
Kedatangan tamu
Setelah lima hari dirawat kondisi Senja mulai membaik dan dia sedang bersiap hendak pulang.
Ponsel yang ada di meja berdering minta diangkat.
Senja melihat nomor asing dilayar ponselnya.
"Halo Assalamualaikum.."
"Hey Senja? udah baikan?" Suara dari sebrang sana.
Senja mengernyitkan dahi,
"Siapa sih sok kenal banget, nggak pernah dengar suaranya ikh" Senja membatin.
"Hmmm sorry ini siapa ya?." Tanya Senja balik.
"Lu gak inget gua heh? Iya deh iya,gua minta maaf nja nggak niat buat lu pingsan " suara dari sebrang menjawab.
Deg..
Tiba tiba jantung Senja terasa agak sesak.
Dielusnya perlahan supaya sakitnya mereda.
"Sabar Senja sabar ini ujian!" Senja bergumam.
"Oh elu Yan, lu dapet nomer gua darimana?" Senja berusaha meredam rasa marah.
Gara gara Ryan dia harus pingsan sampai masuk rumah sakit. Tapi jangan sampai Senja marah, sifat pemarah cuma memperburuk kesehatannya.
Ryan yang mendengar suara Senja yang masih lemah tiba tiba menjadi iba.
"Kapan lu pulang dari rumah sakit?" tanya Ryan.
"Ini dah mau pulang kok, udah dulu ya, bye.." Senja segera menutup telepon nya. Dia malas bicara sama orang itu.
"Huft .. ngapain sih ni orang, nggak ada rasa bersalah nya .." gumam Senja.
Bunda yang melihat mimik muka anaknya yang masam lalu bertanya,
"Kenapa nak? Mukamu kok begitu? Ada yang sakit lagi? "
"Nggak bund.. Senja sedikit lelah aja ."
__ADS_1
"Udah kamu duduk aja nak.. ini biar bunda yang urus " bunda mengambil tas Senja.
Sebenernya Senja cuma mau beberes barang barang seperti ponsel dan bukunya saja, bener bener bukan pekerjaan yang berat sama sekali.
"Bunda apaan sihh.. ini kan cuma sedikit.. biar aku olahraga raga dikit kenapa bund? " Senja sedikit memohon.
Bunda hanya menatap nya saja.
Malas bila harus berdebat dengan putrinya yang keras kepala.Bunda masih terus berfikir bagaimana caranya agar nanti saat ayah bicara tentang kuliah Senja, dia mau menurut. Sedangkan saat ini masalah sepele seperti ini saja Senja masih kekeuh tidak mau dibantu.
Di rumah Hanggono
Senja membuka pintu kamarnya,
"Uhhhh kangeeen.. " langsung merebahkan diri dikasur kesayangan. Senja masih merasa lemah ,lagi lagi ia berusaha naik tangga sendiri ke kamarnya tanpa dibantu bibi. Padahal kondisinya masih lemas.
"Nona .. minum obat dulu ini sudah saya bawa"
Bibi mengetuk pintu kamar Senja.
"Iya bi masuk aja.. "
"Non silahkan.. " bibi hendak membantu nona nya bangun.
"Bi.. please aku bisa sendiri oke!" Senja menekankan suaranya sambil berusaha bangun
bibi tau watak nonanya ini memang keras kepala.
Bibi sudah bekerja disana sejak Senja bayi.
Dialah juga yang mengurus semua keperluan Senja. Menemani Senja bila nyonya dan tuannya bekerja.
Senja bahkan tidak pernah mengeluh sakit meski fisiknya lemah.
Setelah minum obat mata Senja menjadi berat.
Ia pun langsung tertidur.
Di ruang keluarga Hanggono
"Senja sudah istirahat bund? " Ayah bertanya kepada bunda yang saat itu sedang melamun melihat keluar jendela. Ayah baru saja pulang dari kantor nya, ada pekerjaan yang nggak bisa beliau tinggalkan.
"Ayah sudah pulang? Kok nggak salam sih? " Bunda segera membantu membawa tas ayah. Ayah mencium kening istrinya yang cantik itu.
"Ayah udah salam bunda.. bunda yang nggak denger.. yaudah di ulang ya.. Assalamualaikum istriku.. " ayah tersenyum hangat.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ayah.. maaf ya bunda nggak fokus nih.. bentar ya bunda balikin tas ayah dulu"
Bunda menuju ke kamar.
Ayah masih beristirahat di ruang keluarga saat ada yang memencet bel rumahnya. Sesaat bibi datang dan mengabarkan kalau di luar ada pemuda yang mencari non Senja.
"Suruh masuk aja bi, biar saya temui dulu."
"Baik tuan.. "
"Siapa yang cari Senja,..?" Ayah mengernyitkan keningnya.
Ayah segera keluar untuk menemui tamunya.
Penasaran siapa yang berani menemui putrinya,
selain kedua sahabat nya. Seingat ayah belum pernah ada laki laki selain sahabat Senja yang datang. Tidak mungkin kalau sekarang tiba tiba Senja punya pacar. Ayah tidak akan mengijinkan nya.
Melihat ternyata Ryan yang datang segera ayah hendak memaki Ryan.
Ryan yang melihat mimik muka ayah tidak begitu bersahabat langsung mengucapkan salam dengan sopan.
"Assalamualaikum om.. "
"Mau apa kamu kesini heh? " Ayah berkata dengan nada tinggi.
"Maaf om kedatangan saya kesini,mau minta maaf sekaligus menjenguk Senja om.. " Ryan sangat berhati hati mengucapkan nya. Takut pak Hanggono menjadi tambah marah. Ia tau saat ini berada dalam kandang macan.
Ayah hanya terdiam menatap Ryan tajam.
" Saya ingat kan sekali lagi ,tolong jangan berbuat yang tidak tidak lagi. Dan mulai saat ini kamu nggak akan bisa bertemu dengan Senja!" Ayah masih menatap Ryan tajam.
Ryan tidak mengerti apa maksud dari pak Hanggono.
"Sekali lagi saya minta maaf pak, saya bisa bertemu Senja nanti saat di kampus .Kalau begitu saya permisi.. " pamit Ryan.
"Kamu salah anak muda! Bahkan Senja tidak akan kembali lagi ke kampus! ." Ayah berkata lantang.
Ryan yang hendak pergi pun menghentikan langkahnya, menatap Pak Hanggono tak percaya.
" Apa Senja akan pindah pak? " Takut takut Ryan bertanya pada Ayah.
"Itu sama sekali bukan urusanmu nak! Sekarang pergilah! Kami sudah memaafkanmu!" jawab ayah tenang.
Ryan sebenarnya tidak puas dengan jawaban pak Hanggono. Tapi ia takut bertanya lebih jauh. Ryan mengangguk lalu permisi pergi.
__ADS_1
"Hhhh mau pindah kemana tu cewek? Ahhh besok gua tanya Nisha aja lah, tanya sama bokapnya cari masalah gua.. hmmm" Ryan bertanya tanya dalam hatinya. Tapi tidak bertanya lebih jauh, lagipula dia harus segera berangkat ke restoran.