Rasa Senja

Rasa Senja
Bab 19


__ADS_3

Rasa sedih masih menumpuk di dada Senja.


Jino baru saja pamit untuk menemui dospem nya.


Senja sengaja ingin tetap disini, di taman rumah sakit yang dulu sempat jadi tempat favorit nya saat dirawat disini.


Sejak kecil ia sudah sering keluar masuk rumah sakit karena sakitnya itu. Jadi ini adalah tempat favoritnya, dimana bau obat sudah digantikan dengan udara segar.


Senja duduk di salah satu bangku dibawah pohon yang rindang. Di depannya ada kolam ikan koi warna warni. Berenang bebas, seakan menertawakan Senja yang terkurung dengan kesedihannya.


Tiba tiba Senja teringat dengan seseorang yang juga dirawat disini.


Ryan Arga Renditya,


Ryan sedang berkutat dengan laptopnya lagi, entah untuk mengerjakan tugas nya atau untuk melepas rasa bosan karena tidak bisa kemana mana.


"Assalamualaikum Yan.." suara yang lembut dan amat dikenal Ryan.


"Waalaikumsalam.. ngapain lu kesini lagi?" Ryan berkata dingin.


"Ish.. nggak papa, kebetulan tadi baru check up." Senja segera duduk disebelah Ryan.


"Siapa yang ijinin lu masuk? pergi aja sana.. gua nggak butuh lu.." Ryan sedang berbohong dan mengacuhkan Senja.


Tapi Senja tetap tidak beranjak dari tempatnya, ia masih menatap Ryan dalam diam.


Senja mengamati wajah Ryan yang tampan, terkesan tegas, dengan mata elang yang membuat pesonanya makin terlihat. Meskipun wajahnya masih pucat, tapi tetap tampan.


"Gimana? udah mendingan?" Senja memecahkan keheningan.


Ryan menatap Senja tajam.


"Hmmm.. kamu ini gimana? kemarin kamu yang bilang kita nggak usah ketemu lagi? tapi sekarang? kamu datang kesini setiap hari seolah-olah perduli? jangan plin plan deh jadi cewek..!" ucap Ryan tegas.


"Gua nggak mau cari masalah buat kamu, bisa bisa PACAR MU marah.." kali ini nada bicaranya melembut tapi penuh tekanan.


Ryan masih menatap Senja dengan tatapan intimidasi, ingin segera mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


Senja tidak gentar, dia juga menatap langsung mata Ryan. Entah kenapa dia juga berharap Ryan tau, bahwa Senja juga merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama Ryan. Melalui mata dia ingin berbicara.


"Aku sekarat Ryan.." hanya itu yang bisa diucapkan Senja, tapi dia ucapkan penuh tekanan.


"Entah perlu atau tidak aku jelaskan, tapi aku sedang tidak dalam menjalin hubungan dengan siapapun, termasuk kak Jino" Senja berkata seolah tau apa yang menjadi beban pikiran Ryan saat ini.


"Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, aku nggak ingin menyakiti mereka yang mencintaiku."


Senja menghela nafas..


"Maka dari itu, aku juga melarang kamu untuk dekat denganku!" Senja kembali membuang nafasnya dengan kasar.


Dan Ryan masih menatap Senja nanar.


Banyak pertanyaan yang ingin Ryan ungkapkan, tapi lidahnya seakan kelu.


"Maaf aku sudah menyakiti mu, tapi saat ini aku hanya ingin mengikuti kata hati ku saja.."


Senja terdiam sejenak.


"Aku hanya merasa tidak nyaman, kamu disini sendiri dalam keadaan sakit, dan ya.." Senja merubah tatapannya,


"Kamu juga termasuk tanggung jawabku, kamu kerja di restoran milikku kan.." ucap Senja penuh penekanan.


"Aku minta maaf.." ucap Senja pada akhirnya.


Ryan membuang nafasnya dengan kasar.


Wajahnya tertunduk,


"Sudahlah.. kamu nggak perlu minta maaf, kamu nggak ada salah.." ucap Ryan.


Ryan kembali mengangkat wajahnya, kali ini dia tersenyum ramah.


"Aku yang harusnya minta maaf, karena sudah kasar sama kamu."

__ADS_1


Senja juga tersenyum hangat,


"Yaudah lupain deh semuanya.. kamu makan siang dulu ya.." Senja segera menyodorkan makanan yang belum disentuh oleh Ryan.


"Suapin.." Ryan berkata manja.


Senja terhenyak, baru kali ini dia mendengar ini.


Ryan yang biasanya dingin, secepat ini berubah.


Tak sadar, Senja malah tertawa lepas.


Ryan tidak bisa melepas pandangannya melihat tawa Senja, ini yang selama ini dia rindukan.


Senja yang tertawa lepas meskipun bukan karenanya.


Ini kali pertama Senja tertawa karena Ryan sendiri.


"Apa aku yang bodoh terlihat lucu buat kamu?" tanya Ryan remeh.


"Hahaha.. maaf maaf, bukan itu, aku baru tau sifatmu yang ini.." Senja masih tertawa senang.


"Atau jangan-jangan.. kamu bukan Ryan? aku salah kamar kali ya..hahaha" Masih dengan tawanya.


"Terus aja ketawa, aku udah lapar nih.." ucap Ryan yang juga tersenyum.


"Bawel ih, nggak bisa ya liat orang seneng dikit.." ucap Senja sebal.


"Takut aja kamu keblabasan Nja, kaki ku masih sakit buat manggil psikiater.." ucap Ryan enteng.


"Sembarangan, rapih gini dibilang gila!" Senja membela dirinya.


Senja segera menyuapi Ryan, dan mereka akhirnya berbincang layaknya manusia biasa. Bukan seperti kucing dan tikus yang suka berantem setiap hari.


"Nja.." Ryan menatap Senja dengan tatapan lembut.


"Hmmm.." mata mereka saling bertemu.


Mimik muka Senja langsung berubah sendu, tapi ia segera teringat akan menjalani hidupnya lebih semangat lagi. Senja tidak ingin, di akhir hidupnya diisi dengan kesedihan.


Senyuman ia paksaan terukir di bibir indahnya.


"Aku nggak bisa jawab Ryan, suatu saat juga kamu akan tau.." senyuman masih belum menghilang dari sana.


"Aku mohon Nja, jangan bicara seolah kamu akan pergi, hidup mati seseorang bukan kita yang ngatur Nja." Ryan menarik tangan Senja dan menggenggamnya erat. Berharap dapat menguatkan gadis yang ia cintai, saat sedang berakting sok tegar seperti ini.


"Iya iya.. bawel ih.. aku tau kok apa yang sedang kulakukan.." Senja masih menyunggingkan senyumnya.


"Jangan suruh gua menjauh lagi Nja.." Ryan menatap Senja.


"Itu hal yang mustahil gua lakuin.." Ryan berkata yakin.


Senja menatap mata Ryan, terlihat ketulusan disana. Ah, Senja juga tidak tau apa yang harus ia katakan.


Dering ponsel memecah moment ini,


Kak Jino calling


"Hallo Assalamualaikum kak.."


"Waalaikumsalam cantik.. kakak udah di parkiran, kamu sudah selesai? Kakak jemput di dalam ya.. posisi kamu dimana?"


"Udah selesai kok, kakak tunggu aja disana aku udah jalan keluar.."


"Bener nggak papa?"


"Iya kak, bawel ih, kakak tunggu aja.."


"Oke cantik.."


Senja segera beranjak dari tempatnya,


"Aku pamit dulu ya Ryan, kamu cepat sembuh. Assalamualaikum.." pamit Senja.

__ADS_1


"Waalaikumsalam .. thanks.." suara Ryan sedikit kecewa.


****


"Assalamualaikum kak.." Senja menghampiri Jino yang bersandar di mobil.


"Waalaikumsalam cantik.. ayo.. pulang ya.." Jino segera menggandeng Senja dan membukakan pintu mobil.


"Ih kakak ini, aku bisa sendiri.." Senja menolak.


"Iya tau, udah mau masuk apa nggak?" Jino bersikeras.


"Iya.."


Mereka segera meluncur pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan itu Senja hanya diam, hatinya resah memikirkan semua perkataan Ryan tadi.


Ia bingung, karena namanya sudah terlanjur terukir dihati Ryan, begitupun nama Ryan yang juga selalu ada dalam pikirannya.


Apa benar ini takdir mereka?


Mereka bertemu dalam sebuah ketidaksengajaan.


Seakan memang Tuhan yang merencanakan semua ini, dan Senja tidak bisa mengelak kalau ini memang rencana Nya.


"Cantik.." Jino seperti tau gadis cantik itu sedang galau.


Senja segera menepis lamunannya, mengulas senyuman kepada Jino.


Deg


Ah jantung Jino jadi berdebar kencang. Segera ia fokus ke jalanan lagi, bisa bisa ia jadi gagal fokus melihat senyuman gadis cantik ini.


"Kamu cantik.." ucap Jino kemudian.


"Yakali.." Senja tersenyum.


"Cantik harus sering sering senyum.." rayu Jino.


"Ntar bisa masuk RSJ kakak.." kali ini Senja tertawa lepas.


*****


Sementara Ryan masih mencerna pengakuan Senja tadi, ia sungguh nggak nyangka. Senja selama ini terlihat baik baik saja. Baru tau ada apa apa juga baru kemarin saat ia jatuh.


Tapi tiba tiba Senja bilang sedang sekarat.


Separah itukah sakitnya?


Sakit apa sebenarnya dia?


Ah entahlah..


Yang jelas Ryan tidak akan menyerah, ia sudah bertekad untuk membahagiakan gadis cantik itu.


Meski Senja terus menolaknya, tapi Ryan tidak akan gentar. Hatinya sudah terukir nama Senja...


Wah wah wah, akhirnya Ryan greget juga!


Pepet terus Ryan! Chayooo!!


Emang mau perang gitu thor?


Ya enggak sih, kan biar semangat ..hehehe


Lanjoot di bawah yuuuu๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡


Jangan lupa like yaaa...


Vote dan tip Sangaaat boleh๐Ÿ˜


Terimakasih Readers๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2