
Senja terbangun saat mendengar suara adzan Maghrib, tertidur setelah shalat, terbangun karena waktu shalat lagi.
"Hoammmmm.. ketiduran akunya.." ucap Senja.
Segera ia bangun dan mengambil wudhu. Melaksanakan kewajibannya shalat Maghrib. Lagi lagi menumpahkan segala kegundahan hatinya.
Hanya ini yang bisa menenangkan hatinya sekarang. Bukan Ryan, apalagi Jino. Ia juga nggak mungkin cerita dengan orang tua nya.
Selesai ritual curhat, hatinya sedikit lega. Segera ia ke ruang makan karena sudah sangat lapar, sejak siang Senja belum mengisi perutnya.
Sampai diruang makan Senja sedikit kaget, Jino ada disitu.
"Mau apa lagi sih kakak ini.. hemmm... " batin Senja.
Saat ini ia benar-benar tidak ingin diganggu.
Ia langsung duduk dan tidak bertanya apapun pada pacar pura-puranya ini.
Jino mengernyitkan dahi melihat Senja yang cuek.
Jino juga tau diri, dia memilih diam melihat Senja masih bad mood, dari pada kena semprot seperti tadi siang.
"Nona silahkan makan, tadi bibi panggil makan siang nona nggak jawab.." ucap bibi Pai yang tiba-tiba sudah mengambilkan makan untuk Senja.
"Aku ketiduran bi.. bunda belum pulang bi?" jawab Senja.
"Nyonya tadi pamit ke Berlin non, nyusul tuan." ucap bibi.
"Ke Berlin? kok nggak pamit aku ya??" ucap Senja.
"Buru buru tadi non, cuma nyonya pesan sama bibi bilang ke non.. ini cukup non?" ucap bibi, menyodorkan sepiring makanan untuk Senja.
"Oh.. cukup bi.. ayo bibi makan sini.." ucap Senja, menepuk nepuk kursi sebelahnya.
"Bibi udah makan non.. permisi ya non, tuan.." ucap bibi pamit padaku dan Jino.
Senja hanya mengangguk saja melanjutkan makannya, masih tanpa memperdulikan Jino.
"Jadi kakak dianggurin ini??" tanya Jino membuka pembicaraan.
Senja menatap nya, merasa kasihan juga. Tapi ia masih malas ngobrol, alhasil Senja cuma tersenyum saja.
"Yaudah kakak minta maaf kalau salah.." ucap Jino lagi. Masih sambil tersenyum, tebar pesona. Yang ditebari malah nggak peduli.
"Hmmm.." Senja masih menyantap makanan nya.
Lapar apa doyan ini..
"Aku nginep disini malam ini jagain pintu.. disuruh tante.." ucap Jino setelah beberapa lama mereka diam.
"Pintu???" tanya Senja akhirnya.
"Iya habis dari tadi pintu nya ketutup belum mau kebuka.." jawab Jino.
"Haa?? hahahaha.." Senja akhirnya tertawa mendengar Jino merajuk.
"Kakak ini nggak sadar umur ya.. udah diem aku mau makan.. " ucap Senja.
"Nah gitu dong cantik.. okey kakak juga mau makan..." ucap Jino. Lega juga bisa membuat Senja bicara lagi.
Mereka menikmati makan malam ini berdua, romantis kan. Romantis sih, tapi dalam keheningan. Jino hanya menatap Senja sesekali, sambil mengagumi kecantikannya. Wanita yang berhasil melelehkan perasaannya. Nampaknya Jino memang benar benar jatuh cinta dengan Senja. Hatinya selalu hangat saat bersama Senja.
Jantung nya pun nggak kalah saing menunjukkan ketertarikannya, dag dig dug.
"Kakak udah cukup dong mandangin akunya, ntar suka beneran lho.." ucap Senja memergoki Jino sedang menatapnya.
"Emang kok.. " ucap Jino.
__ADS_1
Senja hanya menggelengkan kepalanya, Senja tau benar siapa Jino di kampus nya. Play boy cap cicak. Pria didepannya ini sedang merayunya, ini hanya karena wajah Senja yang cantik.
"Aduh.. " Senja mengaduh, perutnya terasa melilit, sakit..
"Kenapa cantik? ada yang sakit?" ucap Jino.
Dia segera bangkit dan menyentuh bahu Senja, terlihat sedikit panik.
"Nggak tau kak.. perutku sakit.. " ucap Senja memegangi perutnya yang terasa nggak enak.
"Ini pasti kamu telat makan tadi, ayo kakak antar ke kamar.. " ucap Jino hendak memapah Senja. Tapi Senja menepis tangannya.
"Aku bisa sendiri kak, aku minta tolong kakak ambilin obat maag ku di kotak obat aja. Aku mau ke kamar dulu.." ucap Senja menolak Jino.
"Yakin cantik??" ucap Jino tak tega.
"Stop kak stop!! AKU BISA SENDIRI!" ucap Senja mempertegas bicaranya.
Senja segera bangkit dan berjalan perlahan menuju kamarnya di atas.
Jino hanya geleng-geleng melihat Senja yang keras kepala dan sok kuat. Mungkin ini juga yang membuat Jino kagum, dia sama sekali nggak ada sifat manja atau lemah. Meskipun sebenarnya Senja dalam kondisi lemah.
Jino segera mencari obat yang dimaksud Senja, tak lupa minum juga untuk Senja.
Lalu berlari keatas, ke kamar Senja.
Tok tok tok, Jino mengetuk pintu Kamar Senja.
"Masuk aja kak.." jawab Senja dari dalam.
Jino segera masuk, tapi pintu nya tetap ia buka lebar lebar. Ia sadar sedang ada di kamar wanita, dan hanya berdua.
"Ini obatmu cantik.." ucap Jino menyodorkan obat sekaligus minuman untuk Senja.
Senja segera mengambil dan meneguknya.
Memberikan kembali gelasnya pada Jino.
Besok dia harus memastikan sesuatu.
Jino berdiri hendak pergi, tapi melihat wajah Senja yang pucat, Jino merasa tidak tega.
Akhirnya dia hanya mengambil laptop nya dibawah, lalu membawanya ke kamar Senja.
Dia harus mengerjakan skripsi nya, sambil menunggui Senja di sofa kamar nya.
Sudah pukul sebelas malam tapi Jino masih saja berperang dengan laptopnya.
"Hoammmmm.." Jino menguap, sudah merasa jenuh dan lelah.
"Kakak nggak tidur?" suara Senja mengagetkan Jino.
Segera Jino menoleh ke sumber suara.
Senja sedang duduk menatapnya, mata mereka saling pandang.
Dug dug dug dug
Jantung Jino berdebar kencang, meleleh melihat wanita cantik ini.
"Emm .. sebentar lagi cantik.." ucap Jino beranjak dan mendekati Senja.
Nggak sadar tangan Jino sudah mengelus rambut Senja. Menatap Senja dengan lembut dan sayang.
Senja yang diperlakukan seperti ini jadi kaget.
Melihat mata Jino yang tulus, Jino seperti sangat menyayangi nya.
__ADS_1
Apa yang kakak rasakan? Batin Senja.
"Maaf kak, Senja mau shalat Isya dulu" ucap Senja menepis tangan Jino. Senja nggak ingin ini berlarut-larut.
"Kebetulan kakak juga belum shalat, kita barengan ya? mau disini atau di Musholla bawah?" ucap Jino.
"Hmm.. yaudah disini aja kak, aku malas keluar lagi." jawab Senja.
Senja segera beranjak mengambil wudhu.
Jino pun mengekor dibelakang Senja.
Mereka segera melaksanakan kewajibannya.
Jino sebagai imam, Senja makmumnya.
Mereka dah nampak seperti suami istri.
Salam terakhir, Jino segera menoleh kepada Senja. Tak disangka, Senja sedang sesenggukan menangis mengadu pada Tuhannya.
Jino hanya menatap iba, belum pernah Senja menampakkan kesedihannya pada orang lain.
Setelah selesai curhat dengan Sang Pencipta Senja sedikit kaget melihat Jino sedang menatapnya. Setelah itu, Jino malah memberikan tangannya.
Senja menatap tak mengerti.
"Cium tangan dong sama kakak.." ucap Jino.
Owalah.. dah kayak suami istri beneran ini mah. Batin Senja.
"Bukan muhrim kak. ." ucap Senja datar.
Jino lalu mengambil tangannya sendiri dan menciumnya sendiri.
"Kasihan nasib tangan .. ditolak berkali kali.." ucap Jino.
"Hahahaha.. kakak ini.. hahaha" sontak Senja tertawa lepas melihat ulah Jino.
Hati Jino meleleh lagi melihat wanita cantik ini tertawa lepas. Mungkin ia sampai lupa nggak berkedip menatap Senja.
"Cantik.." gumam Jino tanpa sadar.
Senja langsung berhenti tertawa,
"Kaka ileran? mulut nya dikondisikan dong.." ucap nya kemudian.
"Hahahaha.. " mereka tertawa bersama.
Kakak, apa kakak juga ada rasa sama aku?
Sudah cukup Ryan aja kak yang bikin aku pusing, kakak jangan ikut ikutan.
Aku nggak mau ada yang terluka lebih dalam lagi, aku nggak mau dicintai laki laki.
Apalagi kak Jino terlalu baik, aku takut sama perasaan ku sendiri .. batin Senja.
Gimana zeyenk??
Ada komen apa??
Baik buruk author terima kok, selama masih dalam batas wajar sih.. hehehe
Author ini masih sangat baru dalam menulis, jadi yahh gini deh..
Silahkan bagi yang suka , di like, comment, fav, vote,, tip..
Apa aja author tampung...
__ADS_1
Maafkeun author yang masih banyak kekurangan yup..
Yuk di lanjooot 👇 👇👇👇