
Ibu Thomi datang ke ruang tengah membawa camilan satu toples biskuit yang masih panas untuk kami makan, menunggu hidangan utama datang.
Sepuluh menit kami menunggu makanan tersebut sambil mengobrol dan memakan biskuit buatan Ibu Thomi, akhirnya datang juga hidangan yang telah ditunggu-tunggu oleh anaknya yang imut nan gembul ini. Tiga buah mie kuah dengan bumbu rahasia telah tiba.
Abel menggosok-gosok tangannya, terlihat antusias, lantas segera mengambil mangkuk tersebut dan menyeruput mie dan kuahnya cepat, secepat orang yang belum diberi makan berhari-hari.
“Uhh... Masakan Ibumu itu memang tidak pernah gagal Thom!” Abel menyengir memuji Thomi, lantas dengan cepat beralih mata kembali kepada mie kuah yang berada di tangannya tersebut.
Pipi Thomi yang sebelumnya memang merah, kini malah semakin memerah karena dipuji Abel. Tapi bukan dia kan yang memasaknya? “Iya, ayo Adrian, jangan sungkan.” Thomi menggeser satu mangkuk mie kuah tersebut, menyilakan untuk memakannya. Tanpa banyak pikir, aku mengangguk, lalu mengambil mangkuk yang berisi mie kuah tersebut.
Benar saja, reaksi Abel ternyata tidak berlebihan. Mie kuah ini memang enak, susah dijelaskan. Mie kuah seenak ini dengan porsi yang sangat besar (untuk ukuran anak kecil) memang yang terbaik. Rasa asin, manis, dan rasa-rasa lainnya yang tidak bisa dijelaskan, bersatu ke dalam kuahnya tanpa ada rasa yang saling bertabrakan.
Ukuran mie nya juga, berukuran tidak terlalu besar atau kecil. Bertekstur lembut saat diseruput dan dapat dengan mudahnya dikunyah.
...----------------...
Setelah selesai memakan masakan Ibunya Thomi, kami pamit dengan beliau dan pergi menuju padang luas tempat biasanya mereka berlatih duel disana (kata mereka sih begitu).
Thomi mengambil sikap siaga seperti kiper yang menghadang datangnya bola. Latihannya simpel, aku dan Abel hanya perlu menyerang Thomi. Begitu juga dengan Thomi yang hanya perlu menyerang kami berdua.
Kelihatannya tidak seimbangkan? Memang, tapi sebenarnya itu adalah kemauan Thomi sendiri. Abel sudah memperingati beberapa kali, tapi Thomi tetap bersikukuh ingin melawan kami berdua sendirian.
“Oke, kalian sudah siap?” Thomi melompat-lompat kecil.
Kami mengangguk, dan latihan pun dimulai.
Tanpa banyak bicara, Abel sudah gesit menyapu tangan kanannya kedepan membuat air berbentuk bola besar yang mengambang, dan langsung melemparkannya kearah Thomi yang dari awal sudah siap menerima serangan pembuka tersebut.
Thomi berhasil menghadang serangan tersebut lantas tersenyum, “Wah, sepertinya yang bisa melawanku hanya Abel nih. Kamu kan tidak punya kekuatan, bukan begitu Adrian?”
Aku berlari menyamping, tersenyum kecil tidak menjawab. Lantas mencengkeram pasir yang berada di kantong kecil celanaku dan langsung melemparnya ke Thomi.
__ADS_1
Thomi yang masih tersenyum meremehkanku, telat mengantisipasi serangan dadakan tersebut. Membuat matanya kelilipan, tidak bisa melihat dalam beberapa detik.
Abel berlari kedepan menyeringai, membuat bola air dengan ukuran yang cukup besar dan melepaskan air berbentuk bola tersebut kearah Thomi yang menyelimuti sekujur tubuhnya dan membuatnya tidak bisa bernapas, beberapa detik kemudian akhirnya dia terkulai lemas.
Latihan ronde pertama dimenangkan oleh aku dan Abel.
Aku tersenyum, melompat mundur kembali ke posisi awal sebelum latihannya dimulai.
Abel memecahkan bola air tersebut, lantas mundur beberapa langkah hingga sejajar denganku.
Thomi masih terduduk, mendongak keatas langit yang masih cerah, lantas menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“Baiklah. Aku seharusnya tidak meremehkan kalian. Tapi aku yakin, aku akan menang dua ronde sisanya.” Thomi mengepalkan tangan, menyeringai. Semangatnya ternyata tidak bisa dipatahkan hanya karena serangan tadi.
Kami bersiap mengambil posisi.
Aku mundur tiga langkah, untuk mengantisipasi serangan yang digunakan Thomi. Kali ini dia terlihat sedikit berbeda dari ronde sebelumnya, tangan kirinya secara tiba-tiba berubah menjadi lendir berwarna kuning.
Thomi mengibaskan tangan kirinya kedepan. Aku sedikit melotot, terkejut dengan serangannya itu lalu menunduk.
Kaki Thomi ikut berubah menjadi lendir kuning, membuatnya meluncur dengan cepat kearah kami. lebih tepatnya kearah Abel. Karena Abel lah tumpuan utama dari kekuatan kami.
Thomi mencoba memukul Abel dengan kedua tangannya yang sudah menjadi lendir kuning tersebut, namun Abel sudah siap dari awal dengan serangan itu, langsung menghentakkan telapak tangannya ke rumput, membuat air yang sudah dialiri tadi menjadi anak panah yang panjang seolah keluar dari dalam tanah tersebut telak mengenai Thomi.
Akan tetapi serangan tersebut sia-sia. serangan itu hanya menembus tubuhnya yang sudah menjadi lendir kuning.
Aku merogoh isi kantong kecilku. Senjata untuk melelehkan lendir di mana ya... Ah! Ini!
Tiga bola hitam kecil yang dibungkus dengan kertas putih.
Aku berlari kearah Thomi. Setelah tersisa jarak dia meter, aku melemparkan ketiga bola hitam tersebut ke kepala, badan, dan kaki Thomi yang sudah menjadi lendir.
__ADS_1
Serangan itu efektif membuat lendirnya menguap. Thomi berbalik tajam menatap kearahku. Dia menyelimuti lendirnya ke sekujur tubuh Abel, kecuali wajahnya dan mengeraskannya.
Tanpa menungguku melempar bola hitam tersebut, Thomi sudah meluncur, bergerak seperti air yang mengalir. Begitu cepat.
Tubuh gemuknya tersebut kian detik kian membesar, membuat matahari siang tertutupi oleh lendirnya tersebut. Thomi tertawa terbahak-bahak, menatap ke bawah. Lantas dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah.
Aku tidak sempat menyaksikan dengan jelas apa yang dilakukan Thomi kepadaku. Aku hanya sibuk merogoh isi kantong kecilku mencari sesuatu yang tepat untuk melindungi diriku dari serangan tanpa ampun tersebut.
Ah! Dapat! Sedetik kemudian aku melemparkan bola kecil berwarna biru ke permukaan tanah, membuat dinding setengah bulat dari selaput tipis berwarna biru.
Serangan Thomi sudah telak mengenai rerumputan yang hijau dan digantikan oleh lendir kuning milik Thomi yang sudah merambat ke segala penjuru lapangan yang luas tersebut. Abel juga kena imbasnya.
Beberapa saat setelahnya, kepala Thomi muncul dari salah satu permukaan tanah yang terkena lendirnya. Selaput pelindung yang aku lempar itu masih bertahan. Lendir kuning milik Thomi tidak lengket jika bersentuhan langsung dengan selaput tersebut.
Kepala kuning Thomi menggeram melihat aku baik-baik saja setelah terkena serangan tanpa ampun nya itu.
“Ck, kukira kamu akan langsung membeku seperti Abel dan rerumputan disekitar lapangan ini, Adrian!” Thomi mengatupkan rahangnya.
“Hah? Aku membeku hanya karena serangan payahmu itu?” Suara yang kurang jelas terdengar dari depanku. Pasti itu suara Abel!
Benar saja, Lendir-lendir yang mengekang sekujur tubuh Abel seketika melunak. Abel menyeringai sambil menunjuk kepala Thomi yang kuning tersebut.
“Sekarang sudah berakhir Thomi!” Abel mengangkat tangannya, membuat semacam lingkaran lebar disekitar kepala kuningnya Thomi, dan anak panah yang menjulang keatas langit dengan sedikit sesuatu yang beda dari anak panah sebelumnya mengenai dan menggores kepala Thomi.
Beberapa detik kemudian anak panah tersebut berubah melengkung menjadi air berbentuk bola dengan sedikit udara disana, sedikit mengambang keatas.
Tepat setelah itu, selaput tipisku pecah. selaput tipis tersebut berubah kembali menjadi bola kecil berwarna biru.
Abel tertawa girang, “Sekarang kau sudah kalah Thomi! Dua kosong! Hahahaha...”
Aku melangkah mendekati Abel, merangkul bahunya, tersenyum.
__ADS_1
Thomi tertawa kecil, “Hah? Kalah? Pertandingan sesungguhnya baru saja dimulai.”