Rasa Senja

Rasa Senja
Bab Delapan


__ADS_3

Ambil langkah seribu


" Hey bro urusan lu apa? " Ucap Jino masih sambil tersenyum.


"Udah jelas disini.. elu yang gangguin Senja.. dia nggak mau tuh sama kamu.. " ucap Ryan yg sudah emosi.


Ada rasa tidak suka melihat Senja didekati Jino.


Ryan melihat ada yang tidak beres dengan Jino yang terus mendekat kepada Senja. Dia dengar dengan jelas tadi, Senja tidak mau di dekati Jino.


Tentu saja Ryan belum tau kalau Jino sebenarnya adalah bodyguard Senja.


Jino dan Ryan asik berdebat sampai tidak menyadari kalau Senja sudah kabur.


Senja setengah berlari kabur lewat pintu selatan kampus. Senja juga sudah memesan ojek online untuk membawanya pergi tanpa ketahuan supir dan Jino, mobil mereka terparkir di pintu utama kampus.


Nafas Senja ngos-ngosan saat sudah sampai di gerbang. "Duh... Ojeknya mana ini.. kok lama banget.. ntar aku ketahuan lagi.." ucap Senja khawatir.


Sementara di bagian dunia lain.


Ryan dan Jino sadar Senja sudah tidak ada.


Mereka mencari kesana kemari, di kantin tidak ada. Di kelas juga tidak ada. Ryan dan Jino memutari area kampus, tapi gadis yang mereka cari tidak ada dimanapun.


"Dah kemana ni si cantik... Bisa dipecat gua! Baru kerja sehari udah lalai.. " ucap Jino masih terus mencari Senja.


"Semoga dia nggak kenapa kenapa.. " Jino berdoa dalam hati. Jino lebih khawatir dengan kondisi Senja daripada kehilangan pekerjaan. Paras Senja yang sangat cantik (menurut Jino) sudah membuat hatinya simpati. Nampaknya Jino sudah mulai menyukai Senja.


"Masa sih segitu gampang nya gua simpati sama si cantik... Dia tanggung jawab ku, gua harus cari dia sampai ketemu." Ucap Jino mantap.


Segera Jino menghampiri pak Dani yang ada diparkiran kampus. Mereka mencari Senja di jalanan sekitar kampus.


"God... Gua pasti dipecat!" ucap Jino yang hampir putus asa tak bisa menemukan Senja.


Ryan langsung pergi setelah mencari Senja di dalam kampus tidak ada. Ryan mau mengambil motor nya di parkiran selatan kampus. Saat itu nggak sengaja Ryan melihat Senja sedang menaiki ojek online.

__ADS_1


"Nah kan.. ketemu lu.. " ucap Ryan senang.


Segera Ryan menaiki motornya dan tancap gas mengikuti ojek Senja. Cukup lama juga Ryan mengikuti Senja. Ternyata Senja pergi ke sebuah tempat wisata pegunungan.


"Mau ngapain ni cewek kesini? Jauh amat perginya.. " ucap Ryan penasaran.


Setelah Senja turun dari motor ojek online itu dia berjalan perlahan menuju pinggiran tebing. Di sebelahnya ada jurang yang cukup dalam.


"Gila ni cewek mau bunuh diri apa ya? Nekat amat.. " ucap Ryan tak percaya, cewek seriang Senja bisa bisa punya niat mengakhiri hidupnya.


Meskipun Ryan jarang memperhatikan Senja saat di kampus tapi cukup sering juga dia mendengar Senja tertawa riang.


Senja masih terdiam di pinggir tebing itu saat Ryan sudah cukup dekat dengan Senja.


Ryan melihat Senja terpejam, seperti menikmati angin yang berhembus cukup dingin. Hari sudah hampir malam saat itu. Senja sangat cantik dengan rambutnya yang terurai, tertiup angin sepoi sepoi.


Bibirnya menyunggingkan senyuman yang bisa membuat siapapun meleleh melihatnya.


Ryan takjub.. lupa berkedip seperti nya.


Matanya langsung berair.


Senja langsung menoleh mendengar Ryan bicara.


Senja membelalakkan matanya, kaget .


"Yan? Ngapain kamu disitu??" Tanya Senja penasaran.


Ryan yang ditatap dengan mata indahnya Senja langsung jadi salah tingkah. Ryan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ryan tersipu malu malah.


Senja yang melihat mimik wajah Ryan malah jadi geli, tapi gengsi mau tertawa. (Hahaha.. diwakilkan author ya ketawanya). Selama ini Senja cuma melihat sosok Ryan adalah sosok yang cool, jarang bicara, senyum, apalagi ketawa.


"Itu... anu.. " ucap Ryan bingung. Ryan bingung mau beralasan apa. Dia sebenarnya nggak ada hak untuk mengikuti Senja hanya untuk memastikan keadaan Senja.


Mendengar jawaban Ryan, Senja nggak bisa lagi menahan hasrat buat tertawa.

__ADS_1


"Hahahah.. Ryan.. kamu bener Ryan kan? Hahaha.. " ucap Senja sambil tertawa lepas.


Senja sebenarnya masih agak jengkel dengan Ryan, tapi gimana? Melihat Ryan seperti ini Senja sangat terhibur.


Melihat tawa Senja, Ryan seolah terhipnotis.


"Ni cewek apa bidadari? Cantiknya..." Batin Ryan berbicara.


Senja berhenti tertawa teringat sesuatu.


"Ryan sini deh.. ." Ucap Senja sambil memberi kode Ryan untuk mendekat.


Hari ini Senja ingin melihat matahari terbenam. Saat inilah saat senja, saat saat yang selalu Senja rindukan. Ia ingin selalu melihat matahari saat terbenam. Biasanya Senja datang kesini sendiri, memang itulah keinginan nya. Senja selalu merasa tenang saat melihat senja. Sebelum matahari terbenam dia selalu memikirkan banyak hal, tentang hidupnya yang entah sampai kapan.


Baru kali Senja disini bersama orang lain.


"Elu nggak mau bunuh diri kan?" Tanya Ryan yang masih penasaran.


Senja tersenyum mendengar pertanyaan Ryan.


"Hidup ini terlalu indah untuk di sia-siakan Ryan, masih banyak kesempatan yang belum aku ambil, masih banyak asa yang belum aku raih, dan masih banyak harapan yang belum aku wujudkan.


Aku akan tetap meninggalkan dunia ini dalam waktu dekat, tapi bukan dengan cara seperti ini." Ucap Senja panjang lebar, masih terus memandangi matahari yang akan tenggelam.


"Syukur deh kalo gitu.. gua ngikutin elu karna takut lu kenapa-kenapa." Ucap Ryan juga sambil memandang langit yang bersemu orange.


"Kenapa kamu jadi perduli sama aku? Selama ini kita nggak dekat, bahkan kamu tega jahil sama aku kan.. " ucap Senja.


"Gua minta maaf.. khilaf sih.. " jawab Ryan.


"Oke aku maafin.. asal mulai sekarang kamu jangan lagi deket sama aku.. " ucap Senja masih belum bergeming dari langit senja.


"Tenang.. gua nggak akan jahil lagi, tapi soal ngejauhin eli gua nggak tau bisa atau nggak.. " ucap Ryan.


Senja langsung melihat ke Ryan.

__ADS_1


"Kenapa?? anggep aja kayak dulu kita nggak pernah bertegur sapa.. " ucap Senja.


"Yah.. karna elu.. karna lu cewek pertama yang pernah sedekat ini sama gua.. " ucap Ryan sambil memandang mata Senja dalam dalam.


__ADS_2