Rasa Senja

Rasa Senja
Bab Tujuh


__ADS_3

Bodyguard ke kampus


Senja sudah bersiap,hendak ke meja makan.


Sarapan yang ia butuhkan agar tetap kuat dan tidak lemas. Meskipun belum sepenuhnya kuat seperti biasa, Senja tetap memaksa dirinya agar tidak menjadi malas.


"Nak sudah sehat betul ?" Bunda bertanya.


"Insya Allah bunda.. " Senja melahap sarapannya.


Tiba tiba ayah datang bersama seseorang yang nggak asing untuk Senja.


" Ka Jino.. ?"


Senja ingat dia adalah senior di kampus nya.


"Hey Senja.. " Jino membuka suara.


"Kok kakak disini? Kakak kenal ayah ?"


"Mulai saat ini kita akan sering ketemu Senja.."


Senja mengernyitkan dahi.


"Maksudnya apa sih.. pagi pagi dah bikin bingung.." batin Senja.


"Kalian saling kenal kan.. Senja.. dia ini bodyguard kamu yang baru.. " ayah berkata kemudian. Santai sekali, tanpa melihat ekspresi putrinya yang tak suka.


Senja nggak menduga sih kalau Jino yang jadi bodyguard nya. Jino memang ganteng, tapi kelewat ramah sama semua perempuan. Senja nggak suka orang yang genit.


Senja terus diam saat didalam mobil. Kini mereka harus semobil berdua berangkat ke kampus.


Sesekali Jino melihat ke Senja yang memandang jendela sambil menyandarkan kepalanya.


"Senja ini cantik banget.." batin Jino.


"Kamu sehat kan Nja.. dari tadi diem terus.. apa ada yang sakit? " Tanya Jino.


Senja sebenarnya malas meladeni bodyguard barunya yang kelewat ramah ini. Tapi demi kesopanan dia jawab sekenanya, " nggak ada.. kakak sikapnya biasa aja nggak usah kayak gini.. Senja nggak suka.. " jelas sekali nada bicaranya nggak bersahabat.


"Senja.. kamu ini kan tanggung jawabku sekarang."

__ADS_1


"Hahaha kakak ini aneh.. kakak kan bukan suamiku.. sok bicara tanggung jawab.. udah deh jangan aneh aneh,bersikap normal seperti biasa.. jangan sampai ada yang tau kakak bodyguard ku,cukup liat dari jauh aja.. "


"Jangan gitu Senja.. ntar aku makan gaji buta dong..." Timpal Jino.


"Trus kakak maunya apa.. nempel terus kek gitu.. ah itu maunya kakak .." Senja menjawab malas.


Diliriknya Senja yang belum bergeming. "Ni cewek imut juga sih.." batin Jino.


"Oke terserah kamu manis.." Jino menggoda Senja yang memang imut.


"Mimpi apa aku.. bisa dapet bodyguard kayak gini.. bisa tua mendadak ketemu manusia kayak gini tiap hari.. hahaha " batin Senja, sampai nggak terasa dia senyum senyum sendiri.


Jino melirik Senja lagi, terlihat gadis ini tersenyum manis.


"Aduh gua meleleh.. " batin Jino sambil menelan ludah.


Sesampainya di kampus


Nisha sudah di dalam kelas saat Senja datang.


"Alhamdulilah... Senja kamu sudah sembuh.." Nisha tersenyum bahagia melihat sahabatnya sudah datang.


Nisha yang mendengar ocehan Senja menyipitkan mata lalu tertawa senang bersamaan dengan tawa Senja..


Di pojok kelas


Ryan memperhatikan gadis yang sudah menyita pikiran nya selama beberapa hari ini.


"Tu cewek udah sembuh? Mukanya masih pucet gitu.. " Ryan menatap Senja yang tertawa tawa bersama Nisha.


" Hhh apaan sih gua ini.. ngapain juga mikirin tu anak, bukannya selama ini kita saling cuek.." Ryan mengacak acak rambutnya sendiri.


" Apa jangan-jangan gua simpati ya? Kan gara gara gua tu.. dia jadi masuk rumah sakit.. tapi kayaknya sakitnya serius yak.. sampe ayahnya melarang dia kuliah kemarin.. " Ryan seperti melamun memperhatikan Senja dari kejauhan.


Ryan seperti nya sadar dia mulai ada rasa sama cewek cantik itu.


Bukan rahasia sih Senja cukup terkenal di kampus.


Wajahnya yang cantik, pribadinya yang santun dan baik. Siapa yang nggak suka.. tapi selama ini Ryan yang satu kelas tidak pernah memperhatikan Senja.


Hanya sebatas tau kalau Senja itu sangat cantik dan santun. Ryan juga jarang melihat Senja sakit-sakitan. Tapi memang terkadang Senja izin nggak masuk dengan alasan kepentingan keluarga.

__ADS_1


Dosen masuk dan memulai kegiatan belajar pada hari itu.


Setelah belajar usai ,Nisha dan Senja pergi ke kantin kampus.


Jino mengikuti mereka dari belakang.


Senja terus melirik Jino yang mengekor nya,merasa sungguh nggak nyaman. Senja harus melakukan sesuatu untuk menghindari orang ini.


Lagi lagi dari kejauhan Ryan memperhatikan mereka. Ryan tau sejak tadi Jino mengikuti Senja, sedikit heran sih.


Entah kenapa Ryan merasa ingin selalu melihat Senja. Mungkin rasa bersalah itu masih ada. Ryan mungkin hanya mau memastikan Senja baik baik saja, mengingat kemarin seperti nya memang Senja sebenarnya tidak sehat alias punya penyakit serius.


Tapi semakin kesini perasaan Ryan semakin berbeda. Dia selalu merasa hangat saat melihat Senja tersenyum. Ryan ingin memastikan perasaan apa ini..


"Nish aku ke toilet dulu ya, kamu duluan aja ke kantin." Senja pamit pergi.


"Oke zeyenk .. tadi aku dah lihat Ridho disana.. " ucap Nisha.


"Iya deh nikmati aja berduaanya.. ntar kalo aku disana jadi setan lho.. orang ketiga.. hahaha.. " timpal Senja sambil menjauh .


"Yeee rese ya! " Nisha langsung manyun. Segera berlalu menghampiri Ridho yang tampak sibuk dengan laptopnya.


Senja sudah setengah jalan ke toilet.


Melirik belakang,


"Hey kak Jino mau apa?". Senja bertanya sedikit meninggi.


"Ya.. mau jagain kamu lah cantik.. " Jino tersenyum.


Senja langsung berhenti dan mendekat ke Jino.


"Kakak ngapain! Tunggu aja dikantin! Mau ngintipin aku? Ntar aku aduin sama ayah !" Ucap senja lantang.


"Jih cantik cantik kok galak sihh.. " Jino masih berusaha menggoda Senja.


"Jangan ganggu dia bro!" Ryan datang langsung menarik tangan Senja, menempatkan nya di belakang tubuh Ryan.


Senja kaget, sosok Ryan sedang memegang tangannya dan melindungi dari Jino .


Senja langsung dapat ide untuk ambil langkah seribu pergi dari sana..

__ADS_1


__ADS_2