Rasa Senja

Rasa Senja
Bab Enam


__ADS_3

Perdebatan


Senja terbangun saat mendengar bel pintu rumahnya. Ia merasa sangat lapar.


Senja beranjak pelan dari kasurnya dan berjalan turun kebawah. Senja masih merasa lemas,tapi dia juga tidak mau bermalas-malasan.


Sayup sayup terdengar suara ayah dan seseorang yang dirasa ia kenal. Setelah turun beberapa langkah ia bisa melihat dengan jelas siapa yang datang.


" Lho itu bukannya Ryan ya? Ngapain cowok rese itu kesini.. " seketika bibir Senja jadi manyun.


Senja hendak menghampiri ayahnya dan Ryan.


Langkahnya terhenti mendengar perkataan ayahnya bahwa Senja tidak akan kuliah lagi.


Senja tidak menyangka ayahnya akan mengambil keputusan sepihak tanpa bicara dulu dengan Senja.


Yang jelas Senja tidak mau berhenti kuliah di sana hanya karna kejadian kemarin. Senja merasa marah sekali, tapi bagaimana bisa dia marah terhadap ayahnya. Selama ini senja sangat menghormati kedua orangtuanya. Selalu berusaha bicara sehalus mungkin meskipun sering tidak sepaham dengan keputusan orang tuanya yang mengekang Senja.


Senja tau mereka hanya khawatir dengan kesehatan Senja yang naik turun. Tapi kali ini ayahnya sungguh keterlaluan.


"Ayah.. " Senja bicara lirih..


Ayah yang mendengar suara putrinya menengok ke sumber suara, alangkah terkejutnya dia melihat Senja terhuyung hendak jatuh.


"Senja !"


Segera ayah menangkap tubuh anaknya yang tiba tiba lemah.Ayah menggendong putrinya yang sudah tidak sadar menuju ke sofa terdekat.


Bunda yang mendengar teriakan ayah segera menghampiri.


Bunda lebih terkejut melihat putrinya sudah pingsan lagi. Bunda berlari menghampiri Senja dan ayah .


"Bi .. segera hubungi dokter Rizal .!"


Bibi segera menghubungi dokter dan mengatakan bahwa beliau akan segera sampai ke kediaman Hanggono.


Dokter sudah memeriksa keadaan Senja.

__ADS_1


"Bagaimana Senja Zal?" Tanya bunda khawatir.


Ayah dan bunda segera menyimak penjelasan dokter Rizal. Beliau adalah dokter pribadi Senja.


Yang paling tau keadaan Senja sejak bayi.


Juga sahabat dari ayah dan bunda.


"Resma jangan khawatir.. Senja masih stabil, nggak perlu di bawa ke rumah sakit lagi."


"Alhamdulilah.. " jawab kedua suami istri itu berbarengan.


" Ta .. Res.. saya harus bicara penting mohon disimak baik-baik ." Dokter Rizal tiba tiba serius.


Ayah dan bunda segera menyimak Rizal,


"Sebaiknya jangan membuat senja merasa sedih, kaget , lelah , atau terlalu senang ! Biarkan saja dia melakukan yang dia sukai kalian jangan terlalu memaksa dia." Dokter Rizal seakan tau apa yang difikirkan Senja. "Percikan apapun tentu bisa membahayakan Senja saat ini." Timpal Rizal kemudian.


"Saya nggak tenang Zal kalau Senja diluar pengawasanku." Jawab ayah.


"Saya tau Ta.. tapi ingat Senja juga manusia biasa, butuh bersosialisasi jua. Gini aja kalau kalian khawatir saat Senja ada diluar kasih aja bodyguard buat dia." Rizal sangat mengerti kekalutan kedua sahabatnya ini.


"Ayah.. bunda .. Senja mohon cukup ..jangan kekang Senja lagi .. kumohon ayah.. " Senja memohon membentuk tangannya memelas. Tidak lupa wajahnya dibuat seimut mungkin .hahaha


Ayah langsung membuang muka takut luluh melihat putrinya. Ia lebih khawatir dengan kesehatan Senja.


"Tidak nak .. kali ini kamu memang harus menurut dengan ayah !" Ayah bicara tegas. Ia tidak mau Senja membantah lagi.


"Senja nggak mau ayah.. Senja akan tetap berangkat kuliah besok.. " kali ini Senja tidak melembutkan suaranya, justru lantang meninggi.


Bunda dan ayah sedikit kaget karena ini pertama kalinya Senja berani bicara nada tinggi terhadap mereka.


"Senja ! Sejak kapan kamu jadi bisa bicara begitu dengan orang tua mu! " nada bicara ayah pun meninggi.


"Ayah mengerti.. ini semua karna pemuda tadi? Iya?!" Ayah bertanya menyelidik.


Jangan jangan benar dugaan nya pemuda itu ada hubungan dengan putrinya.

__ADS_1


"Ayah jangan menuduh Senja tanpa tau kebenaran yah. . Senja cuma ingin hidup normal ! Apakah ayah bisa mengabulkan permintaan ku ini? Selama ini Senja nggak pernah minta apapun yah.. Senja mohon.." belum sempat Senja bicara ayah sudah memotong.


"Tidak Senja .. ikuti kata kata ayah! " Ayah bicara tegas.


"Senja mohon ayah.. mungkin ini permintaan Senja yang terakhir.. " Senja bicara sangat lirih.


Bunda yang mendengar kata kata Senja pun langsung menghambur memeluk putrinya itu,bunda menangis. Bunda sungguh takut, putrinya sudah kehilangan semangat. Bunda tau selama ini yang membuat Senja kuat hanya semangat dan kemauan yang tinggi. Tapi sekarang kenapa menghilang..


"Bunda mohon nak.. jangan pernah lagi kamu bicara begini.. bunda nggak sanggup nak.. " bunda menangis sesenggukan.


"Nak .. kamu harus tetap kuat seperti biasa nya..jangan kehilangan dirimu yang dulu nak.."


Bunda masih sesenggukan memeluk putri semata wayangnya.


Senja tidak menangis, meski hatinya sakit.


Tapi ia harus kuat di depan orang tuanya.


"Ayah please.. biarkan Senja menjalani kehidupan seperti biasanya! " Bunda memohon tanpa melihat ke ayah.


Ayah hanya menatap kedua orang yang sangat ia sayangi itu.


"Baiklah .. tapi dengan satu syarat, Senja harus di dampingi bodyguard. " Ayah menjawab tegas.


"Tapi ayah.. Senja malu kalo harus pakai bodyguard.. " Senja kekeuh.


"Lakukan atau kamu nggak boleh kuliah lagi..!" Ayah langsung pergi sambil memberi kode dokter Rizal agar mengikuti nya.


Ayah mengantar dokter Rizal sampai di depan rumahnya.


"Ta saya ada calon yang cocok untuk jadi bodyguard untuk Senja, satu kampus dengan Senja, jadi orang-orang nggak akan melihat aneh ke mereka." Dokter Rizal menyarankan.


" Dia keponakan ku sedikit banyak dia juga tau masalah medis. ."


"Oke Zal suruh besok pagi dia menjemput Senja .


Saya mau lihat dulu orang nya, nggak mungkin saya langsung ambil keputusan pakai dia kalau belum tau orang nya .. yah meskipun itu keponakan mu Zal.. hahaha" ayah tertawa merasa sedikit lega.

__ADS_1


"Oke.."


__ADS_2