Rasa Senja

Rasa Senja
Bab 17


__ADS_3

"Nggak usah!" jawab Ryan seperti sedang sedikit emosi.


Sejenak Ryan berusaha mengatur nafasnya.


Mengendalikan emosinya, Ryan memang sedang dalam mode emosi. Cemburu mungkin iya, karena dia memergoki Senja dan Jino di hotel kemarin. Siapa yang nggak curiga, mereka berdua di hotel berduaan?. Ryan nggak nyangka ternyata Senja itu wanita macam apa. Selama ini yang dia tau anaknya polos, tapi nyatanya?


Dan sekarang, rasanya Ryan ingin menghindar aja. Takut dia akan mengucapkan hal hal yang diluar kendali emosinya.


"Nggak usah aja, gua bisa sendiri.." ucap Ryan melembut.


"Nggak papa, biar aku bantu.. sampe waktu berkunjung habis aja .." ucap Senja.


"Alhamdulillah bagus kalau lu udah ada yang nemenin.. kita pamit dulu ya.. cepet sembuh.." ucap Faris, dan teman teman yang lain segera menyusul pamit.


Meninggalkan Senja dan Ryan berdua disana.


"Bukannya elu yang kemarin nyuruh gua jauhin? Sekarang ngapain lu masih disini?" ucap Ryan ketus.


Senja memandang Ryan penuh arti, lalu ia menghela nafas panjang.


"Gak papa, aku pengen aja disini.. " jawabnya.


"Terserah, gua mau tidur.." ucap Ryan masih tak bersahabat. Ryan lalu merapatkan selimut nya dan memejamkan matanya. Pastinya Ryan tidak tidur, ia hanya menghindari Senja yang sudah membuat hatinya sakit kemarin.


"Ck.."


Senja lalu menunggui Ryan yang tertidur, ia hanya membuka laptopnya dan mengerjakan tugas dari dosennya.


Ryan sesekali melirik Senja yang masih berkutat dengan laptopnya. Merasa bosan sendiri akhirnya Ryan tertidur.


Senja juga sudah selesai dengan tugasnya, lalu ia merebahkan dirinya di kursi. Disini nggak ada sofa.


Tak lama kemudian ia juga meluncur ke alam mimpi.


+++++++


Entah berapa lama Senja tertidur, tiba tiba dering ponsel membangunkannya.


Kak Jino calling


"Assalamualaikum kak.."


"Waalaikumsalam cantik.. kamu udah pulang? Maaf kakak belum bisa ke rumah, ini masih dirumah, mamaku sakit.."


Senja melihat jam tangannya. Sudah pukul 18.30 ternyata.


"Emm iya kak, nggak papa lagiyan kan dirumah ada bibi, kakak jagain tante Mery aja .. aku nggak papa.."


"Yaudah.. maaf ya.. ntar aku ijin ke tante kalau hari ini nggak masuk kerja.."


"Okey kak, semoga tante cepet sembuh.. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam cantik, telfon kakak aja kalau ada yang sakit .."


"Iyaaa bawel.."


Ck.. harus bohong kan.. kalau nggak bohong pasti kena omel, Batin Senja.


Senja lalu sibuk telp dengan pak Dani yang tadi ia suruh pulang, lalu ke bibi Pai. Biar nggak pada cemas, terpaksa dia harus bohong juga alasan nginep di rumah Nisha. Toh, ayah dan bunda juga masih lama pulang nya.


"Kenapa harus bohong?" suara Ryan tiba tiba mengagetkan Senja. Entah sejak kapan Ryan mendengar nya bertelfonan ria.

__ADS_1


"Emm .. nggak papa.." jawab Senja enteng.


"Kalau repot mending kamu pulang.." usir Ryan.


Senja yang mendengar ini pun sebenarnya hatinya mencelos, tapi ia terlalu kasihan meninggalkan Ryan sendiri.


Akhirnya Senja coba saja untuk mengacuhkannya, ia kesampingkan hatinya yang sakit karena sikap Ryan yang jutek.


"Iya. .. saya shalat dulu.." pamit Senja, ia segera melaksanakan ibadah nya.


Selesai shalat Senja segera masuk kembali ke ruangan Ryan. Ia melihat makanan sudah ada di sampingnya. Tapi Ryan belum juga memakannya, Ryan malah sibuk dengan laptopnya. Entahlah, mungkin mengerjakan tugas.


"Makan dulu..." ucap Senja mengambil jatah makan Ryan.


"Iya.. ntaran aja, gua mau ngerjain ini dulu.." ucap Ryan masih fokus dengan laptopnya.


"Besok aja napa kalau dah sembuh, ntar saya pinjemin materiku.." Senja memaksa.


"Bentaran aja, lu pulang gih, gua nggak papa kok sendiri.." ucap Ryan dingin. Masih tanpa memandang Senja.


Meskipun demikian, Ryan sebenarnya deg degan saat sedekat ini dengan Senja. Tapi Ryan masih belum memaafkan Senja.


Senja melihat wajah pucat Ryan dengan hati yang bergetar, Senja tau perasaan nya. Maka dari itu, hatinya mencelos melihat Ryan yang bersikap dingin kepadanya. Tapi ia harus bersabar, ini adalah konsekuensinya karena sudah mengabaikan Ryan kemarin. Dan bukankah ini yang diharapkankannya?


Agar Ryan menjauh dari hidupnya. Untuk apa Senja sedih? setelah harapannya sudah tercapai.


"Aaaa.." Senja menyodorkan makanan Ryan.


Dibalik segala kegalauannya, Senja tetap tidak tega.


Ah gimana bisa menghindar coba?


Tangannya aja malah reflek menyuapi Ryan.


"Aaaa.." Senja kekeuh menyuapi Ryan.


Akhirnya setelah beberapa lama, Ryan akhirnya membuka mulutnya.


Senja tersenyum manis.


Deg deg deg..


(Ehh Mas Ryan deg-degan..)


"Melihat senyum mu.. apa aku bisa tahan Nja.." batin Ryan.


Tanpa berkata apapun, Ryan menghabiskan makanannya.


Senja juga membantu Ryan meminum obatnya.


"Makasih Nja.. harusnya lu nggak usah nglakuin ini.." ucap Ryan kemudian.


"Nggak papa, yaudah.. aku tunggu disini ya.." ucap Senja.


"Kamu pulang aja, ini udah malem Nja.." ucap Ryan.


"Iya.. nanti.. kamu istirahat aja.." ucap Senja sambil membantu Ryan berbaring.


"Nja.. katamu kita harus menjauh.." ucap Ryan membuka suara setelah beberapa lama mereka terdiam.


"Iya menjauhnya dilanjut besok.. kalau kamu udah sembuh.." ucap Senja.

__ADS_1


"Kenapa? ini malah bikin aku tambah nggak siap Nja.." ucap Ryan lirih.


"Udah deh nggak usah banyak mikir, yang penting kamu sembuh dulu.." ucap Senja sambil tersenyum manis.


"Iya.. bener kamu nggak pulang aja?" ucap Ryan masih kekeuh.


"Bawel ih.. udah tidur.." ucap Senja.


Tanpa menjawab Senja, Ryan segera memejamkan matanya.


Entah berapa lama Ryan tertidur. Senja masih mengamati wajah Ryan yang masih pucat.


Lalu ia mengamati luka Ryan yang dibalut perban, agak besar juga ternyata.


"Pasti sakit banget ya? kok bisa sih kamu kena minyak panas? nggak fokus banget kalo kerja.." ucap Senja.


"Sakit lah.." ternyata Ryan belum tidur.


"Eh.. aku kira dah tidur.." ucap Senja, wajahnya memerah karena ketahuan ngomel.


"Iye.. trus kalo gua tidur kamu bisa gitu ngomel ngomel.." ucap Ryan.


"Eh nggak kok, aku tanya beneran.. itu kok bisa kena sih? trus kapan? kemarin kemarin kita masih ketemu .." ucap Senja.


"Hmm ini kena pas hari kita ketemu itu, gua nggak fokus, ngejatuhin penggorengan.." ucap Ryan.


"Makanya.. kalau kerja itu nggak usah banyak ngelamun.." ucap Senja.


"Enak aja, ini juga gara gara elu.. gara gara gua liat lu sama Jino disana gua jadi nggak fokus!" ucap Ryan ketus.


Senja terhenyak mendengar jawaban Ryan.


Beberapa lama ia jadi diam. Ryan yang menyadari perubahan mimik Senja jadi sedikit bingung dengan apa yang dirasakan Senja terhadapnya sebenarnya.


Disatu sisi Senja seperti tidak menyukai Ryan, tapi disisi lain Senja amat perduli dan perhatian terhadap nya.


"Udah nggak usah dipikirin jauh jauh.. ntar juga kaki ku sembuh .." ucap Ryan memecah keheningan.


"Maaf ya.. " ucap Senja.


"Kenapa harus minta maaf? kayak ke gep selingkuh aja.." ucap Ryan.


"Ya.. kamu kan jadi nggak fokus gitu.." ucap Senja.


"Iya.. nggak papa.. lu nggak pulang? ntar dicariin cowok lu.." ucap Ryan.


"Dia.. bukan.. eh.." Senja malah salah tingkah.


"Bukan apa?" ucap Ryan penasaran.


"Bukan apa apa, aku mau nginep sini aja.. tadi udah izin kok sama orang rumah.." ucap Senja.


"Ngapain nginep? pulang aja.." ucap Ryan.


"Nggak papa, besok juga nggak ada kelas kok.." ucap Senja.


"Terserah deh gua mau tidur.." ucap Ryan segera memejamkan matanya.


Duh... Ryan sama Senja ini emang bener bener malu malu mau ya..


Hayoo siapa yang ikut gemes??

__ADS_1


Yuk lanjooot 👇👇👇👇


__ADS_2