
Kaisar mengangkat tangan, biar dia saja yang berbicara. Wakilnya memperbaiki posisi kacamata, mengangguk.
“Tidak. Sebelumnya kita, dan beberapa kerajaan lain juga tidak tahu-menahu. Tapi kenyataannya, mereka menemukan sarang ubur-ubur kotak itu.”
Aku mengangkat tangan ragu-ragu, menelan ludah. Pandangan seketika menuju padaku. “Maaf, tapi saya ingin bertanya. Mengapa kerajaan Salazar berhasil menemukan sarangnya, dan kerajaan lain tidak mengetahuinya sama sekali? Bukannya dalam buku pelajaran, ubur-ubur tidak memiliki sarang?” Para anggota dari beberapa Pasukan Matahari, Awan, Langit, dan lain-lain menepuk dahi.
“Itu juga yang sedang kami pertanyakan, bocah–” Ketua Komandan Api Merah melirikku tajam. Kaisar sedikit mengangkat telapak tangannya. Menghentikan Ketua Komandan Api Merah lanjut berbicara.
Dua pelayan mengetuk pintu, masuk. Memberi masing-masing Ketua Komandan satu cangkir teh hangat, juga Kaisar. Satu menit, dua pelayan itu keluar dari ruang rapat.
Kaisar menyeruput teh, kemudian menlanjutkan. “Dari informasi yang kami dapat, kerajaan Salazar menangkap satu ubur-ubur kotak dan menelitinya sedemikian rupa hingga tiga puluh tahun berjalan tidak terasa bagi mereka. Mereka menciptakan alat yang mendeteksi keberadaan dari ubur-ubur kotak tanpa harus menyelam ke kedalaman laut.”
“Mereka tidak menaklukkan sarang ubur-ubur kotak tersebut. Tidak seharfiah itu. Namun mereka mengambil pecahan hati batu laut, dan...” Peluh keringat mulai nampak di pelipis Kaisar, meskipun ruangan ini tidak panas. Sama sekali.
“Dan mereka dapat mengendalikan ubur-ubur kotak sesuka hati mereka.” Wakil Kaisar bergantian berbicara. Melihat Kaisar yang terasa berat hanya untuk sekedar mengucapkannya.
Para anggota pasukan lain berbisik-bisik, terlihat gelisah setelah mendengar langsung perkataan Kaisar dan Wakilnya. Suara bisikan tersebut terakumulasi dan alhasil suaranya seperti menyebar ke seluruh ruangan.
Seseorang dari Pasukan Langit mengangkat tangan, “Maaf sebelumnya. Tapi apakah ubur-ubur kotak lebih berbahaya daripada kumbang vesicatoria? Oh ya, satu lagi. Lalu, setelah sarang laba-laba berhasil di taklukkan oleh Pasukan Bulan, lantas siapa yang bertugas menjaga tempat kosong itu? Bukannya laba-laba itu juga termasuk dalam salah satu dari enam simbol hewan mematikan, sekaligus penyeimbang?”
Leah menghembuskan napas pelan, “Biar aku jawab untuk pertanyaan pertama. Memang benar anak muda, walaupun sulit dipercaya. Namun ubur-ubur kotak itu lebih berbahaya daripada kumbang vesicatoria. Kenapa? Karena kumbang vesicatoria tersebut telah punah, dibasmi habis. Sedangkan ubur-ubur kotak? Mereka tidak dibasmi, melainkan dikendalikan.” Leah sedikit membuka matanya, kemudian menyeruput teh hangat seperti yang telah Kaisar lakukan sebelumnya.
__ADS_1
“Aku yang akan menjawab pertanyaan kedua.” Grove mengangkat tangan. “Untuk itu, tenang saja. Di kerajaan masih ada empat pilar sebagai kekuatan tempur cadangan, sekaligus penyeimbang. Dan menurutku, salah satu dari mereka pasti akan ditugaskan untuk mendiami tempat tersebut. Bukankah begitu, Kaisar?”
Kaisar mengangguk. Dan sekitar dua jam lebih, mereka berdebat tentang penyelesaian dari permasalahan ini. Kumbang vesicatoria diburu habis-habisan karena cangkang dan cairannya digunakan untuk kepentingan kekuatan tempur. Karena kekuatan militer Kerajaan Haska sedang diujung tombak. Jika mereka tidak mengambil risiko, mereka kemungkinan besar akan dilengserkan kedudukannya. Dengan kata lain, Kerajaan Haska akan hilang karena dijajah Kerajaan sebelah.
Itu tidak terlalu masalah untuk Kerajaan Markrasta. Setidaknya untuk saat ini. Masalah utama dalam rapat ini adalah Kerajaan Salazar. Selain mendapatkan peralatan dan baju tempur dari hasil ekstrak ubur-ubur kotak itu, mereka juga mendapat kekuatan tempur tambahan. Yang jumlahnya tidak main-main. Bahkan mampu membuat suatu kota rata dengan tanah dalam sekejap mata.
Rapat tersebut selesai, dengan solusi yang masih belum ditemukan. Pintu terbuka dengan sendirinya, Kaisar dan Wakilnya pamit undur diri. Suasana di dalam ruangan rapat sedikit melonggar, beberapa anggota pasukan juga menyeka keringatnya yang mengucur deras di pelipisnya.
Tak lama kemudian, salah satu dari dua pelayan yang menjaga pintu, merangsek masuk. Memberitahu bahwa sebentar lagi waktunya makan siang. Pelayan itu tersenyum ramah, balik kanan. Mulai berjalan. Aku, dan Pasukan yang lain menyusul di belakang pelayan tersebut.
Tiga menit, akhirnya tiba di ruang makan. Besar dan mewah. Lampu gantung berbentuk berlian, indah ketika cahaya lampunya menembus keluar. Meja-meja dan kursi yang tidak kalah mewah dan nyaman. Dengan banyak makanan terhidang diatas meja. Saking banyaknya, aku bahkan bingung mau makan yang mana.
Daging? Kue? Daging? Kue? Ambil keduanya saja ah...
“Fiuh, untung aku selamat.” Kata seseorang dari meja yang berada sedikit jauh dari mejaku.
“Hahaha... kukira, aku akan mati di tempat itu, saking mengerikannya aura para Ketua Komandan ketika sedang serius diruang rapat tadi.” Timpal yang lain.
Seseorang di sebelahnya lagi, tertawa. “Iya, betul sekali. Meskipun ruangan sana dingin. Tapi tetap saja, rasanya sangat gerah.”
“Sepertinya itu efek dari wajah serius Ketua Komandan Api Merah deh.” Mereka tertawa lepas, hingga dilirik dan dipelototi oleh Ketua Komandan Api Merah itu sendiri. Tawa lepas mereka seketika padam, kemudian menunduk dan meminta maaf.
__ADS_1
Aku menyeringai, puas. Lagian kenapa sih harus menggosip tepat di belakangnya? Kena batunya kan... Aku tertawa geli, sambil mengunyah daging yang kumakan.
“Ada apa sih, Adrian?” Either menatapku tajam aku, yang sedang menoleh kebelakang.
Aku sedikit kikuk, mengusap rambut. “Eh? Tidak ada apa-apa, Either. Yuk, lanjut makan.” Aku mengambil salah satu sup yang berada di dekatku, dan meletakkannya ke samping piring daging Either.
Either mendengus kesal, wajahnya bersungut-sungut menyambut sup yang aku letakkan. Brice, dan Far tertawa kecil. Sembari mengambil minuman di meja lain.
Leah, dan Ketua Komandan lainnya berkumpul di satu meja, makan-makan. Sesekali mereka tertawa lepas, entah apa yang mereka bicarakan.
“Adrian.” Wass entah datang dari mana, menepuk bahuku.
Aku yang sedang minum, kaget dan refleks menyemburkan air di mulutku keluar. Dan kebetulan sekali air itu membasahi baju Either. Wajah Either sudah seperti kepiting rebus. Mengepalkan tangan erat-erat.
Wass menatapnya sejenak, kemudian melanjutkan. “Ikuti aku sebentar, Leah sudah menunggu di depan pintu.” Aku menoleh ke Wass, kemudian berganti kearah depan pintu. Benar, Leah menyedekapkan tangan, bersender. Menatapku tajam.
Kenapa banyak orang yang menatap tajam ya? Aku mengangguk. Beranjak berdiri, mengambil satu ayam utuh. Wass menepuk dahi pelan, menggeleng-geleng. Mungkin dia sudah menyerah? Hahaha.
Dia mulai melangkah ke depan pintu. Aku merobek daging ayam utuh, memakannya. Menyusul. Kenapa mendadak sekali? Padahal aku lagi enak-enaknya makan.
Beberapa menit kemudian, kami sampai. Leah membuka pintu. Kami mulai masuk. Terlihat siluet seseorang yang tengah duduk di singgasana sendirian. Leah berlutut, diikuti dengan Wass. Aku celingak-celinguk, dan buru-buru ikut berlutut.
__ADS_1
Beberapa detik, kami mengangkat pelan kepala kami. Itu... Kaisar!
“Ada yang ingin kutanyakan padamu, nak.”