Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Hari Libur (1)


__ADS_3

“Adrian! Ayo bangun!” Tetam berteriak pintu belakang dapur.


Aku terkesiap meloncat bangun, terdiam beberapa detik, lalu dengan cepat membuka gorden jendela.


Hah?! Masih gelap?


Aku mengucek mata sembari berjalan ke dapur, melihat Tetam, Abel, Ayah, dan Ibu sudah berpakaian lengkap dengan topi jerami yang mereka kenakan.


Alis Tetam mengerut, menyedekapkan tangannya. “Ckckck... masih pakai baju tidur?”


Aku menuju ke tempat kran air, segera membasuh muka. “Memangnya ada acara apa pagi-pagi buta begini?”


“Kita akan pergi berburu!” Tetam melompat riang.


“Berburu?!” Aku refleks melotot, tidak percaya apa yang Tetam katakan.


Berburu? Dua orang yang sudah renta, dan tiga anak kecil berusia kurang dari lima belas tahun berburu?


Tetam mengangguk antusias, “Iya. Setiap sebulan sekali, kami biasa pergi ke hutan untuk berburu babi hutan yang beeeesssaarrr.” Tetam sedikit demi sedikit merentangkan tangannya hingga tubuhnya hampir terjatuh.


Ibu tertawa kecil melihat kelakuan Tetam. “Ya sudah, Adrian mandi saja dulu. Kami pergi duluan. Abel, kamu tunggu Adrian ya, nanti kalian segera menyusul.”


Abel mengangguk, duduk menyenderkan punggungnya.


Aku ikut mengangguk, melangkah menuju kamar mandi.


...----------------...


Beberapa menit kemudian, aku selesai mandi. Segera berganti baju dan memakai topi jerami sama seperti Tetam, Ayah, dan Ibu.


Aku berjalan menuju dapur, melihat Abel yang ketiduran menungguku mandi. Aku segera membangunkannya. Abel sedikit terkejut ketika aku membangunkannya, lalu segera membasuh wajahnya.


Beberapa saat setelah dia membasuh wajah, kami pun berjalan menyusul mereka ke dalam hutan.


...----------------...


Sudah setengah jam berjalan menyusuri hutan, kami masih belum menjumpai mereka.


“Masih berapa lama lagi Abel?” Tanyaku yang mulai lemas.


Abel melirikku sekilas, lalu pandangannya kembali ke depan. “Sedikit lagi kita sudah sampai Adrian.”


Aku menghela napas, “Sedikit lagi itu berapa lama? Dari setengah jam yang lalu lho kamu selalu bilang ‘sedikit lagi’.”

__ADS_1


Abel sedikit terkejut, “Eh? Kamu tahu dari mana kalau kota sudah berjalan setengah jam?”


Aku menunjuk langit, Abel melihat ke langit dan aku bergantian, lalu mengangguk.


Tidak lama setelah itu, terdengar suara seperti babi dari kejauhan. Abel refleks menyuruh menghentikanku untuk bergerak.


Terdengar suara lamat-lamat dari kejauhan. “Serang babi hutan itu Abel!”


Tanah yang semulanya diam, mulai bergetar. Detik demi detik membuat tanah itu semakin bergetar.


Abel dalam posisi bersiap memegang peluitnya yang terbuat dari tempurung kelapa.


Ngok! Ngok!


Sekarang, badan besar babi itu terlihat meski jarak kami dan babi itu masih jauh.


Hei! Mereka berburu babi yang sebesar ini?! Dan terlebih lagi setiap bulan?! Aku juga harus bersiap-siap seperti mereka.


Tidak memerlukan waktu yang lama, sekarang babi itu berlari mendekat kearah kami.


“Lompat Adrian!”


Belum sempat aku meresponnya, Abel sudah melompat duluan ke atas dahan pohon yang tingginya nyaris enam meter.


Abel menarik napas dalam-dalam, lalu meniup peluit bulatnya senyaring mungkin, membuat pergerakan dari babi hutan itu sedikit agak melambat.


Lalu, muncul tangan-tangan dari bayangan pepohonan dan dari bayangan babi hutan itu sendiri yang mengikat badan serta kaki-kaki dari babi hutan tersebut.


Tidak hanya itu. Setelah gerakan babi hutan mulai melambat, terdengar suara gema teriakan dari jauh.


Pemberatan gravitasi sepuluh kali lipat!


Telihat pola lingkaran berwarna merah muda disertai dengn tulisan-tulisan aneh di dalam lingkaran tersebut, yang membuat babi hutan itu semakin melambat. Aku tetap terdiam melihat semua itu.


Tapi, apakah hewan akan menyerah begitu saja untuk hidupnya? Jawabannya pasti tidak. Dan karena itulah babi tersebut tetap berlari meski sudah di perlambat berkali-kali lipat oleh Abel dan Tetam. Tapi... kekuatan yang satunya milik siapa ya?


Tersisa lima meter lagi babi itu tepat akan mengenaiku.


Suara pijakan seseorang yang berpindah dari satu dahan ke dahan lain mulai terdengar, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke tempat babi hutan itu berlari.


Orang yang tidak kukenal itu melompat dan memotong leher babi hutan itu hanya dengan syal bermotifkan hitam-putih di lehernya saja. Babi itu terkapar mati, dengan darah yang bercucuran ke mana-mana.


Abel melompat dari dahannya yang dia jadikan tempat berpijak menuju ke babi hutan yang sudah terkapar. Tetam berlarian cepat menyusul. Dan...

__ADS_1


Sekarang ada dua orang dengan wajah yang tidak kukenal. Oh iya, dimana Ayah dan Ibu?


Aku tidak dapat menahan mual ku melihat darah yang bersimbahan kemana-mana.


Huek...


...----------------...


“Hahahaha! Kamu tidak terbiasa melihat darah, Adrian?” Tetam tertawa, menunjukku dari balik api unggun.


Aku membersihkan mulutku dari sisa muntahan, tidak tertarik membalas pertanyaan dari Tetam.


Abel melempar beberapa ranting untuk membesarkan nyala api, “Dulu, kamu juga begitu kan Tetam? Malahan kamu pingsan duluan sebelum melihat babi hutan itu.”


Pipi Tetam menggelembung kesal, “Ck, Kak. Tidak baik lho membuka masa lalu seseorang.” Tetam tersenyum simpul, matanya melotot.


Ibu beranjak dari tempat duduknya, memutar-mutar babi guling yang besar.


“Oh iya Adrian, perkenalkan wanita yang sedang memutar babi guling itu adalah Ibu kita, dan yang memotong leher babi tadi adalah Ayah kita.” Tetam memotong kecil bagian kulit babinya yang sudah mencoklat dengan pisau, lalu memakannya langsung.


Aku menoleh bergantian ke pria dan wanita yang membantu berburu babi hutan tersebut. “Mereka orangtua kita? Bukannya orangtua kita sudah renta ya?”


Pria dan wanita itu tertawa kecil, lantas berubah menjadi orangtua renta yang kukenal. Lalu berubah lagi menjadi orang yang tidak kukenal.


Aku terkesiap. Jadi, selama (tiga hari) ini...


Ayah beranjak dari tempat duduknya, berjalan dan duduk disampingku, “Jangan terkejut seperti itu, itu membuat kami seolah-olah hidup sudah lama sekali.”


Ibu yang sedang memutar babi guling tersebut terkekeh, “Iya Nak, kami masih berumur dua puluh lima tahun. Kalau kamu bertanya wujud orangtua itu, itu hanya samaran kami saja.”


“Samaran?” Aku memiringkan kepala empat puluh lima derajat.


“Iya, kalau kami setiap hari memakai wujud asli kami, apa di kata orang? ‘Punya banyak anak kecil yang wajahnya tidak ada mirip-miripnya dengan orangtua nya’”


Babi guling sudah matang, Abel mengambil banyak piring dan diberikannya kepada Ibu. Ayah beranjak berdiri membantu Ibu memotong babi guling tersebut.


“Kita semuanya memang bukan anak kandung Ayah dan Ibu, Adrian. Kita ini dibeli oleh mereka dari para penjahat yang masih menjual manusia, terutama anak-anak.” Abel menimpali.


Tetam mengambil piring yang berisikan daging babi hutan yang besar sampai memenuhi isi piring, “Benar apa kata Abel, kita hanya dibeli oleh mereka. Dan mereka juga tidak memberi tahu bahwa kita ini adalah anak dari hasil jual-beli. Maka dari itu, mereka mengubah wujud mereka menjadi orangtua yang renta dan berkeriput.”


Ayah memotong dan mengambil dua piring daging babi yang besar, duduk disebelahku dan memberikan satu piring daging itu.


Ibu dan Abel juga sama. Kami berlima lahap makan daging babi hutan hasil dari buruan kami tersebut.

__ADS_1


Eiiittsss... Kalian bilang aku tidak ikut berkontribusi? Hahah, salah besar. Aku juga berkontribusi tahu! Jadi umpan, hehe...


__ADS_2