Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Hari libur (4)


__ADS_3

Thomi tertawa kecil, “Hah? Kalah? Pertandingan sesungguhnya baru saja dimulai.”


Tanah bergetar. Tidak hebat, tapi cukup untuk membuatku sedikit panik.


Beberapa detik kemudian, muncul gumpalan raksasa persis lima meter di belakang Abel berdiri. Gumpalan tersebut sedikit demi sedikit mulai terbentuk menjadi raksasa yang terbuat dari batu.


Nama yang cocok untuk menyebutnya, mungkin golem. Karena perawakannya persis sekali seperti itu. Yang membedakannya dengan golem yang asli hanya dari zat nya saja. Thomi menggunakan Lendir, sedangkan yang asli terbuat dari batu asli. (aseli gais)


Golem tersebut tidak sebesar tubuh Thomi yang menjadi lendir kuning, yang sampai seolah bisa menutupi hangatnya matahari. Memang tidak lebih besar dan tinggi, namun golem ini kekuatan dan pertahanannya jauh lebih kuat daripada sebelumnya.


Abel mengangkat tangan kanannya setinggi dada, membuat anak panah yang tebal dengan dilapisi sesuatu yang membuat mata dari anak panah tersebut menjadi tajam dengan pola berombak seperti gejolak air laut di samping pegangannya.


Lalu, Abel melempar anak panah tersebut ke dada dari golem tersebut, tapi nihil. Anak panah yang dibuat Abel tersebut justru patah, dan zat nya langsung berubah menjadi air seperti semula.


Golem tersebut menghantamkan tinju nya ke permukaan tanah, membuat area disekitarnya bergetar hebat. Aku dan Abel, sebelumnya berdiri tegak, seketika langsung jatuh ke tanah.


“Hahahaha...!” Thomi muncul dari belakang punggung golem tersebut, lalu dia melepaskan dirinya dari tubuh si golem itu. Kali ini tubuhnya tidak menguning seperti sebelumnya, melainkan menjadi seperti sedia kala sebelum kami melakukan latihan.


Setelah getarannya berhenti, Abel langsung berdiri dan meliuk-liukkan tangannya, seperti membuat sesuatu yang besar.


Aku merogoh isi kantong, mengambil bola kecil berwarna hitam seperti sebelumnya. lalu melemparkannya ke wajah dari golem tersebut dari kejauhan.


Aku pikir serangan tersebut akan setidaknya, sedikit efektif. Seperti pada tubuh Thomi yang aku lempari dengan bola hitam yang sama. Tapi kali ini berbeda. Tubuh golem itu bisa dibilang keras, sekeras batu. Atau mungkin lebih.


Thomi menunjuk Abel, lalu golem tersebut berlari kearah Abel, ingin meninju nya. Kejadian ini cepat sekali terjadi, Abel segera membuat kubah berbentuk kubus dengan beberapa simbol untuk pengerasan zat, tapi sia-sia. Tinju tersebut melewati pertahanan terbaik dari Abel dan tinju yang dilayangkan golem itu bukannya membuat Abel terpelanting, melainkan membuatnya masuk ke dalam tubuh golem tersebut.


Karena tubuh golem itu bening, jadi aku bisa melihat dengan jelas Abel masuk ke dalam kepalan tinjunya golem.


Thomi tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.


Aku menggeram. lari menuju Thomi sembari merogoh isi kantongku. Tunggu, ini kan bola untuk itu ya? Oke, sekarang habislah kamu Thomi.

__ADS_1


Aku melemparkan bola kecil berwarna putih ke tanah, dan bola tersebut memantul dan berakhir mendarat di samping salah satu kaki golem Thomi.


Pssttt...


Bola putih itu mengeluarkan kepul asap yang sangat banyak, hingga memenuhi seperempat area lapangan. Thomi yang berada dalam asap tersebut tidak bisa melihat kedepan dan susah untuk bernapas.


Tapi berbeda denganku, aku bisa bergerak bebas. Bahkan bisa melihat Thomi yang sedang menutup hidung dengan kerah baju birunya itu.


Aku mengambil bola kecil dua buah berwarna abu-abu, dan melemparkan satu bola tersebut ke tubuh Thomi.


BUM! Tubuh Thomi terdorong setengah meter.


Aku lanjut berlari kearah yang berlawanan dengan tempat dilemparnya bola kecil tadi, dan


BUM! Thomi pingsan dalam keadaan berdiri, untuk beberapa detik. Sebelum dia sadar kembali, aku harus mencari tahu bagaimana cara untuk meleburkan golem buatannya itu.


Karena jika tidak segera dileburkan, golem itu akan semakin merajalela. Dan aku tidak tahu bagaimana nasib Abel kedepannya.


Aku melemparkan bola kecil untuk membuatnya sibuk, setidaknya untuk beberapa detik.


BUM! Thomi berteriak, dia berjalan ke sembarang arah, matanya tidak bisa melihat.


Jika tubuh Thomi bisa menguap dengan sedikit letupan kecil, maka... mungkin golem ini tidak butuh letupan kecil itu. Tapi mungkin kelemahannya adalah bara api yang cukup besar!


Aku tidak tahu darimana logikanya itu, tapi itulah yang aku pikirkan saat terdesak. Aku kembali merogoh isi kantong kecilku, meraih bola kecil berwarna merah sebesar genggaman tangan, lalu melemparkannya ke tubuh dari golemnya.


Benar saja, tepat setelah aku melemparkan bola tersebut ke tubuh golem, kepulan asap menghilang dan berganti menjadi kepulan api.


Thomi masih mengucek-ucek matanya, aku melihat golem tersebut meleleh seperti lilin. Aku mengambil mengambil satu bola kecil lagi, melubangi tubuhnya yang melemah terkena dampak dari api.


Tubuh golem itu sedikit berlubang, dan api merembes ke dalam tubuh golem tersebut. Thomi yang sudah habis kesibukannya, menatap tidak percaya apa yang dia lihat.

__ADS_1


Mahakarya yang dia rencanakan dan dia buat hanya untuk berduel dengan Abel, kali ini seakan semuanya menguap begitu saja.


Aku berlari menyamping, melemparkan bola kecil untuk memotong bagian lengan yang ada Abel nya. Abel terbangun dari pingsannya, lalu berdiri dengan sedikit jijik mencium bau bajunya yang sudah terkena lendir berkali-kali.


Thomi tanpa sadar berlutut sambil pasrah melihat kegigihan dan perjuangannya selama ini lenyap terbakar oleh api.


Setelah golem itu lenyap dan hanya menyisakan bau yang sedikit tidak sedap dicium, Abel langsung membuat air berbentuk lingkaran dari tangannya yang terangkat setinggi dada, lalu melemparkannya kearah Thomi yang masih mencerna keadaan.


Tubuh Thomi terikat, aku dan Abel mendekati Thomi yang masih terduduk kaku.


“Hahaha... kamu kalah kan?” Abel menyengir, mencengkeram pinggangnya.


Thomi menggigit bibirnya, lalu dalam sekejap berubah menjadi tersenyum. “Haha, benar. Aku kalah. Seharusnya aku tidak meremehkan kamu, Adrian.”


“Jadi? Dua kosong kan?” Abel melepaskan lingkaran airnya, berganti mengulurkan tangannya.


Thomi menyeringai, menjabat tangannya, dan Abel membantunya berdiri, lalu merangkulnya.


Thomi menoleh kearahku, “Hei, kamu mau sampai malam berada di lapangan ini? Ayo, ikut dengan kami.” Aku mengangguk, mendekati mereka dan menyelaraskan tapak kakiku, kemudian merangkul Thomi dengan tangan kananku, tersenyum.


“Lain kali aku akan mengalahkan kalian. Tunggu saja.” Thomi tertawa.


Abel menjitak kepala Thomi, “Halah, bukannya kamu sudah bilang itu sejak berumur lima tahun. Kalah, ya kalah saja. Jangan membuat alasan yang mustahil.”


Thomi mengeluarkan lendir kuning tipis, lalu lendir tersebut menjitak kepala Abel. “Eh, apa kamu tidak ingat? Aku pernah menang sepuluh kali tahu.”


Aku menoleh, “Sepuluh kali? Dalam lima tahun? Bukannya itu sangat sedikit sekali ya?” Thomi tidak menjawab, dan malah menjitakku, sama seperti yang dia lakukan kepada Abel.


Kami berjalan saling merangkul di tengah matahari yang sedang terbenam. Lapangan sudah dipenuhi dengan lendir-lendir kuning yang bau. Sekarang aku tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan lapangan itu seperti kondisi semula.


Thomi terkekeh, “Eh... kamu tadi tidak menang ya. Yang menang itu justru si Adrian. Dia sudah mengalahkan teknik terbaikku yang sudah kusiapkan untuk melawan kamu, Abel.”

__ADS_1


“Ah mana ada! Kami yang menang ya,” Abel protes, tidak terima.


__ADS_2