Rasa Senja

Rasa Senja
Bab 24


__ADS_3

Tiga hari sebelum acara party ini, Senja dan Ryan berdiskusi tentang dekorasi mereka. Tapi mereka sama sekali tidak punya ide. Acara party ini sekaligus mengundang banyak pengusaha. Karena ini bukan sekedar party, tujuan utamanya untuk menggalang dana amal. Mereka berdua tidak ingin mengecewakan kampus. Sebelum ini Senja sempat bertanya pada dosen yang memberikan hukuman untuk mendatangkan orang dari luar membantu mereka, tentu saja sang ahli dekor mendekor. Tapi ditolak mentah-mentah oleh kaisar dosen killer itu.


Mereka malah diancam akan tetap diberi nilai E.


Rasanya tentu mustahil untuk melakukan ini berdua saja, tanpa ide yang jelas.


Ah Ryan ingat, Miko sahabatnya ahli dalam hal ini.


Segera ia menghubungi Miko, mungkin dia bisa membantu untuk dekorasi nya.


Eksekusi biar dilakukan olehnya dan Senja agar sang dosen Raja tidak curiga. Ryan segera menelfon sahabat baiknya itu.


"Ko gua butuh bantuan lu, dekorin panggung buat acara party besok!"


"Ceh... boleh, tapi ada imbalannya."


"Gile, sama temen sendiri perhitungan lu!" ucap Ryan cukup keras, membuat Senja menatap nya tajam. Ryan hanya melambaikan tangannya melihat ekspresi Senja.


"Yaudah oke ntar gua traktir di resto tempat kerja kita...."


"Ceilah ini sih namanya ngakalin! kagak! ntar gua pikir imbalannya, sekarang lu wa gua foto panggung, trus konsep acara, ntar gua desainin...."


"Oke, jangan aneh aneh mau lu ya! awas lu!" ancam Ryan.


"Ni orang kagak tau terimakasih banget dah! iye... bawel kayak cewek lu!" gerutu Miko.


Ryan segera kirimkan apa yang Miko butuh. Tidak butuh waktu lama, Miko sudah mengirimkan gambar dekorasi sederhana tapi terkesan elegan dan mewah.


"Nja, dapet dana berapa emang buat dekor?" tanya Ryan kemudian.


"Emm... ada lah..."


Sebenarnya mereka tidak diberi anggaran untuk ini, pak dosen killer sudah diberi tau oleh Senja untuk tidak menyiapkan dana untuk ini karena ia yang akan membiayainya. Ya... dengan satu syarat saja, Senja boleh dibantu orang luar saat sudah benar-benar butuh. Tapi ia menyembunyikan ini dari Ryan, ia tau pasti Ryan akan memaksanya ikut menyumbang. Senja tau benar kehidupan Ryan, ia saja masih bekerja keras untuk membiayai kuliah dan kebutuhan hidupnya.


"Yan, besok ajak aja Miko buat bantu, ntar dibayar."


"Lho emang boleh?."


"Ntar biar aku bujuk lagi si dosen...."


Sehari sebelum acara, sejak pagi Ryan, Senja dan Miko sudah sangat sibuk mempersiapkan panggung. Mahasiswa yang tidak tau mereka dihukum hanya memandangi mereka. Ada yang merasa kasihan, mengejek, dan tatapan aneh lainnya. Terpaksa mereka bertiga harus mengacuhkannya, harus fokus karena ternyata banyak yang harus dikerjakan.


Untunglah, mereka juga tidak ada kelas.


Sudah pukul satu siang, mereka lantas beristirahat sejenak.


"Nja, wajahmu pucat? nggak papa lu?" tanya Miko melihat wajah Senja yang terlihat pucat.

__ADS_1


Seketika Ryan menengok, menatap wajah Senja. Segera ia menghampiri Senja dan berdiri dihadapannya.


"Ayok gua antar balik!" Ryan menarik tangan Senja.


Yah, memang begini bila Senja kelelahan. Ia pasti akan merasa lemah, tidak seperti orang normal.


"Apaan sih! nyante aja, eh udah aku pesenin makanan." Senja menepis tangan Ryan dan menghampiri abang ojol yang menuju ke arahnya.


Setelah ia terima dan membayar, Senja segera menyodorkan pada Miko dan Ryan. Ryan juga menepis makanan yang dibeli Senja.


"Ayo pulang!" ucap Ryan sedikit membentak. Menatap tajam pada Senja.


Miko hanya geleng-geleng melihat sifat sahabat nya yang tidak mudah dibantah.


"Sssst, bawel! udah gih makan dulu!" ucap Senja tenang, lalu menggandeng tangan Ryan dan mendorong nya untuk duduk dengan nyaman.


"LEPASIN TANGAN LU!" tiba-tiba ada yang menarik tangan Senja dari Ryan.


"Dasar GANJEN! pegang pegang milik orang sembarangan, mau mati lu?" ucap nya kasar pada Senja.


Senja dengan kesabarannya hanya tersenyum menatap wanita dihadapannya yang sedang emosi mode on.


"Sarap ni cewek! Ryan milik gua!." teriak gadis cantik itu.


"Stop Jan, gua bukan milik siapapun! lu pergi dari sini baik baik atau gua seret lu!." ucap Ryan yang juga sangat marah melihat Senja di maki.


Raharjanti tidak gentar malah ia menarik lengan Senja paksa, Senja juga bertahan dengan sekuat tenaga nya, dan....


Sobeklah dres yang dipakai Senja di


bagian lengannya. Senja segera menutupnya dengan telapak tangannya.


"B*******! cewek gila!" Ryan segera menyeret Raharjanti menjauh. Dibantu oleh Miko tentunya.


Sedangkan Raharjanti masih mengeluarkan sumpah serapahnya.


Meronta ingin melampiaskan emosinya pada Senja lagi.


Pluk


Tiba tiba ada yang memakaikan kemeja pada Senja, ia segera menengok.


"Kak Jino?" tatap Senja kaget.


"Ayo pulang cantik, apa kupingmu tidak panas dimaki dari tadi?" ucap Jino sambil menangkupkan tangannya di pipi Senja. Senyuman tidak luput dari bibir Jino. Menatap Senja dengan tatapan lembut dan menyenangkan. Sungguh berbeda dengan tatapan elang Ryan yang tajam.


"Bentaran kak, Senja harus selesaikan ini, aku nggak papa kok."

__ADS_1


"Hmmm... nanti kalau om tau?" tanya Jino.


"Ayah nggak akan tau kalau kakak nggak bilang."


"Okey, tapi kakak temani ya? takut ada yang jahil, ini kemejanya kamu pake aja."


"Iya kak, ayok makan, aku baru mau makan." ajak Senja dan merekapun makan seporsi berdua.


Ryan dan Miko sudah membereskan Raharjanti yang tidak jelas itu, segera mereka kembali ke panggung.


Deg


Jantung Ryan berpacu cepat melihat kemesraan Jino dan Senja. Tangannya mencengkram kuat. Miko tau sekali Ryan sedang cemburu mode on, segera ia menyikut Ryan. Miko berkomat kamit tanpa suara.


Ayo


Ryan masih berusaha menepis rasa cemburunya. Ia menghampiri Senja dan Jino yang sedang makan berdua, berusaha mengacuhkan mereka dan fokus pada makanannya sendiri.


Jino pun hanya melirik tajam pada Ryan.


Jam lima sore akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkannya besok. Sudah 70% jadi, sisanya untuk besok. Mereka kasihan pada Senja yang sejak tadi masih terlihat pucat. Jino yang ada disitu juga terus terusan berdehem memberikan kode untuk mereka segera berhenti.


Saat Senja ingin mengambil tasnya, Ryan segera menggenggam tangan Senja.


"Balik sama gua ya?." ajak Ryan, tanpa memperdulikan Jino yang menatapnya tajam.


Senja sekilas melirik pada Jino, Jino terlihat menggeleng.


"Aku sama kak Jino deh, kasihan dia udah nungguin dari tadi siang...." tolak Senja halus.


Jino tersenyum lebar mendengar Senja mengerti jalan pikirannya.


"Tapi lu nggak papa kan? muka lu pucet banget, besok nggak usah bantu lagi, duduk manis aja ya?."


Ryan berkata amat lembut. Bukan seperti Ryan yang biasanya.


"Tapi...."


"Nurut susah amat sih, gua nggak akan ngadu sama dosen kok!" paksa Ryan, tapi nada bicaranya masih lembut.


"Okey lah." ucap Senja terpaksa, wajahnya berubah sedih. Ia merasa bersalah, baru juga begini sudah sakit aja.


Ryan mengusap rambut Senja lembut, ada desiran aneh menetes dalam hati Senja. Hatinya terasa bahagia, teduh, ah tidak bisa diungkapkan dengan huruf huruf lah. Wajahnya yang pucat, terukir sedikit semburat kemerahan.


"Anak baik, istirahat ya...." ucap Ryan tersenyum hangat.


Jino tentu kepanasan mendengar rayuan Ryan, apalagi melihat wajah Senja yang tersipu. Semakin membuat rasa cemburunya mode on.

__ADS_1


Segera ia menarik tangan Senja dan membawanya pulang.


Senja hanya melambaikan tangannya pada Ryan dan Miko sambil tersenyum manis.


__ADS_2