Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Chapter 25 – Misi Pertama (2)


__ADS_3

Kami sampai. Mendongak melihat mulut Gua. Mulut Gua yang menganga, besarnya sebesar lima puluh kali orang dewasa. Dengan suara cekikikan, nyanyian, dan siulan, membuat bulu kuduk merinding.


Tapi itu sebenarnya hanya kombinasi angin-angin yang melintas, menyusuri lubang-lubang Gua. Lalu keluar, dan menghasilkan suara yang beraneka ragam. Dan karena itulah tidak ada hewan sama sekali di dekat Gua.


“Wah... besar sekali.” Aku mendongak, juga melihat mulut Gua. Termangu.


Sorot mata tertuju padaku. Aku yang pertama kali melangkah memasuki Gua. Di susul Lizt, dan Wass.


“Kita tinggal membakar sarang laba-laba nya saja kan.” Aku mengepalkan tangan, antusias.


Sepuluh menit berjalan di Gua, akhirnya sampai. Sarang laba-laba raksasa. Ada beberapa hewan yang dililit yang menempel pada jaring-jaring tersebut.


Lizt melihat sekeliling. “Tapi di mana laba-laba nya?” Betul juga. Dari tadi kami tidak melihat keberadaan laba-laba. Beberapa saat setelah Lizt bertanya, seketika laba-laba kecil (sebesar papan tulis) bermunculan. Membuat jaring-jaring, menghalangi semua rute jalan yang ada.


“Bagaimana ini? Tamatlah riwayat kita...” Brok berseru, wajahnya pucat. Di saat seperti ini, tidak ada gunanya menyuruh orang lain tenang. Mereka sudah terlanjur panik.


Aku menggeram. Mengeluarkan bola kecil dan melemparnya ke sarang yang paling besar, di depan kami. Bolaku berhasil membakar sarangnya, akan tetapi itu tidak bertahan lama. Api tersebut langsung menyusut, lalu padam dalam sepersekian detik. Sia-sia.


Brok, Brice, dan yang lainnya berdiri membeku. Hanya menatap ngeri laba-laba tersebut. Lizt mengembuskan napas panjang, BUM! Pukulan dari manipulasi udara mengurai jaring laba-laba di satu jalur. Laba-laba kecil disekitarnya beterbangan, terkena dampak serangan Lizt. Sedangkan laba-laba yang kena telak pukulan tersebut, tubuhnya terurai. Cairan berwarna hijau muncrat mengenai dinding Gua.


Lizt menyeka poninya, “Hei! Jangan menyerah begitu saja! Mangsa, atau dimangsa!” Brice mengepalkan tangan, cairan hijau menyelimuti tubuhnya. Seakan padat, cairan tersebut merambat seperti akar-akar menjalar, membunuh belasan laba-laba kecil.

__ADS_1


Wajah Brice cerah, seakan baru mendapatkan pencerahan. “Yes! Bisa!” Brice berbisik pelan, meninju pelan kedepan.


Wass berseru, “Fokus! Laba-laba nya semakin berdatangan. Segera atur formasi!”


Kami mengangguk, segera membuat formasi. “Adrian, sini!” Aku mengangguk, segera menyatu dengan formasi yang lain. Membentuk dua formasi hexagon, dengan satu orang di tengah dari titik hexagon tersebut.


Ratusan laba-laba tersebut mendesis, Plash! Laba-laba tersebut menyemburkan cairan kuning. Meleset, cairan tersebut mengenai dinding Gua. Dan dalam sekejap, dinding yang terkena cairan kuning tersebut berlubang.


Satu-dua orang berseru ngeri. Aku mengatupkan rahang, Sroomm! Bola yang kulempar membuat udara di sekitar menjadi dingin. Lizt membuat kubah dari sihir, melindungi kami dari dampak dari bolaku. Ratusan laba-laba kecil membeku, tidak bergerak. Lantas berjatuhan, dan pecah menjadi berkeping-keping. Dan jaring laba-laba nya mengeras, mudah saja menghancurkannya.


Tidak cukup gelombang pertama, gelombang kedua muncul. Laba-laba bermunculan dari segala sisi, mendesis kencang. Entahlah, aku tidak tahu jumlah mereka ada berapa, memenuhi dinding-dinding Gua. Desisan kencang terdengar bergema ke seluruh penjuru ruangan.


Tak lama, ratu dari kawanan laba-laba muncul. Besar, sebesar tinggi stalagmit yang menjulang. Semangat kami yang berada di atas awan, kembali menurun.


Mereka menatap tajam kawanan laba-laba tersebut, mengangguk. Damo mengeluarkan air berbentuk bola dari kedua telapak tangannya, melemparkannya ke kawanan laba-laba yang berkerumun. Sepersekian detik, Gamo mengantarkan arus listrik ke dalam air tersebut. Dan CTAR! Puluhan kawanan laba-laba hangus sekaligus basah terkena aliran listrik.


Air mengalir deras ke lantai yang masih bermuatkan listrik, dalam sekejap memanggang puluhan laba-laba juga. Mereka mendesis marah melihat kawanan yang lain terpanggang hangus, lantas sebagian berlompatan menjauh, sebagian lagi melompat ke stalaktit Gua.


Wuusshh! Kesiur angin menderu kencang, Either membelokkan angin ke arah stalaktit Gua. Brice tersenyum tipis. Bulu-bulu berwarna merah yang entah datang dari mana, berputar di dalam deru angin yang kencang tersebut dan membuat hampir seratus laba-laba yang masuk ke dalam angin kencang, dan tercincang di dalam angin tersebut.


Mandi air hijau. Mungkin itu kata-kata yang cocok dengan situasi sekarang. Gamo, Damo, Either, dan Brice lemas. Mereka telah mengerahkan semua tenaganya. Wass berseru sekali lagi, “Brok, Lizt, Vine, Hast, Vallen, Far, Tama! Gabungkan dua formasi hexagon menjadi satu! Yang tidak bisa bertarung masuk berkumpul ke dalam hexagon! Adrian, kau berdiri di titik tengan hexagon. Kau punya bola kecil itu, yang kosong?” Aku mengangguk.

__ADS_1


“Baiklah, sekarang kerahkan sebagian tenaga kalian ke atas stalaktit!” Semuanya mengerahkan berbagai macam kekuatan. Sepertinya aku tahu rencana Wass. Begitu kekuatan telah berkumpul di satu titik, aku melempar bola kecil transparan. Menyerap semua kekuatan yang mereka kerahkan, terkumpul di satu bola kecil berwarna ungu berpendar-pendar.


Aku meraih bola itu dan melemparnya ke arah ratu laba-laba. Wass sedikit terkejut, masuk ke tengah formasi hexagon. “Baik semuanya, kerja bagus. Sekarang kita keluar dari Gua ini. Misi kita telah selesai!” Wass mengangkat kedua tangannya, fokus, Zing! Sekejap, kami telah berada diluar Gua.


“Apakah... apakah kita selamat?” Either menyeka keringat.


BLAARR! Mulut Gua yang menganga, meledak. Tersulut api persis di depan mulut Gua, merah menyala. Seperti menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam.


Beberapa detik hening, lengang. Wass mengangkat salah satu tangannya, “Ratu laba-laba masih belum mati.” Kabar tersebut membuat kami putus asa. Ya sudahlah, mungkin ini akhirnya.


Aku beranjak dari duduk, mengepalkan tangan. Wuusshh! Nyala api di mulut Gua menghilang, digantikan ratu laba-laba keluar dari mulut Gua, mendesis nyaring.


Wass, dan Lizt telah bersiap. Kami maju, membelakangi anggota yang lain, yang telah kehabisan tenaga dan sudah putus asa.


Lizt membuka buku mantranya, “Adrian, bisa kau lempar hawa dingin ke ratu laba-laba itu? Sepertinya sekarang dia hanya seekor laba-laba. Kulit keras yang melapisinya telah hancur karena menghantam mulut Gua, supaya dia bisa mengejar kita.”


Aku manggut-manggut, langsung melempar bola kecil ke arah ratu laba-laba. Kali ini efeknya hanya menyelimuti seluruh tubuh ratu laba-laba. Beku. Akan tetapi, ratu laba-laba memberontak, es yang membekukan tubuhnya retak. Lizt membaca mantra, seketika kubah muncul mengitari seluruh tubuh ratu laba-laba tersebut dan kembali menjadi beku. Bahkan lebih kuat hawa dinginnya.


“Itu kubah apa?” Aku bergumam.


“Itu kubah double effect, membuat kekuatan apapun menjadi dua kali lipat lebih hebat.” Lizt mengurai rambut, tersenyum tipis.

__ADS_1


“Wass. Sekarang giliranmu.” Lizt balik badan, berjalan menghampiri anggota pasukan bulan lainnya. Bersandar di salah satu pohon. Wass menoleh sekejap, mengangguk. Wass memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, dia menjentikkan jari. Seluruh tubuh ratu laba-laba pecah berkeping-keping. Kepingan es nya terpencar entah kemana.


__ADS_2