Rasa Senja

Rasa Senja
Bab Empat


__ADS_3

Tersadar ..


Sayup sayup Senja mendengar suara sang bunda menangis lirih.


Senja mengingat tadi dia habis pingsan lagi.


"Bunda.." Senja bicara sangat pelan.


"Ya nak ..gimana sayang?apa yang sakit sayang?'' bunda sangat khawatir.


"Senja haus bunda.."


"Iya nak ini minumlah dulu.. "


Senja meminum air yang diberikan bundanya.


Selesai minum ia merasa lebih baik.


"Nak kamu istirahat ya jangan capek capek.. " bunda mengelus punggung tangan putri satu satunya itu.


Ceklek , .


Pintu terbuka dan ayah masuk sambil membawa makanan. Ayah langsung tersenyum melihat Senja sudah sadar.

__ADS_1


"Nak.. tenang lah kamu nggak papa kok.. " ayah berbicara seakan tau apa yang Senja rasakan.


Senja merasa sesak, air matanya turun tanpa permisi. Keinginannya sederhana ia hanya tidak ingin lagi menjadi beban dari siapapun. Kenyataan hidup terasa amat sulit ia terima. Selama ini ia selalu berusaha tersenyum untuk menyimpan rapat-rapat kesakitannya.


"Ya Allah kumohon kuatkan aku sekali lagi.. "


Senja menangis dalam diam menahan perih yang mengiris hatinya.


"Senja sedih ayah..maafkan Senja yang terus merepotkan kalian.. " Senja berkata sangat lemah.


Bunda hanya bisa menangis tanpa suara. Melihat anak semata wayangnya lemah tak berdaya lagi.


Dulu sebenarnya ini pernah terjadi saat Senja masih kelas tiga SMA.


Mungkin benar kata orang dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Sehingga dengan fisik yang sebenarnya lemah tapi dia bisa melewati segala kesulitan dan kesakitan sampai saat ini.


Kala itu Senja sampai berhari-hari tidak sadarkan diri. Bunda hanya terus menangis mengingat kejadian itu. Bunda takut kejadian itu akan terulang kembali.


"Bunda,ayah mau bicara sebentar." Ayah memberi kode kepada bunda untuk mengikuti nya keluar dari ruangan Senja.


"Ada apa ayah? " Tanya bunda penuh selidik.


"Bunda lebih baik setelah ini Senja biar kuliah dirumah saja,ayah takut kejadian ini terulang lagi. Apalagi anak anak seusia mereka memang suka bercanda canda. Ayah nggak tenang bund " ayah bicara panjang lebar.

__ADS_1


"Tapi ayah bunda takut Senja tidak setuju dan malah menjadi sedih.." bunda tertunduk.


Bunda tau sekali watak putrinya itu,ia sangat tidak suka dikekang. Bunda takut malah kesehatannya memburuk bila tau ayahnya membuat keputusan seperti ini.


Senja sebenarnya anak yang bebas dan tidak mau di kekang.


Ayah memegang tangan bunda, mengelusnya dengan lembut


"bunda tau ? tadi dokter bilang mungkin Senja nggak akan bertahan kalau ini terjadi lagi" ayah seketika terdengar sangat sedih.


Bunda menutup wajahnya kembali menangis,pilu..tanpa suara.


"Ya Allah anakku..." Seketika bunda terhuyung,dengan sigap ayah memapah bunda duduk di kursi sebelahnya.


Bunda menumpahkan segala ketakutannya dalam tangis. Takut sekali akan kehilangan Senja.


Ayah membiarkan bunda membasahi pundaknya dengan tangisan. Ia merasa sama sedihnya dengan bunda. Dunianya juga seakan runtuh,takut akan kehilangan anak satu satunya itu. Tapi ini harus mereka hadapi dan tidak mungkin bisa dihindari.


Hidup bergelimang harta pun tidak bisa membuat orang bahagia. Hartanya yang seakan tak akan habis pun tidak bisa membeli kesembuhan putrinya.


Selama ini dia berusaha mencari donor jantung untuk putrinya tapi tidak pernah ketemu sampai saat ini. Allah nampaknya belum berkehendak ingin menyembuhkan Senja.


"Ya Allah.. aku tidak akan pernah menyerah sampai ajal menjemput ku." Batin ayah.

__ADS_1


"Bunda ... Ayo kita temani Senja di dalam,kasihan pasti dia sudah lapar. Masalah itu kita bicara saat Senja sudah pulang.. "


__ADS_2