Rasa Senja

Rasa Senja
Bab 28


__ADS_3

Ryan menatap Senja dalam-dalam. Gadis yang sangat ia cintai ini sedang menangis sesenggukan. Harusnya bukan Senja yang menangis, harusnya sebagai orang yang tertolak ialah yang menangis. Tapi kenapa? seolah orang yang menolaknya ini lebih terluka. Ia sama sekali tidak membenci gadis ini, padahal sudah berapa kali ia menyatakan perasaan dan tidak di indahkan oleh Senja.


"Senja... aku benar-benar mencintaimu, aku sama sekali tak ingin jauh darimu, sudah cukup berminggu-minggu ini!" hati Ryan kembali sakit mengingat kejadian itu. Hari-hari pencarian Senja yang seolah hilang ditelan bumi.


"Kalau kita saling mencintai kenapa tidak hidup bersama? kenapa tidak kau bagi sakit mu itu dengan orang yang kau cintai? " ucap Ryan lirih.


Senja tersenyum kecut, "mana ada Yan berbagi sakit dengan orang yang di cintai, siapa yang mau orang yang dicintai juga merasa sakit? Nggak ada Ryan! "


"Kita ini saling melengkapi Nja, semua orang punya kekurangan masing-masing, entah itu kamu, aku, atau orang lain. Kita sama-sama tau kekurangan itu, dan aku menerima apapun darimu Nja..."


"Stop Ryan! lebih baik kamu pergi..." Senja menekan dadanya yang terasa nyeri. Ia menutup matanya, tak ingin melihat Ryan yang terlihat amat memprihatinkan.


Tapi Ryan tidak gentar, ia malah menghampiri dan hendak memeluk Senja. Tapi sebelum ia sampai ke tubuh Senja, ia ditarik dengan kasar.


"Pergi anda!" bentak orang yang ternyata ayah Senja.


"Saya belum selesai bicara om, tolong..."


"Anda nggak dengar? Senja menyuruhmu segera pergi! atau mau saya panggil polisi? Heh!!"


"Cukup ayah ..." teriakan kecil Senja ternyata berhasil meredam pak Pradita.


"Ryan kamu pergi dulu, saya benar-benar tak ingin ketemu kamu lagi." ucap Senja kemudian.


Ryan menghela nafas panjang, okey cukup untuk hari ini. Keadaan Senja masih belum stabil dan ia tak ingin mengambil resiko yang membahayakannya.


"Okey Nja, tapi aku nggak bisa janji untuk tidak menemuimu lagi."


Ryan menunduk sopan pada pak Pradita. "Saya permisi om, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


**********


Setelah hari itu, tidak ada satupun waktu luang yang tidak Ryan gunakan untuk mengunjungi Senja. Meskipun ia setiap hari datang tapi Senja sama sekali tidak mau menemui Ryan. Senja masih saja kekeuh dengan keputusan nya untuk menjauhi Ryan. Keluarga Senja pun lama kelamaan bisa luluh karena kegigihan Ryan, mereka yakin Ryan bisa menjaga Senja dengan penuh tanggung jawab.

__ADS_1


Tapi apa boleh buat, Senja terlalu keras kepala untuk menerima Ryan.


"Nak, kamu nggak kasihan sama Ryan itu?"


"Kasihan sih kasihan, tapi itu kan kemauan dia sendiri bund?" jawab Senja cuek. Tapi matanya masih sesekali mencuri pandang mengamati Ryan yang sedang berbincang dengan ayahnya dari kejauhan. Begitu juga dengan Ryan yang curi curi pandang melihat Senja.


Saat mata mereka bertemu, Ryan menyunggingkan senyumannya. Tapi Senja langsung membuang muka. Bunda dan ayah pun hanya geleng-geleng kepala melihat mereka.


"Jangan terlalu keras sama hatinya, juga hatimu nak...."


"Hmmm bunda ini ngomong apa sih?"


"Entar kalau dia ilang kamu nyariin lho."


"Biar aja bund, emang itu yang aku harepin."


"Yakin kamu nak, nanti menyesal." goda bunda habis habisan.


"Stop bund, ngomongin dia jantung aku nyeri, aku mau masuk kamar bund." Senja meninggalkan bundanya di taman. Ryan pun hanya melihatnya sedih, hati Senja tak kunjung melunak.


"Waalaikumsalam."


Senja melihat Ryan menjauh dari balkon rumahnya. Melewati gerbang rumah, dan menghilang di jalanan.


Meskipun semenjak operasi, keadaan jantungnya terus membaik tapi ia tak kunjung membuka hatinya untuk Ryan. Ia masih takut, kemungkinan hidupnya juga tak banyak. Ia termenung mengingat perkataan bunda Resma tentang Ryan. Apa dia benar benar rela saat nanti Ryan tiba-tiba menyerah, saat ini ia sudah terbiasa melihat Ryan yang datang kerumahnya setiap hari meskipun tak ia temui. Tapi suatu saat Ryan pasti jenuh bukan?


BRAKKK!!!


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara dentuman yang keras, Senja pun kaget mendengar suaranya.


Sepertinya terjadi ledakan, atau benda bertabrakan. Dari asal suaranya, pasti terjadi sesuatu yang serius.


Bibi Pai yang sepertinya baru pulang dari supermarket lari tergopoh-gopoh masuk ke rumah.


Ia berteriak panik, tapi suaranya sungguh tidak jelas dari kamar Senja. Senja segera keluar menuju pintu balkon. Terlihat bunda Resma mengobrol dengan bibi.

__ADS_1


"Bibi yakin?"


"Yakin nyah, saya inget betul motornya, dan jaket yang biasa di pakai den Ryan Nyah!" bibi masih berbicara dengan nafas terengah-engah. Tapi Senja tidak bisa melihat raut wajah bundanya.


"Ryan..." ucap Senja lirih. Senja segera berlari menemui bunda dan bibinya di bawah. Mengetahui nama Ryan di ucapkan oleh bibi, jangan-jangan....


"Bunda! Ryan kenapa bund?" cerca Senja.


Senja akhirnya bisa melihat raut wajah bundanya, ia melihat bundanya menangis sesenggukan.


"Bunda... Please


"Bunda... Please, jangan bunda...!" Senja terus menggeleng-gelengkan kepalanya, takut apa yang akan ia dengar dari bundanya ini.


"Kamu tenang nak, ingat kesehatan kamu." Bunda berusaha menenangkan anak semata wayangnya ini.


"Ryan?" tanya Senja lemah.


"Iya nak... kamu dengar suara keras tadi? itu Ryan nak... sepertinya ia hilang kendali dan--" Belum sempat bunda meneruskan kalimatnya.


"NOO! It's not happen! itu bukan Ryan bund!"


Senja segera berlari keluar, dari kejauhan sudah terlihat asap hitam yang mengepul. Ia segera berlari mendekati asal asap itu. Mulutnya tak henti merapal doa. Air matanya pun tak henti mengalir.


"Ya Allah... Jangan Ryan Ya Allah, bukan Ryan Ya Allah, jangan ambil dia Ya Allah, aku yang seharusnya mati, jangan Ryan Ya Allah."


Tergopoh-gopoh ia menyibak punggung orang orang yang mengerumuni tempat kejadian. Mobil pemadam kebakaran pun sudah terdengar sirinenya dari kejauhan.


"Aaaaaaaaaa!!!" teriak Senja sekencang-kencangnya!


Ternyata...


Masih menjadi teka-teki readers, hehehe


Ini setelah sekian lama hiatus.

__ADS_1


Happy reading 😘


__ADS_2