebijakan yang amat baik saat ia sakit, sampai Ryan sembuh benar baru boleh berangkat kerja.
Pagi ini Ryan sudah bersiap untuk pergi kuliah, setelah sebulan ia istirahat dirumah. Setelah pertemuan terakhir dengan Senja kemarin, sampai saat ini mereka belum bertemu lagi. Entahlah mungkin Senja masih berusaha menghindari Ryan. Jadilah saat ini Ryan bersemangat berangkat ke kampus karena sangat rindu dengan gadis itu.
Saat Ryan sudah naik ke motornya, ada suara nyaring yang mengganggunya.
"Woi brooo!" teriakannya sontak membuat Ryan menutup telinganya.
"Eh toa! bisa bisa yang mati juga bangun denger suara lu!" teriak Ryan juga, mengusap dua telinganya seolah pengang.
"Gile, sankakala kali!" ucap Miko yang segera menghampiri Ryan.
"Ngapain lu kesini lagi? gua mau ngampus!" Ryan segera menaiki motornya.
"Gak papa, gua cuma mau nebeng, tapi gua yang nyetir ya?" sebenarnya Miko hanya ingin mengantar sahabatnya ini, masih tidak tega karena baru sembuh.
Miko segera merebut stang motor dan menggeser posisi Ryan jadi di belakang.
"****! lu mau nyulik gua?" Ryan terlihat geram.
"****! siapa yang mau nyulik? nggak ada untungnya" Miko masih memaksa.
Ryan hanya menatap sahabatnya itu dengan malas, terpaksa mengikuti ajakan Miko.
Dalam hati ia senang karena sahabatnya yang sangat peduli, tapi sekaligus tidak suka karena Miko menurutnya terlalu berlebihan.
Ia sudah merasa sembuh benar, makanya ia berangkat ke kampus.
Ryan juga tidak mau banyak tertinggal.
Sesampainya di kampus,
"Makasih ya Yan.." Miko tersenyum berpamitan pada Ryan.
"Iye.. lagian lu mau kemana si?" jawab Ryan.
"Ada kencan lah bro, di kafe sebrang.." Miko mengedipkan matanya sombong.
"Gile.. pagi buta gini? kayak nggak ada waktu aja bro.."
"Udah kebelet..hahaha.. " Miko berucap dengan entengnya.
"Hoek hoek" Ryan memasang wajah mual.
"****! hamil lu?" Miko menahan tawanya.
"Iye ni anak lu!" Ryan berkata sebal.
"Amit amit! dah ah gue dah ditunggu, lu cari tuh ibu dari anak di perut lu ..hahaha" Miko segera berlari menghindari Ryan yang ingin memukulnya.
"****..!"
Senja yang saat itu sudah di kelas bersama Ridho dan Nisha melihat teman-temannya berkerumun.
Senja cuek, malas ikut ikutan.
Tapi setelah kerumunan itu menghilang, mata Senja bertemu dengan seseorang yang selama ini ia rindukan.
Mata itu juga menatapnya penuh arti. Cukup lama sampai akhirnya Senja sadar diri dan segera membuang muka.
Kedua sahabatnya yang menyaksikan Senja yang terus menghindar hanya saling tatap dan geleng kepala.
Mereka tau apa yang ada di dalam hati Senja.
__ADS_1
"Nja.." tiba tiba sang pemilik mata elang sudah ada di samping Senja.
Senja cukup kaget karena tiba tiba Ryan sudah disampingnya. Nisha dan Ridho segera pamit, takut mengganggu. Senja hanya menatap kedua sahabatnya, sebenarnya ia tak ingin bicara berdua dengan Ryan. Tapi untuk kali ini ternyata sahabatnya tidak mengerti dengan kode dari Senja.
"Ada apa sih Yan.." yang sebenarnya ia tidak ingin bicara, tetap saja kelembutan masih ada dalam suaranya. Wajah yang cantik, suara yang lembut membuat siapa saja yang mengenal Senja seakan tersihir.
"Gua mau nagih janji.." ucap Ryan datar, segera duduk di samping Senja. Memposisikan kakinya yang baru sembuh senyaman mungkin.
Melihat Ryan yang kerepotan membuat Senja iba, bagaimanapun hatinya sudah jatuh ke tangan Ryan. Senja hanya menatap nya saja, tanpa melakukan apa apa. Mencoba untuk mengacuhkannya.
"Kamu denger kan Nja..? gua mau nagih janji lu kemarin?" kali ini Ryan menatap mata Senja langsung, berusaha mencari sesuatu di dalam matanya.
"Sorry aku lupa..janji apa sih?" ucap Senja sesantai mungkin, berusaha menutupi kegugupannya.
"Ya elah, elu kan mau minjemin gua materi kan kemarin?" ucap Ryan.
Ah Senja baru ingat, ia langsung tersenyum.
"Iya .. nanti ya pulang ngampus," ucapnya tanpa melepas senyum.
"Okey, gua duduk sini ya, dosen dah dateng.." Ryan menunjuk dosen yang masuk ke kelas.
"Eh.. emm.. iya deh.." ucap Senja sedikit terpaksa.
Mereka segera memperhatikan dosen yang sudah memulai kegiatan belajar hari itu.
****
"Eh ini Yan.." Senja mengulurkan flashdisk untuk Ryan.
"Lho, udah masuk kesini semua?" ucap Ryan.
"Iya kebetulan udah kok" Senja menebarkan senyum lagi.
"Yah sambil ngulang ngulang gitu lah.." Senja tersipu.
Aish .. meleleh gua Nja.. batin Ryan
"Cabut yuk.." tiba tiba Ryan sudah menggandeng tangan Senja. Menariknya untuk ikut bersama Ryan.
"Eh eh.. aku udah di jemput Ryan.." Senja berusaha melepaskan genggaman tangan Ryan.
Ryan segera berhenti menatap mata Senja. Saat ini mereka sudah ada di parkiran, nampak mobil Senja ada disana.
"Kamu izin dulu aja.." ucap Ryan mengarahkan pandangannya ke mobil Senja.
Senja hanya geleng-geleng kepala, menolak Ryan.
"Nja please.. " Ryan memasang wajah memelas.
"Aku nggak bisa Yan.. " Senja masih berusaha melepas genggaman tangan Ryan.
"Mau izin atau gua bawa kamu dengan paksa.." Ryan mulai jengah.
Senja berpikir sejenak, ia sungguh jengkel dengan Ryan yang memaksanya.
"Bilang dulu mau kemana?" Senja masih saja bertanya. Kali ini nada bicaranya mulai tinggi.
"Oke kalau maumu itu.." Ryan segera menarik tangan Senja lagi.
"Oke oke oke..aku izin dulu.. ah nggak sabaran banget sih!" Senja mulai jengkel.
Segera Senja menghubungi bundanya, untuk izin pergi dengan temannya.
__ADS_1
Untung saja bunda tidak banyak bertanya dan segera mengizinkan nya pergi.
Sejak pulang dari Berlin kedua orangtuanya menjadi tidak terlalu over protektif. Entahlah apa yang membuat mereka melonggarkan kebebasan Senja, dan ini membuat Senja lebih nyaman bila kemana mana. Dan Jino? iya Jino sudah nggak jadi bodyguard Senja lagi. Sekarang Jino amat sibuk dengan skripsinya. Yasudah lah ya, kita balik lagi ke Ryan.
"Nah .. boleh kan?? ayo! waktu kita sedikit, nanti sore gua harus balik kerja.." Ryan menggeret Senja menuju ke parkiran selatan. Tempat parkir motornya.
Ryan sudah naik ke motor dan menyalakan mesin, lalu memberi Senja helm. Tapi Senja malah mematung, menatap motor Ryan dengan tatapan aneh. Yah memang motor Ryan cuma motor metik butut, keluaran tahun entah.
"Ish malah bengong sih ayok!" Ryan mengamati Senja. Ternyata motor!
"Nggak mau naik motor butut? yaudah gua pesenin ojol ayuk!" ucap Ryan seolah mengerti.
"Nggak usah, nggak papa kok, cuma baru kali ini aja naik motor sama cowok" Senja menyambar helm yang diberikan Ryan dan memakainya.
"Ngarang amat, kalo naek ojol nggak bonceng laki itu?" Ryan segera menjalankan motor nya setelah Senja sudah dalam posisi on naik motor.
"Ya beda lah.. " ucap Senja yang sebenarnya gugup karena sedekat ini dengan Ryan.
"Cih.. bedanya apaan? dalemnya juga sama kok!" Ryan berkata heran.
"Jorok!!" Senja berkata kesal.
"Emang dalemnya apa sih? kamu itu yang mikir jorok! hahaha.." Ryan mentertawakan Senja, sekilas ia melirik spion dan melihat wajah Senja yang memerah.
Aish , meleleh gua Nja! Batin Ryan
Senja meremas tangannya sendiri karena malu dan kesal.
Sejak kapan Ryan jadi genit? dia tidak ingat Ryan pernah berlaku seperti ini.
"Ini mau kemana sih?" ucap Senja masih terlihat kesal.
"Udah udah jangan marah.. maaf yaa.." ucap Ryan tulus.
"Hmm.."
"Udah dong, aku mau ajak kamu senang senang.. " bujuk Ryan.
"Yakali.. " Senja menjawab jutek.
Tiba-tiba motor melewati sebuah lubang, dan membuat motor sedikit oleng. Senja yang tidak berpegangan pun menjadi amat kaget, hampir saja ia jatuh. Jantungnya berdetak cepat.
Ryan juga langsung berhenti, menarik tangan Senja agar berpegangan erat.
"Udah gini aja, jangan dilepas!" ucap Ryan.
"Kamu yang hati hati dong bawa motornya!" Senja menggerutu.
"Iya maaf, kamu pegangan dong biar aman.." Ryan memegang erat tangan Senja.
Sementara Senja masih berusaha mengatur detak jantungnya. Dadanya mulai terasa sesak karena kekagetannya tadi.
"Kamu nggak papa kan Nja?" tanya Ryan khawatir.
Ryan melihat ke arah Senja, dilihat wajahnya seperti menahan sakit.
Mata Senja terpejam, berusaha menetralkan nafasnya.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers,
Like or comment,
Vote or tip boleh banget ituπ
__ADS_1
Terimakasih sayang sayangku π