
Senja menatap mata Jino dengan tajam,
"Kak.. aku dengar semua yang dibicarakan dokter waktu itu, aku bersyukur sudah diberi hidup sampai saat ini kak.. aku nggak mau ada yang tersakiti saat aku pergi.. " ucap Senja. Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.
Langit pun semakin meredup tanda malam akan datang.
"Berikan dirimu kesempatan Senja, untuk jadi wanita yang sempurna karena dicintai.." ucap Jino.
Jino menunjuk matahari yang beberapa saat lagi akan tenggelam. Berharap kesedihan Senja akan tenggelam juga.
Sebelumnya Jino tidak pernah se simpati ini dengan seorang gadis. Sepertinya hati Jino sudah luluh oleh pribadi Senja.
Senja melihat kearah matahari yang ditunjukkan Jino tadi. Dia kembali tersenyum memandang langit senja yang sangat dia sukai. Meski sebenarnya hatinya sedih, mungkinkah dia m huftelihat esok hari?
Selalu ini yang dia katakan setiap hari setelah malam datang.
Langit sudah sepenuhnya gelap saat pak Dani memanggil Senja.
"Non tuan besar menyuruh non untuk menginap di hotel yang sudah beliau tunjuk, mari saya antar non, hari sudah gelap" ucap pak Dani.
"Baik pak.. ayo kak.. " Senja beranjak dari sana mengajak Jino.
Saat sampai di mobil telepon Senja berdering, ayahnya menelfon.
"Assalamualaikum ayah.." ucap Senja.
"Waalaikumsalam nak.. dimana kamu sekarang?" tanya ayah.
"Sudah naik mobil yah, baru mau ke hotel" jawab Senja.
"Oke nak, hati hati disana, minta segala hal yang kamu butuhkan pada Jino atau pak Dani, jangan terlalu lelah ya!" ucap ayah mewanti-wanti.
"Iya ayah, besok Senja masih mau liburan disini ayah, boleh kan?" tanya Senja.
"Boleh asal ingat kondisi mu! jangan pergi kemana-mana sendiri, minta Dani atau Jino temani!" jawab ayah.
"Siap bos!" ucap Senja senang.
Setelah terima telfon itu wajah Senja berseri seri.
Senang karena dia bebas besok!
"Cantik.. apa kita perlu ke dokter? Kamu senyum terus ntar ilernya turun.. hahaha.. " Jino meledek Senja.
"Biarin kakak biar kabur!" ucap Senja manyun.
Sambil menepuk lengan Jino.
"Terus aja pukulin, abang rela dek!" ucap Jino senang.
"Mulai deh! modus terus yak!" ucap Senja malas.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa cantik... setiap hari kamu akan mendengar kemodusanku.. hahaha" ucap Jino.
"Pait pait pait... " ucap Senja sambil menutup matanya.
Mereka berdua tertawa senang.
Sampai di hotel..
__ADS_1
"Daa Senja.. mimpiin aku ya.. " ucap Jino sambil melambaikan tangannya.
Senja hanya tersenyum menanggapi candaan Jino.
Senja merasa senang hari ini, ia bisa curhat dengan Jino. Senja juga merasa nyaman atas keberadaan Jino. Ia merasa terlindungi, jelas sih Jino kan bodyguard nya.
Setelah ibadah shalat isya, Senja segera merebahkan dirinya. Cukup lelah juga perjalanan hari ini. Segera ia menutup matanya hendak tidur.
Rasanya baru sebentar Senja tidur, dering ponsel membangunkannya. Senja melirik jam,
"Siapa sih tengah malam gini telfon.." gerutu Senja.
"Halo Assalamualaikum, siapa?" jawab Senja.
"Waalaikumsalam, ini gua Ryan, nomor ku nggak kamu simpan?" ternyata si Ryan.
"Sorry belum sempat, ada apa?" tanya Senja.
"Gua masih penasaran, bener Jino itu pacarmu?" ucap Ryan.
"Masya Allah, nelfon tengah malem kayak gini mau tanya itu doang?" batin Senja.
"Senja lu masih disitu..?" ucap Ryan darisana.
Senja punya ide bagus,
"He em, dia itu pacarku.. " ucap Senja pelan.
Ini supaya Ryan menjauh dari Senja. Meskipun dalam hatinya terasa ada yang cuil.
"Oh.. sorry ya ganggu.. " ucap Ryan segera menutup teleponnya.
Senja merasa sesak di dadanya.
"Ya Allah.. aku kenapa.. kenapa hatiku juga rasanya sakit.. " ucap Senja.
Bulir bulir air mata jatuh, Senja tidak menyangka kalau hatinya juga akan sakit.
Segera ia bangun mengambil air wudhu, membasuh badannya dengan air wudhu. Senja menjalankan Shalat malam.
Dalam doanya Senja meminta ampunan, karena telah melukai hati seseorang. Senja juga meminta agar dikuatkan lagi hatinya.
Air matanya terus turun, Senja berusaha tidur lagi tapi nggak bisa.
Senja mengambil ponselnya, memakai headset, menyetel musik yang ia suka.
Lama kelamaan akhirnya ia tertidur.
Tok tok tok
Ada yang mengetuk kamar Senja, dia masih belum bergeming.
Tok tok tok
Senja belum bangun.
Tok tok tok,
"Cantik.. bangunlah.. sudah hampir pagi.." ucap Jino.
__ADS_1
Senja langsung bangun, tidak ingin melewatkan ibadah Subuh nya.
"Kakak tunggu aja di resto, ntar aku nyusul.." ucap Senja.
"Okey.. jangan lama lama" ucap Jino meninggalkan Senja di kamar.
Senja melihat kak Jino dan Pak Dani sedang bercakap-cakap saat dia menuju resto.
Ia segera menghampiri mereka.
"Pagi nona.. " sapa pak Dani.
"Pagi pak.. pagi kak.. " jawab Senja.
Jino memperhatikan Senja lekat lekat.
"Apa ada yang sakit cantik? kenapa sembab sekali mukamu.. kenapa kamu menangis?" tanya Jino khawatir.
"Kakak lebay! nggak papa aku tuh cuma nggak bisa tidur aja.." jawab Senja.
"Nona, biar saya antar ke dokter, muka non pucat.." pak Dani menimpali.
"Nggak pak, aku baik.. " jawab Senja.
Mereka hanya mengangguk melihat Senja kekeuh tidak mau. Lalu mereka melanjutkan sarapan pagi itu. Pak Dani sudah selesai duluan lalu pamit ke smoking area.
"Selamat siang nona, tuan" sapa seseorang yang memakai chef jaket.
"Siang .. " jawab Senja dan Jino bersamaan.
"Saya chef Beni, apakah nona puas dengan sarapan pagi ini, saya buatkan special untuk nona Senja.. "
"Puas kok chef, makasih.." ucap Senja.
Matanya langsung tertuju dengan orang dibelakang chef Beni.
Senja kaget, "Ryan.." batin Senja.
Chef yang mengetahui pandangan Senja, segera memperkenalkan Ryan sebagai *** chef dari resto *****. Ryan disini sedang belajar.
"Oh.. good luck deh .." Senja menjawab penjelasan chef, nada bicaranya dia buat secuek mungkin. Senja berusaha menghindari tatapan Ryan yang tajam.
Chef juga langsung permisi melihat rona muka Senja berubah saat melihat Ryan.
Di dapur..
"Mas Ryan ada masalah sama non Senja ya?" tanya pak Beni. Pak Beni juga melihat rona muka Ryan merah menahan amarah.
Yang ditanya hanya menggeleng.
"Hati hati aja mas, non Senja itu anak pak Hanggono, pemilik hotel ini, resto tempat mas Ryan juga. Jangan bikin masalah sama nona" pak Beni mewanti-wanti.
"Ternyata dia cewek kayak gitu, baru juga pacaran udah mau diajak ajak ke hotel, berduaan lagi.. ngapain coba!" batin Ryan kalut.
"Jadi ini alasannya dia mau jauh jauh dari gua.. okeyh!" Ryan mengepalkan tangannya, benar benar merasa cemburu dan marah.
Hay readers, please minta like,fav,tip, vote and comment nya yuap..
Salam sayang dari Author .. 😚😘
__ADS_1