
Beberapa orang keluar dari kamarnya. Satu, dua, delapan, sebelas anggota Pasukan Bulan, ditambah aku, ketua komandan dan wakilnya... jadi totalnya empat belas.
Seseorang merentangkan tubuhnya, menguap. “Aduh, ada apa sih Leah? Aku baru saja mimpi indah.” Eh? Dia tidak memanggilnya dengan sebutan ketua komandan?
“Itu sudah biasa. Bahkan Leah tidak ingin dipanggil ketua komandan. Itu akan membuatnya seolah memiliki beban yang besar. Oh ya, aku belum memperkenalkan diri. Aku Wass, Wakil Komandan Pasukan Bulan.” Wass mengulurkan tangan. Aku mengangguk, kemudian berjabat tangan.
Salah satu anggota pasukan bulan menatapku, mengerjap-ngerjap. “Kau membawa anak lugu ini, Leah? Meskipun badannya cukup bagus, tapi apa spesialnya anak ini?”
“Ya karena dia satu-satunya peserta tahun ini yang tidak punya kekuatan. Tapi dia berhasil mengalahkan Yan, makanya aku merekrut dia.” Leah duduk santai di sofa. Meminum setenggak alkohol.
Muncul anggotanya yang lain, melayang dengan sapu terbang. Turun ke bawah. “Yan? Bangsawan payah itu? Apa spesialnya dia?”
Leah menepuk-nepuk sofa disampingnya, menyuruhku duduk. “Ya... dia memang payah sih, tapi untuk ukuran orang yang tidak memiliki kekuatan,” Leah menepuk pelan bahuku, “Orang ini pasti lebih berpotensi daripada si Payah itu.”
“Sekarang dia masuk Pasukan mana?” Wass mengulurkan makanan camilan ke atas meja, membetulkan celemeknya. “Hei, bukannya kau ikut denganku tadi?”
Wass duduk, mengambil kue kering berbentuk bintang. “Ya... waktu itu aku tertidur.”
Leah berdiri, “Baiklah semuanya. Perkenalkan dirimu, anak kecil.”
Anak kecil? Baiklah, daripada aku kena batunya. Aku berdiri canggung, sudah seperti patung. “Perkenalkan, namaku Adrian, dari Markrasta. Umurku–”
“Langsung saja, kekuatanmu.” Seseorang memotong.
Aku mengambil napas dalam-dalam, mengangguk. “Aku tidak punya kekuatan. Dikarenakan genetik.”
Penyihir yang terbang menggunakan sapu, menunjukku dengan gelas Wine-nya. “Apakah di keluargamu hanya kamu anak dari orangtuamu? Aku Lizt. Mau ikut minum juga?” Lizt tersenyum, manis.
Aku menggeleng, untuk tawaran minumannya. “Tidak. Aku punya adik, namanya Natan. Kata Mamaku, dia memiliki kekuatan. Tapi sampai hari ini aku tidak pernah melihat adikku menggunakan kekuatannya.”
“Ya. Perkenalannya dilanjutkan besok saja. Aku sudah lelah, seharian duduk di kursi, menunggu para sampah itu bertarung dengan kekuatan yang biasa saja, dan berharap bisa diterima salah satu Ketua Komandan.” Leah berdiri, menaiki tangga.
Beberapa saat setelah menaiki tangga, dia menunjukku. “Kau beruntung anak kecil. Selanjutnya, hari-harimu akan seperti neraka disini. Wass, tunjukkan kamar kosong untuk eee–”
__ADS_1
“Adrian.” Wass memotong. “Ya, pokoknya begitulah.”
Wass mengangguk. Anggota pasukan bulan yang lain bersungut-sungut, kembali masuk ke dalam kamarnya.
“Memang sudah biasa seperti itu, Adrian. Jangan terlalu diambil hati. Karena mereka disuruh Leah menyelesaikan misi, makanya muka mereka kusut begitu.” Wass tersenyum lembut. Berjalan di depanku.
Aku menggaruk pelan badanku yang sedikit gatal, “Misi? Misi apa yang sampai membuat mereka kusut begitu, Wass?” Tanyaku sambil berusaha sesopan mungkin.
“Menemukan sarang laba-laba raksasa.” Jawab Wass, singkat.
Aku menelan ludah. Serius?
“Nah, sudah sampai.” Wass balik badan, tersenyum. Kemudian membukakan pintu kamar.
Aku melangkah cepat beberapa langkah, melihat kamar. “Maaf, Adrian. Kamar ini sebenarnya tidak terurus. Jadi kamu bersihkan dan rapikan sendiri ya.” Wass memberikan jempol, lalu berlari keluar kamar. Sesekali terdengar suara Wass terjatuh, mengaduh pelan.
Wah... kamar pribadi. Setelah sekian lama aku mengimpikan kamar pribadi. Dan luas, 5x5m². Tapi minusnya hanya di kamar ini berdebu saja, tidak terurus. Selebihnya tidak ada masalah.
Aku merebahkan tubuhku ke kasur, dan langsung tidur terlelap.
***
Bulan tenggelam. Matahari perlahan terlihat, menerpa lembut wajahku. Aku bangun, beranjak dari kasur, menuju ruang tengah. Leah dan Lizt tengah duduk santai di sofa.
Aku berjalan menuju ruang tengah. “Leah. Kamar mandi di mana?” Leah dan Lizt sedikit mendongak, “Di atas.” Jawabnya, seraya menunjuk anak tangga. Aku mengangguk pelan, berjalan menaiki tangga.
Entahlah, dia tidak memberitahu letak persisnya di mana. Tapi akan kucari. Sepuluh menit aku keliling kesana kemari, tidak ketemu. Aku kembali berjalan ke lorong, memastikan ulang. Dan tepat disebelahnya, ada pintu kamar terbuka. Dia mengerjap-ngerjap melihatku.
“Kau anak baru itu ya? Siapa namamu? Emm... Adrian, ya Adrian. Ada apa kau berjalan keliling di sini?” Tanya orang itu, sambil membersihkan kedua matanya.
“Eh? Aku mencari kamar mandi, tapi tidak ketemu.” Aku menggaruk kepala, tersenyum tipis.
__ADS_1
“Dari lorong ini, lurus ke depan. Mentok, ada pintu kamar kayu seperti ini. Nah, itu kamar mandinya.” Orang itu mencoba tersenyum, lantas balik badan kembali ke kamarnya–
“Namamu siapa?” Aku buru-buru bertanya.
Orang itu menoleh, “Namaku Brice.” BRAK! Dia terlanjur menutup pintu dan menguncinya.
Aku menghela napas, ya sudahlah. Yang penting aku tahu letak kamar mandinya. Aku mulai berjalan ke kamar mandi.
***
Huhuhu... untunglah kantong kecilku bisa membuat banyak barang tanpa harus menambah berat kantong itu sendiri. Setelah selesai mandi, kami semua di kumpulkan ke depan kastil Pasukan Bulan.
Leah menyalakan rokok dengan pemantik, “Baiklah, setelah kalian selesai menemukan sarang laba-laba, selanjutnya kalian serang dan bakar saja sarang laba-laba itu. Sekalian dengan ratunya, itu pun jika kalian sanggup. Satu lagi, bawa anak baru ini dalam misi kalian. Bye... Aku mau sarapan dulu.” Leah balik kanan, menuju kastil.
“Hei, Leah. Kau tidak sedang bercanda kan?” Brok maju setengah langkah, protes. Leah hanya melambaikan tangan, “Kalau kau khawatir, khawatirkan saja dirimu.”
Brok, dan beberapa dari mereka menggeram. Aku maju selangkah, menuju kerumunan. “Kalian kenapa?” Pertanyaan yang simpel, namun memiliki jawaban yang tidak sesimpel itu.
Wass menjelaskan bahwa jika mereka tiba dan menyerang sarang laba-laba tersebut, kemungkinan besar sebagian dari anggota Pasukan Bulan akan mati, dan sangat tidak memungkinkan untuk keluar hidup-hidup.
Dan Leah, Ketua Komandan Pasukan Bulan tahu akan hal itu. Dan dia tetap menyuruh mereka menjalani misi yang tidak sebanding dengan kemampuan anggota kita saat ini.
Aku refleks menelan ludah, berusaha menenangkan mereka yang khawatir. Salah satu dari mereka yang tertunduk, seketika mendongak. “Hei, bocah. Misi kali ini, bukan misi yang sesederhana ketika kalian latihan di sekolah. Bahkan lebih mengerikan daripada raja hutan.”
Lima belas menit mereka menunduk, murung. Wass memecah lengang. Dan berkata sebaiknya mereka segera menjalankan dan menyelesaikan misi sebaik mungkin. Wajah mereka tidak bertambah lebih baik, melainkan tambah suram mimik mereka.
Hanya aku, Lizt, dan Wass yang terlihat baik-baik saja. Ya karena aku tidak tahu apa-apa. Mungkin sarangnya hanya sebesar apasih, laba-laba besar itu.
Salah satu dari mereka membuka portal. Lantas mereka dengan wajah murungnya berjalan pelan menuju portal tersebut. Beberapa detik setelahnya, kami pun sampai.
Aku mengiranya sarang laba-laba tersebut berada di gua yang tingginya empat kali orang dewasa, ternyata ini di luar dari bayanganku.
__ADS_1