
Panggung sudah selesai dibuat, dan hasilnya tidak mengecewakan. Senja sampai kelelahan dibuatnya, ia sama sekali tidak mematuhi Ryan yang menyuruhnya duduk diam. Untung aja si centil Raharjanti tidak datang mengganggu mereka lagi, mungkin ia sedang ke salon, berdandan secantik mungkin untuk acara rutinan kampus itu. Senja tidak merasa perlu berdandan maksimal, ia pulang jam 3 sore dan segera beristirahat setelah membersihkan diri. Badannya terasa sangat lelah dan lemas.
Pukul 6 sore bibi Pai membangunkannya, dan ia segera bersiap untuk acara malam ini. Senja akan datang bersama ayah dan bundanya, siapa yang tau? Kampus itu adalah milik keluarga Hanggono. Selama ini ia menutup rapat-rapat tentang siapa dirinya, Senja ingin jadi mahasiswa yang normal dan biasa saja.
Malam ini Senja hanya menggerai rambutnya, menambahkan make up tipis pada wajahnya, dan sedikit lipstik merah menyamarkan bibirnya yang pucat. Ia memakai dress warna merah belahan dada sedikit rendah, lalu memakai jaket kulit casual berwarna hitam berkilau. Sepatu yang ia gunakan boot wanita berwarna hitam berkilau juga. Ia terlihat berbeda dari biasanya, biasanya ia feminim tapi ini terkesan agak tomboy dan strong. Mungkin orang akan agak sulit mengenalinya.
Setelah siap Senja segera berangkat bersama ayah dan bunda. Bunda pun tersenyum lebar melihat putrinya amat cantik dan trendy. Ayah juga tidak henti-hentinya memuji putrinya yang cantik.
Sampai di parkiran Senja permisi dengan kedua orangtuanya, ia ingin masuk bersama kedua sahabatnya. Kebetulan Nisha dan Ridho juga berada di parkiran, Senja tidak ingin menarik perhatian kawan-kawannya apabila ia datang bersama ayah Pradita Hanggono. Bisa-bisa heboh satu kampus nanti.
Ia masuk ke tempat pesta outdoor itu, acara sudah dimulai. Dan... siapapun yang melihat Senja melongo...
"Cantik..."
"Wow..."
"Siapa dia?"
"Buset, ini Senja??"
"Bukan.!"
Yang lain tampak berkasak kusuk, melihat Senja yang sangat berbeda.
Ryan beranjak akan menghampiri Senja, tapi tiba-tiba Raharjanti datang dan menggenggam tangan Ryan erat.
Ryan merasa sangat risih dengan Raharjanti yang menganggap Ryan seakan adalah miliknya. Ryan berusaha melepaskan genggaman Raharjanti. Mereka sempat berdebat kecil masalah ini.
Setelah berdebat cukup lama dan menjadi pusat perhatian di sana akhirnya Ryan lepas juga dari Raharjanti, ia celingak celinguk mencari keberadaan gadis yang mengisi hati nya itu. Tapi gadis yang ia cari nampak tak terlihat disana sini.
Ah itu dia!
"Damn! Keduluan si beruang kutub...!! S***!" umpat Ryan yang melihat Senja sedang tertawa riang bersama Jino. Ryan hanya melihat dari jauh, ia merasa panas di hatinya.
Lama sekali ia memandangi Senja yang terlihat senang.
__ADS_1
Apa dia adalah kebahagiaanmu Nja?
Kenapa hatiku merasa seperti tidak rela?
Apa benar aku mencintaimu?
Pikiran Ryan malah semakin kemana mana, ia sama sekali tidak memperhatikan acara yang sedang berlangsung itu.
Tiba-tiba mata Senja menangkap Ryan yang sedang menatapnya sendu. Senja segera berpamitan dengan Jino dan sahabatnya, ia menghampiri Ryan yang terlihat murung.
"Ada apa?" tanya Senja yang saat ini ada di hadapan Ryan.
Ryan mengulas senyum, "nggak papa... kamu asyik sama dia, aku nggak mau ganggu."
"Ganggu juga nggak papa, kan disana ada temen-temenku."
Ryan hanya menggeleng, membuang pandangannya ke arah lain. Ia ingin marah, tapi seolah tak berhak karena tak punya hak apapun atas Senja. Senja kan bukan kekasihnya.
"Kenapa sih kok jadi badmood gini? ini panggungnya bagus lho? kamu nggak seneng lihat hasil karya kita?"
Bukan itu.... Pikir Ryan
Senja menarik tangan Ryan dan membawanya ke dekat kolam. Ryan kaget sekali dengan ulah Senja ini. Mau apalagi sih? Tadi ketawa sama pria lain, sekarang semena-mena menarik tangan Ryan, membawa mereka menjauh dari kerumunan manusia. Sebenarnya apa perasaanmu Nja?
"Ada apa sih? Kalau ada masalah cerita, jangan dipendam sendiri." ucap Senja tanpa mengaca pada dirinya sendiri yang suka menyimpan masalah sendiri.
"Sejak kapan kamu peduli Nja?" tanya Ryan sambil tersenyum senang, mendapatkan perhatian dari Senja.
"Sejak kita temenan lah... nggak mungkin kan sejak bayik!" ucap Senja sedikit sebal.
"Aku pengen yang lebih dari itu Nja...." kali ini Ryan menatap mata Senja dalam, ia berusaha mencari jawaban di mata indahnya.
"Maksudnya?" Senja mengernyitkan dahi.
"Aku sayang kamu Nja...."
__ADS_1
Deg
Deg
Jantung Senja berdegup kencang.
Ryan mendekatkan wajahnya pada wajah Senja. Senja refleks menutup matanya, dua detik kemudian ia merasakan sesuatu yang kenyal menempel di bibir indahnya. Bau mint mendominasi penciumannya. Bibir Ryan ******* bibir Senja lembut. Seolah memberikan kode atas segala perasaannya yang hangat dan damai melihat bibir Senja tersenyum dan tertawa. Ryan tidak perduli dengan sekitarnya, ia ingin mengungkapkan segala perasaan indah yang menelusup di hatinya sejak kenal dekat dengan gadis cantik ini. Ryan berharap waktu sejenak berhenti, memberikan jeda untuk mereka bersama sama menyatukan hati. Tapi sepertinya Tuhan berkata lain kali ini.
Sejenak Senja menikmati ini,
"Awww.." pekik Senja, dadanya tiba-tiba sakit.
Senja menekan-nekan dadanya agar mau bernafas, Senja terhuyung jatuh. Dengan sigap Ryan menangkap tubuh Senja.
"Kenapa??" Ryan sangat panik, karena ulahnya yang ceroboh.
"Sakit Yan...." ucap Senja disela-sela nafasnya yang memburu.
"Ayo ke RS!" Ryan segera sigap membopong Senja. Untunglah disana tidak ada orang selain mereka, jadi tidak terjadi kehebohan.
"LEPASKAN DIA!" teriakan seorang lelaki paruh baya yang ternyata adalah pak Hanggono, membuat Ryan berhenti berlari.
Seketika ayah dan bunda Senja berlarian menuju tempat Ryan dan Senja. Melihat Senja yang sudah pingsan dalam gendongan Ryan emosi tidak bisa ia kontrol. Ia memberi pukulan tepat di pipi Ryan. Ryan terhuyung mundur tapi ia tetap berusaha seimbang agar tidak menjatuhkan Senja dalam gendongannya. Ia menatap ayah Senja nanar, perasaan kalut sudah memenuhi pikirannya. Ia takut kehilangan gadis yang baru ia sadari amat sangat ia butuhkan. Ia butuh Senja untuk melengkapi dirinya yang selalu merasa kurang saat tidak melihatnya.
"Kamu apakan dia! belum cukup yang kemarin hah!" teriak ayah.
"Maaf om...." ucap Ryan menunduk. Sungguh ia tak menyangka, kejadian ini terulang lagi. Dan kali ini perasaan cinta terhadap Senja sudah memenuhi hatinya. Rasanya lebih sakit seribu kali lipat dari pada yang dulu.
Pak Hanggono segera mengambil Senja dari gendongan Ryan, dan segera membawa ke Rumah sakit. Diikuti oleh bunda yang terlihat panik.
Sebenarnya sejak tadi mereka mencari-cari Senja.
Siapa yang sangka malah menemukan putri mereka dalam keadaan pingsan di gendongan seorang pria.
Entahlah mungkin ayah dan bunda tidak akan memaafkan orang itu, apabila sesuatu yang buruk terjadi.
__ADS_1