
Rasa Senja..
Senja sungguh tidak menyangka Ryan punya perasaan seperti itu. Senja tadinya belum punya perasaan apapun terhadap Ryan, ini harusnya terlalu cepat untuk merasakan sesuatu dalam hatinya.
Sejak dulu dia tidak ingin punya rasa terhadap siapapun. Senja takut, akan ada yang terluka bila tiba tiba dia harus pergi. Tapi saat ada seseorang yang mengatakan ini, tak dapat dipungkiri ada sesuatu yang menetes dalam hatinya. Rasa hangat dan sejuk, entahlah Senja bingung mengartikannya.
Senja juga menatap mata Ryan. .
"Lalu aku harus apa Ryan? itukan kamu.. bukan aku.. " ucap Senja berbohong.
"Entahlah Senja.. gua cuma tenang dekat elu.. dan gua ingin terus melihat elu.. " ucap Ryan memalingkan wajahnya kembali ke arah langit yang mulai gelap. Beberapa menit lagi akan benar benar gelap.
Senja diam tak bersuara, mencoba meresapi perasaannya. Dia sedang merasakan sesuatu yang ingin Senja buang jauh-jauh. Senja tidak ingin melukai seseorang, tidak ingin mengukir kesedihan dihati seseorang.
Dan akhirnya langit sudah benar-benar gelap.
Senja berdiri dan beranjak pergi. Tanpa bicara apapun meninggalkan Ryan.
Ryan segera menyusul Senja, menarik tangannya..
Lalu mendaratkan ciuman di kening Senja..
Sayang sekali matahari sudah tenggelam untuk melihat kedua manusia ini saling terdiam merasakan hatinya menyatu, digantikan malam yang gelap, bintang pun belum muncul.
Senja kali ini benar benar kaget, dia belum pernah sedekat ini, bahkan dicium oleh laki laki lain selain ayahnya. Tapi dia masih menikmati perasaan tenang itu beberapa saat.
Sampai kemudian...
Bugh..!
Ada yang mendorong lalu meninju Ryan dengan keras, otomatis Senja ikut terdorong dan hampir jatuh kalau saja dia tidak berpegangan pada dahan pohon disebelahnya.
Ryan tidak terima dipukul tiba tiba tanpa alasan, langsung ditendang lah pemuda yang sudah memukulnya.
Perkelahian yang tidak terhindarkan..
Senja tentu tegang melihat semua ini..
"Kak Jino ! Ryan ! STOP !!" Senja setengah berteriak setelah mengumpulkan tenaga nya yang mulai menipis. Dadanya sungguh sesak,sakit..
__ADS_1
Senja terhuyung, tapi kesadarannya masih ada..
Ryan yang melihat Senja melemah segera ingin menolongnya tapi terlambat. Jino langsung menggendong Senja dan membawanya ke mobil, meninggalkan Ryan yang masih berdiri mematung disitu.
Jino terus mengusap punggung tangan Senja, berusaha agar Senja tidak kehilangan kesadaran.
Jino lalu mengeluarkan obat dan memberikan kepada Senja, ditaruhlah obat itu dibawah lidah.
Semua ini sudah diajarkan oleh om Rizal lebih dahulu.
Senja sudah berangsur membaik saat hampir tiba di rumahnya.
"Kak Jino tolong jangan bilang sama ayah tentang aku tadi sama Ryan.. " ucap Senja masih sedikit lemah.
"Iya cantik .. oke.. asal dengan satu syarat.. " ucap Jino sambil tersenyum penuh arti.
"Ni orang pasti mau balas dendam gara gara aku kabur tadi.. oke.. kita lihat mau apa dia.. " batin Senja.
Sedangkan dia hanya mengangguk sebagai jawaban untuk Jino.
"Bagus cantik.. mulai sekarang kamu harus menurut apa kataku.. dan kamu harus jadi pacarku cantik.. " kata Jino tersenyum menang.
"Kak .. jangan itu dong please.. yang lain ya.. ?" Senja memohon sambil memasang muka memelas.
"Ya udah cantik.. tapi jangan harap kakak simpan rahasiamu.. " ucap Jino santai.
Jino saat itu sedang menyetir, pak Dani ia tinggalkan di rumah Hanggono. Ia fokus melihat jalan ia tak ingin melihat ekspresi wajah Senja. Jujur sebenarnya ini kali pertama Jino memaksa gadis untuk pacaran dengannya. Jino adalah orang yang tidak suka memaksakan kehendak sebenarnya. Tapi dia harus melakukan ini, selain karena pekerjaannya sebagai bodyguard Senja juga karena perasaan Jino yang mulai menyukai Senja.
"Apa kakak pikir ayah akan setuju juga bila tau kakak jadi pacarku.. " ucap Senja setenang mungkin. Ia sebenarnya cukup jengah menghadapi Jino yang kian tidak sopan.
"Ayah tidak akan marah bila tidak tau.. Senja, apa kamu pikir ayahmu akan percaya denganmu lagi setelah apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu baru saja kabur! " ucap Jino menekankan suaranya.
Senja berpikir keras, benar juga yang dikatakan Jino.
"Baiklah, bukankah ini hanya pura pura?" Tanya Senja.
"Kita lihat saja nanti.. " ucap Jino.
Senja sudah tertidur saat sampai di rumah.
__ADS_1
Jino memanggilnya namun tidak ada jawaban.
"Ah ternyata kamu tidur cantik.. " ucap Jino sambil tersenyum melihat wajah polosnya.
Jino lalu menggendong Senja masuk.
"Jino.. Senja kenapa??" Tanya bunda yang panik melihat Senja digendong Jino.
"Tenang tante.. dia hanya tertidur,saya nggak mau membangunkannya tan.. " ucap Jino.
"Alhamdulilah.. ayo bawa keatas nak.. " bunda memberi kode kepada Jino untuk mengikutinya.
Setelah Jino membaringkan Senja di kamar, segera ia pamit kepada bunda.
"Tante.. Jino pamit pulang dulu" ucap Jino.
"Nak tunggu.. kamu belum cerita ke tante, kemana Senja tadi?" Tanya bunda.
"Dia nggak kemana mana tan, Senja tadi kerumah temannya, mengerjakan tugas katanya" ucap Jino berbohong.
"Dasar anak bandel, ke rumah teman kok nggak bilang.. " gumam bunda.
"Terima kasih ya nak.. kamu sudah menjaga Senja hari ini, tenang aja tante nggak akan bicara sama ayahnya Senja" ucap bunda.
"Oke tan.. tante emang yang paling cantik.. " Jino membuat jarinya love korea.
"Ish kamu mau godain tante yang udah sepuh ini?" Ucap bunda.
"Eh tante yang kayak gini aja sepuh apalagi nenek Jino tan.. hahaha" Jino tertawa lepas.
"Sudah sudah! Ayo kamu makan dulu nak.. bibi udah masak tuh.. " ajak tante.
"Lain kali aja tan.. aku juga ditunggu mama dirumah " ucap Jino.
"Ohh gitu.. yaudah hati hati ya.. " ucap tante.
"Oke tante.. bye.." pamit Jino.
Untungnya ayah belum pulang dari kantornya, jadi mereka semua bisa diam untuk masalah ini.
__ADS_1