
“Emm... bagus sih, bagus. Tapi bukan disini juga, Tetam!” Abel berteriak, ikan yang ditangkapnya terlepas dari jaring kecil.
Abel mendengus, “Kenapa kamu membawa kami ke tempat ini?!”
Aku sudah tidak tahu apa yang sedang terdapat di benak Tetam. Alat pancing mainan, jaring kecil mainan, dan ikan mainan yang memiliki magnet di moncong nya. Kalian tidak salah baca, kami di seret Tetam dengan mainan yang menguras emosi ini.
“Ah! Aku mau cari angin dulu.” Abel mengacak-acak rambutnya, pergi dari tempat ini.
Tetam tersenyum, melambaikan tangan. Lalu lanjut bermain menangkap ikan. “Lumayan Adrian. Kalau menang kita bisa dapat gulungan itu.” Tetam menarik ikan, memasukkannya ke dalam ember. Lantas menunjuk gulungan yang persis seperti gulungan yang digunakan Airiz dan Daisy di tempat latihan.
Aku mengangguk, tersenyum canggung. “Ya sudah, semangat ya. Aku mau cari angin dulu.” Aku beranjak dari kursi kecil, lantas pergi.
“Eh, kamu mau kemana Adrian?” Aku tidak menjawabnya, hanya balas melambaikan tangan.
...****...
Beberapa menit setelah beranjak dari tempat memancing ikan mainan itu, aku tanpa sadar berjalan menuju kearah taman.
“Fiuh, membosankan!” Aku melihat kaleng bekas minuman, lalu menendangnya. Tidak sengaja mengenai pohon dan memantul ke semak dibelakang pohon.
“Eh? Itu apa?” Karena penasaran, aku berjalan pelan. Dari kejauhan, terlihat ada beberapa orang di balik pepohonan. Satu orang seperti menutup seseorang sepantaran seusiaku dengan kain. Satunya lagi, awas melihat sekitar. Tapi yang terlihat hanya siluet nya saja.
Aku melangkah berjinjit, mendekati salah satu pohon untuk bersembunyi. Terdengar suara seseorang yang mendesak.
“Cepat! Gendong dia sebelum kita ketahuan!”
“Oke, ayo. Kita lari sekarang. Pasti bos senang dengan tangkapan besar kita.”
Jantungku berdegup kencang. Aku memberanikan diri sedikit mengintip, penasaran apa yang terjadi.
Satu orang dengan tubuh kekar berkepala botak. Satunya lagi kurus, mengenakan kain penutup mulut. Dan... LIZAM!
Tanpa sadar, tubuhku bergerak sendiri menuju kedua penculik itu. “Hei! Lepaskan Dia!” Mereka panik seperti anak-anak tertangkap basah, lantas mereka berlari menjauhiku dan membawa Lizam.
Aku menggeram. Langsung lari menyusul mereka berdua sampai ke dalam hutan.
Lengang. Tidak ada suara para penculik itu berlari. Hanya ada suara kicauan burung malam, dan beberapa hewan lainnya yang berbunyi. Seperti jangkrik, dan lain sebagainya.
__ADS_1
Napasku tersengal, berhenti sejenak. Kemudian, aku mendongak keatas, melihat sinar bulan yang menerpa wajahku dan juga sedikit menerangi jalan di hutan.
“Nah! Akhirnya masuk perangkap juga!” Seseorang berteriak. Tidak lama, kemudian muncul dari balik pepohonan, menatapku tajam.
Aku mengeluh pelan. Tidak ada tempat berlindung disekitarku. Jarak antara aku dengan pohon terdekat saja masih butuh lebih dari cukup untuk para penculik itu menyerangku.
“ADRIAN!” Teriakan Lizam terdengar dari kejauhan. Cih, sepertinya aku di hadang temannya ini.
Belum sempurna kuda-kudaku, penculik itu langsung menerjang kearahku dengan salah satu kepalan tangannya yang bersinar, seperti sinar bulan.
Aku menghindari serangannya, namun aku terjatuh karena di sandung kaki penculik itu.
Penculik itu menyeringai, segera memberi kepalan tangan bulan itu.
BUM! Aku melempar bola kecil di sakuku, membuat tubuh penculik itu berhenti bergerak beberapa detik, karena shock yang dialami tubuhnya.
Aku menggelinding, menjauh dari jangkauan serangan penculik itu, dan BUM! Bola yang aku lempar meledak. Penculik itu terpental beberapa meter, tubuhnya terpental ke batang pohon.
Tanpa menunggunya berpikir, aku sudah melemparkan bola kecil lagi. PZET! Tubuhnya memberat, sedikit demi sedikit terdorong kebawah. Efeknya tidak lama. Hanya beberapa menit. Aku harus segera mengikuti jejak Lizam!
...****...
Penculik itu mendadak berhenti, sayup-sayup terdengar suara penculik itu berbicara dengan seseorang. Aku sedikit menilik mereka.
“Bagaimana bos? Anak kecil yang bos inginkan, sekarang berada di tangan kami.” Penculik itu mengepalkan tangannya, bangga.
Bos dari penculik itu terlihat bingung, “Rekanmu yang satunya lagi mana?”
Penculik itu memberikan Lizam kepada bosnya. “Oh, tadi ada bocah yang mengejar kami. Dia bilang anak ini adalah temannya. Jadi, rekan saya sedang menghadang bocah itu bos.”
“Wah... penculik sekelas kalian saja bisa tertangkap basah oleh anak kecil ya.” Bos berjalan.
Penculik itu menunduk. “Sudahlah, yang penting kalian telah menjalankan misi dengan baik.” Penculik itu mengangguk pelan, berjalan beriringan.
Psstt... Tepat sebelum mereka menyadari, asap telah mengepul tebal. Aku berlari mengendap dan melepas tangan Lizam, kemudian bergegas membawanya.
“Kejar bocah itu!” Bos itu berseru. Tanpa di suruh dua kali, penculik itu sudah berlari menembus kepul asap, mengejarku.
__ADS_1
Aku berlarian kembali masuk ke dalam hutan, berlari meliuk belok kanan dan kiri. Mengecoh penculik tersebut.
“Aarrgghh! Jangan lari, bocah!” Penculik itu menembak dari jauh menggunakan jari telunjuknya. Peluru tersebut meleset dan malah kena batang pepohonan dengan meninggalkan bekas di batang tersebut.
Aku menggelindingkan beberapa bola kecil ke permukaan tanah. Saat penculik tersebut di dekatnya, bola tersebut langsung membuat perangkap dan penculik tersebut tubuhnya terikat dengan tali laba-laba.
Sepuluh menit, napasku mulai tersengal. Lariku pun tidak sekencang tadi. Menguras tenaga sekali menggendong Lizam sambil berlari. Tubuh yang penuh dengan gumpalan lemak membuat lariku menjadi lambat. Mungkin sekitar 50%. Waw... sekarang aku kelihatan pintar kan?
Tapi tidak berselang lama, penculik itu muncul kembali dari kejauhan, dan berteriak “Hei, bocah! Jangan lari!”
Aku melotot, beranjak berdiri, segera menggendong Lizam, lantas lari secepat mungkin. Tapi rencana itu lenyap ketika tembakan penculik itu mengenai kakiku. Aku terjatuh, dan tanganku kotor penuh dengan tanah.
“Hahaha... sekarang kau tidak ada kesempatan untuk lari lagi, bocah.” Penculik itu tersenyum, menodongkan jari telunjuknya ke kepalaku. Bersiap untuk menembak.
Tapi sebelum tembakannya melesat, BUM! Bola kecil disamping kakinya meledak. Penculik itu sedikit terdorong kedepan, tersungkur. SRET! Salah satu kakinya terseret keatas, menggelantung.
Tidak cukup, tubuhnya terbungkus jaring laba-laba hingga ke leher. “Dasar licik, bocah!”
...----------------...
SPECIAL EPISODE
Adrian beranjak, menggendong Lizam sempoyongan. Sebelum Adrian pergi, dua bola kecil membuat kepulan asap. Satu bola saja sudah tebal, apalagi dua.
“KEMANA BOCAH ITU PERGI, KAYNE!” Bos berjalan, melihatku bergelantungan diatas pohon.
Aku berseru panik, “Mereka jalan lurus ke sana bos.”
“BUKAN ITU JAWABAN YANG AKU MAU!” Kesal, bos berjalan mendekat. melepas menebas ikatanku dengan tongkatnya. Lebih tepatnya pedang dengan sarung seperti tongkat. entahlah, kurang lebih begitu.
Aku di marahi. Habis-habisan. Lima menit, ceramahnya belum juga selesai. Tapi baiknya, rekanku datang memecah marah bos.
“Hah... hah... bocah yang tadi, mana? Eh? Kayne? Bos?! Di mana anak kecil yang kami bawa?” Tanyanya keheranan.
Bos mendengus, “MEREKA KABUR! DASAR TIDAK BERGUNA! BAGAIMANA CAR KITA MENGHADAP TUAN MUDA, HEH?”
PLAK! PLAK! Kami di tampar.
__ADS_1