Rasa Senja

Rasa Senja
Bab 22


__ADS_3

Pagi ini ayah dan bunda pamit lagi kepada Senja, mereka akan pergi ke Berlin lagi.


Ah entah apa yang mereka lakukan disana, akhir akhir ini orang tuanya semakin sibuk.


Kak Jino juga sudah satu Minggu tidak kerumahnya. Bukan, bukan rindu kok, Senja hanya kesepian bila dirumah hanya ditemani ART.


Ada untungnya juga kemarin Ryan mengajaknya pergi, jadi waktu dirumah sendiri tidak terlalu lama.


Flashback on


Senja sedang melepas helmnya dan memberikan kepada Ryan,


"Ayo mampir yuk, bunda sama ayah masih kerja.."


Ryan melihat jam tangannya,


"Maaf, ini aku mau langsung ke resto.. udah hampir telat .. lain kali ya.." Ryan mengusap rambut Senja lembut.


Senja tersenyum,


"Ya hati hati.. sampai ketemu besok.."


Cup


Ryan mencium dahi Senja, sebelumnya dia sempat tengok kanan kiri dulu, takut ada yang melihat.


"Ryan! Kamu...!" Senja tidak melanjutkan kata-katanya, ia langsung berlari masuk kedalam rumah.


Ryan sempat syok karena kemarahan Senja, ia kira Senja akan baik baik saja. Seharian ini kan mereka sudah dekat.


Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Salah langkah ni gua! Sial! Kenapa sih? Nggak tahan banget! Main nyosor mulu! Hah!


Ryan segera menjalankan motornya pergi dari situ.


Flashback off


Senja tersenyum mengingat kejadian itu, dia tidak menyangka Ryan lagi lagi menciumnya tanpa permisi. Tentu saja Senja marah, mereka belum menjadi sepasang kekasih.


Ah apa? Kekasih?


Rasa rasanya Senja terlalu percaya diri!


Bisa saja Ryan hanya sedang bermain dengan nya.


Sampai saat ini Ryan juga belum menyatakan apapun tentang perasaan nya.


Apa kamu sedang berharap Senja?


Apa kamu juga menyukainya?


Terlalu banyak bertanya!


"Nona silahkan sarapan nya.." bibi Pai membuyarkan lamunan Senja.


"Eh iya bi.. makasih.." ucap Senja.

__ADS_1


"Nona ditunggu tuan Jino di ruang tamu.."


"Kok nggak suruh kesini aja bi? aku mau ditemani makan.. "


"Iya non sebentar saya sampaikan.. "


Tidak berapa lama, Jino sudah berjalan kearahnya.


"Kak Jino, sini.." Senja menepuk bangku disebelahnya.


"Iya.. kangen banget ya sama aku cantik.." Jino tersenyum.


"Kangen? Sama kakak? idiiih.. aku cuma butuh temen makan.." ucap Senja remeh.


"Jangan sok jaim gitu, tambah imut tau nggak.." Jino mencubit hidung Senja.


"Aduh.. iya iya He em.. ayo makan yu.." Senja sudah mengambilkan makanan untuk Jino.


"Dih.. istri idaman banget.." Jino tersenyum kagum.


"Bawel! Makan!" Senja berkata galak.


"Hahaha.." Jino tidak melanjutkan perdebatan ini, dia segera menyantap sarapan nya.


Mereka berangkat ke kampus berdua, tanpa ditemani pak Dani kali ini. Jino akan menunggu Senja sampai pulang kuliah, kebetulan juga dia ada perlu di kampus. Hanya kurang 2 minggu lagi Jino akan sidang.


Mereka masih saling berbincang saat akan menuju kelas Senja,


"Gimana cantik? nggak ada yang ganggu kamu kan pas aku nggak ada.." tanya Jino.


"Emang ngaruhnya cuma sama kakak kan cantik.." goda Jino.


Senja tersenyum, tentu saja ada yang mengganggunya. Siapa lagi kalau bukan Ryan?


Seseorang yang sudah dua kali menciumnya tanpa permisi.


Senja sudah kecolongan!


"Kak udah deh.. kita kan nggak ada hubungan apa apa.." ucap Senja.


"Cantik lupa? dengan perjanjian kita?" Jino berkata penuh penekanan.


"Emang masih berlaku ya kak? terserah kakak kalau mau ngaduin aku, aku udah siap.." ucap Senja yakin.


"Ceh sekarang giliran udah nggak jadi boyband, eh bodyguard, kamu buang kakak?" ucap Jino memelas. Bingung juga, karena senjatanya untuk mengikat Senja sudah tidak berlaku. Sama sekali nggak rela bila Senja tidak jadi pacarnya, meskipun gadis ini hanya menganggap hubungan mereka pura pura. Ia ingin dari pura pura itu menjadi benar-benar.


"Emang udah lama sih aku mau buang kakak...hahaha.." Senja tertawa mengejek.


"Terserah kamu lah cantik.. asal kau bahagia deh.." Jino tersenyum. Dipikir-pikir nggak enak juga menjalani hubungan dengan keterpaksaan.


Yang jelas Jino akan berusaha mendapatkan hati Senja.


Mereka sudah sampai di depan kelas Senja. Senja berbalik dan menatap mata Jino tajam.


"Buang jauh jauh pikiran kakak itu, aku lebih bahagia kakak tetap menjadi kakakku.." Senja segera berbalik dan masuk ke dalam.


Jino hanya terpaku disitu, melihat Senja pergi.

__ADS_1


Bagaimana bisa gadis ini tau apa yang sedang ia pikirkan?


Ah hatinya sedikit sakit, tapi dia tidak akan menyerah. Perjuangannya baru akan dimulai.


Jino


Sebenarnya sudah sejak lama Jino mengagumi sosok Senja Amalia. Tapi masih hanya sebatas kagum saja dengan kecantikan dan keceriaannya.


Siapa yang tidak kenal Senja?


Gadis yang cukup populer di kampus, terkenal cantik, ramah, dan misterius. Meskipun bisa dibilang dia adalah gadis yang paling cantik, tapi belum ada yang berhasil mendekatinya. Gadis ini tidak seperti yang lain, yang biasa sombong dan angkuh karena kecantikan yang mereka miliki.


Bahkan setelah selama mereka dekat, Jino sudah melancarkan aksi tebar pesonanya, gadis ini sama sekali belum bergeming. Jino terbiasa dengan gadis yang klepek-klepek melihatnya, dan dengan mudah dia hanya tinggal memilih mana yang ia sukai. Tapi untuk Senja, Jino harus benar-benar berjuang.


Hati Jino perlahan mulai tertarik saat Om Rizal menceritakan kisah Senja. Sama sekali Jino tidak menyangka, gadis yang dari luar terlihat baik baik saja ternyata memiliki penyakit yang mematikan. Yang sewaktu-waktu dapat mengancam nyawanya.


Flashback On


Om Rizal, mama Mery dan Jino sedang makan malam bersama.


"Saya ada tugas untukmu Jino.." ucap Om Rizal tiba tiba.


"Om dah kayak dosen aja ngasi tugas.. hahaha.." Jino terkekeh.


"Haih.. kamu nggak mau tambahan uang jajan?"


"Idih kalau itu mah mau banget om.." Jino semangat.


"Giliran jajan aja semangat kamu!" ucap om Rizal.


"Tinggal bilang aja om tugasnya.." ucap Jino santai.


"Teman om, Pradita Hanggono, butuh bodyguard untuk anak gadisnya."


"Widih.. keren.. kamu jadi bodyguard Jino.." ucap mama Mery sambil mengacungkan jempolnya.


"Tapi kamu jangan selengekan! tau kan siapa Pradita Hanggono? jangan main main.." timpal om Rizal.


"Ok om beres itu, asal gadisnya cantik..hehe" ucap Jino jahil.


"Hmm.. kamu kenal kok, namanya Senja Amalia Hanggono, satu kampus sama kamu." ucap Om Rizal menunjukkan sebuah foto di ponselnya.


"Wah ini sih arwana om.." ucap Jino semakin semangat, ternyata Senja yang akan dia kawal.


Setelah itu om Rizal menjelaskan keadaan Senja yang sebenarnya, dan apa saja yang harus Jino perhatikan. Terutama menyangkut kesehatan Senja.


Jino merasa kagum, ternyata gadis cantik itu sudah berhasil menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dengan sangat baik.


Semua orang berhasil ia kelabui.


Hay readers, stay health and happy yaa..


Author minta jempol and love dong..


Vote atau tip juga boleh boleh banget😘


Terimakasih...🙏

__ADS_1


__ADS_2