
Latihan selesai. 2-0. Aku dan Abel menang. Meski tadi nyaris kalah melawan Thomi, tapi akhirnya kami bisa menang.
Harus diakui, kekuatan Thomi memang hebat. Jika saja aku dan dia, atau Abel dan dia berduel sungguhan, mungkin Thomi bisa mendapatkan total skor 4-0 dengan mudah.
“Kami pulang dulu ya Thom.” Abel yang merangkulku, melambaikan tangan kepada Thomi. Thomi membalas lambaian tersebut. Lalu, kami segera melangkah, berjalan pulang.
...****...
“Wah... Abel bau sekali!” Tetam menutup hidungnya.
Abel tidak mengacuhkannya, dan segera pergi ke kamar mandi.
Aku tertawa kecil, lalu pergi ke kamar untuk mempersiapkan pakaian dan celana yang akan di pakai malam ini, sembari menunggu Abel selesai mandi.
Tetam juga pergi ke kamar, penasaran apa yang terjadi dengan kami barusan.
“Ah, tadi siang kami latihan dengan Thomi.” Aku melipat baju, berkata santai.
Tetam ber-oh paham, “Oh... pantas saja badannya bau. Pasti dia terkena lendir Thomi kan?”
Aku mengangguk. Abel sudah keluar dari kamar mandi, menuju ke sini dengan telanjang dada. Aku mengambil handuk yang berada di atas pintu, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah makan malam, kami mengobrol beberapa menit, lalu kemudian lanjut pergi ke kamar, tidur.
...****...
Hari kedua liburan sekolah, aku, Abel, dan Tetam bangun pagi-pagi sekali. Membantu menganyam rotan untuk dijual hari ini.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya sekitar lima belas menit, karena kami bertiga sudah sedikit terlatih dan lihai soal anyam menganyam ini.
Setelah selesai menganyam rotan, kami bertiga pamit keluar rumah untuk bermain.
“Ini tidak berbahaya kan?” Tanyaku yang sedikit ragu.
Tetam meletakkan siku nya di bahuku, “Tenang saja. Ini bahkan lebih mudah daripada latihan kalian kemarin, yang sampai satu lapangan hanya penuh dengan lendir kuning si Thomi itu.”
Aku yang tidak mau banyak tanya lagi, terpaksa mengangguk seolah paham.
Tujuh menit berjalan dari rumah, akhirnya sampai. Aku, Tetam, Abel dan teman-temannya yang lain juga sudah berkumpul di depan hutan. Dan ada Thomi juga yang ikut ke sini.
“Baik, semuanya sudah berkumpul?” Seorang perempuan bertanya ramah. Kami serentak menjawab “sudah”.
Perempuan itu melihat sekelilingnya, berhitung, kalau saja ada yang belum datang. “Oke, hari ini kita latihan untuk mengumpulkan gulungan kertas perkamen tua ini.” Dia mengangkat enam gulungan kertas perkamen yang ujungnya sudah di makan rayap dan mulai menguning.
__ADS_1
“Karena total orangnya ada sepuluh, jadi aku akan membagi kalian menjadi lima kelompok, yang terdiri dari dua orang di setiap kelompok tersebut.”
Aku mengangkat tangan, secara tidak sengaja memecah fokus mereka. “Maaf, sebelumnya aku tidak tahu nama kalian. Kalau boleh, silakan perkenalkan nama kalian.”
Perempuan itu mengangguk, “Perkenalkan, aku Airiz. Di sebelah kananku yang rambutnya dikepang itu, Daisy.” Aku sedikit mengangguk, walaupun empat orang lainnya tidak dia kenalkan.
“Oke, permainannya mudah, kumpulkan masing-masing dari kelompok kalian tiga gulungan yang berbeda. Jika kalian berhasil mengumpulkan ketiga gulungan tersebut, selanjutnya pergi lah ke menara besar disebelah timur.” Airiz menyuruh Daisy untuk membagikan keenam gulungan tersebut ke orang yang berbeda.
Setelah membagikan gulungan tersebut, Daisy menepuk bahu Airiz, lalu mengangguk. “Baiklah, kelompoknya akan aku bagi dari sekarang, dan jangan ada yang protes.”
Kelompok 1 :
-Abel
-Tetam
Kelompok 2 :
-Ben
-Thomi
Kelompok 3 :
-Kerl
Kelompok 4 :
-Adrian
-Fang
“Mana adil! Tetam dan Abel satu kelompok?!” Ben protes, tidak terima.
Airiz mendorong tubuhnya, lalu menjitak kepala Ben, “Sudah kubilangkan? Jangan ada yang protes! Ya sudah, siap tidak siap, permainannya akan dimulai.”
“Tunggu!” Thomi mencegat Airiz dan Daisy yang balik badan hendak pergi.
Thomi menggaruk kecil pipinya, “Kenapa kami hanya diberi dua gulungan yang sama? Gulungan yang masih di tangan Daisy itu mau di apakan?”
Daisy menyengir lebar, “Kau mau tahu? Gulungan ini nantinya akan kami sebar ke penjuru dari hutan ini. Bukannya hutan ini sangat luas? Jangan khawatir, aku sudah memberi dinding pembatas. Jadi, arena permainan ini tidak cukup luas. Ya... lebih ke supaya tidak ada yang tersesat sih.”
Ben ingin mencegat mereka, tapi terlambat. Airiz dan Daisy sudah gesit melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Tapi sebelum mereka hilang, terlihat Airiz menengok ke belakang, dan mengangkat kedua jarinya. Lalu mereka hilang dari pandangan kami.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, kami seperti terangkat dan menghilang, lalu berpindah ke sembarang tempat di hutan ini.
Aku meraba cepat tubuhku, untuk memastikan tubuhku aman.
Aku melihat ke sekitaran, hanya ada pepohonan yang sangat amat besar. Burung-burung berkicauan, membuat suara-suara kicauan tersebut terdengar dari berbagai arah.
“Ayo, kita harus cepat mengambil ketiga gulungan itu.” Seseorangmenepuk bahuku.
Aku mengangguk mantap, “Tapi nama dan kekuatanmu apa?” Entahlah, mungkin sekarang wajahku seperti orang yang paling bodoh sedunia.
Dia menepuk dahi, “Ck, namaku Fang. Kekuatanku menciptakan berbagai jenis senjata.” Fang menunjukkan berbagai jenis senjata yang dia buat. Pedang bilah panjang, busur, perisai, tombak, dan...
“Itu apa Fang?” Aku menunjuk salah satu senjata yang berbentuk agak aneh.
Fang sedikit kaget, lalu mengambil pedang yang aku tunjuk tersebut. “Oh, ini pedang sabit merah.”
“Pedang sabit merah?”
Fang mengangguk, “Aku kurang tahu fungsinya untuk apa, yang pasti setahuku pedang ini warisan turun temurun dari keluargaku. Lalu, kata Ibuku, pedang ini bisa mengalirkan kekuatan dari mereka yang menggunakannya.”
Fang menepuk-nepuk senjatanya, lalu senjata tersebut hilang setelah dia menepuknya. “Nah, sekarang... perkenalkan namamu, dan kekuatanmu.”
“Namaku Adrian. Kekuatanku tidak ada.”
Fang mengangkat salah satu alisnya, “Kamu tidak punya kekuatan?” Aku mengangguk.
“Tapi aku masih punya kantong kecil ini.” Aku tersenyum, memegangi kantong tersebut.
“Ya... walaupun kekuatannya tidak seperti kalian, tapi kantong pemberian Mamaku sudah pernah mengalahkan Thomi.” Aku menyeringai lebar.
Fang membuat satu pedang panjang, “Oke, walaupun Thomi termasuk salah satu teman terlemah kami, tapi kekuatannya sangat besar jika dibandingkan dengan kami semua.”
“Adrian, sekarang kita bersial untuk menghadapi mereka, dan mengambil ketiga jenis gulungan yang berbeda.” Fang menguatkan sarung tangan hitamnya.
Aku mengangguk. “Nah, Adrian. Sambil kita berjalan, aku akan menjelaskan kekuatan dari mereka.”
Fang mulai melangkah berjalan. Aku mengikutinya dari belakang. “Yang pertama, kenapa Thomi dan Ben sangat tidak suka ketika Tetam dan Abel menjadi satu kelompok? Karena jika mereka menjadi satu kelompok, kekuatan Abel akan menjadi berkali-kali lipat. Dia bisa saja membuat perangkap bola airnya sebesar hutan ini, jika dia bekerja sama dengan Tetam itu.”
Aku sedikit terkesiap, baru tahu akan menjadi sebesar itu kekuatan mereka jika digabungkan. Terlebih lagi, kekuatan Abel cukup merepotkan jika dia bertarung serius.
Fang melompat keatas dahan, “Ayo, kita tidak akan cepat menemukan gulungan itu kalau kita hanya berjalan.” Aku mengangguk, lalu melompat ke atas dahan pepohonan yang bisa dibilang, lumayan tinggi.
Aku melihat Karl dan Kerl melintasi dahan pepohonan, melewati kami. Fang melakukan ancang-ancang, “Baiklah, akan aku jelaskan cara kerja kekuatan mereka berdua. Ayo, kita susul mereka dan ambil gulungan yang ada di tangan Kerl. Ini akan sedikit merepotkan.”
__ADS_1