Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Hari Libur (6)


__ADS_3

Kami melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Karl dan Kerl berhenti, mereka menyaksikan pertarungan antara tim Thomi, dan tim Abel.


Fang memasukkan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya, mengambil busur panah dan bersiap membidik mereka berdua yang sedang mendongak menyaksikan pertarungan dari tim Thomi dan Abel.


“Adrian, mana bolamu.” Fang berbisik, mengulurkan salah satu tangannya ke belakang.


Aku mengangguk, mengambil bola kecil yang terbuat dari metal. Fang, membidik tangan Kerl yang memegang gulungan berwarna abu-abu.


Bola kecil tersebut melesat. Seketika, Karl menoleh cepat ke belakang, dan membuat bola seukuran bola kasti, berwarna biru, dan melemparkannya ke arah bolaku melesat.


BUM! Bola tersebut bentrok, dan menghasilkan ledakan dan kepulan asap yang lumayan. Aku dan Fang segera menghindar dari dampak bola tersebut.


Setelah beberapa detik, bola milik Karl yang meledak, menghasilkan asap berwarna biru yang tidak hilang ketika kepulan asal tersebut tersapu oleh angin.


“Hei! Jangan hiraukan mereka! Kita masih belum selesai, Ben!” Samar-samar terdengar suara Tetam.


“Bagaimana ini, Fang?” Aku sedikit mengintip dari balik pohon.


Napas Fang masih menderu, “Bagaimana apanya? Ya kita lawan lah!” Fang memasukkan busur panah itu kembali ke dalam telapak tangannya, dan menggantinya dengan pedang panjang yang tipis.


Sebelum aku bertanya, Fang sudah melesat, mendekati Karl yang tengah menaiki asap biru dari dampak bolanya.


“Sekarang Kerl!” Karl berteriak. Kerl mengangguk, dia menarik napas yang dalam, kemudian mengembuskannya tepat pada asap milik Karl tersebut, yang membuat asap tersebut memadat dan membesar seperti awan.


Karl menyeringai, mengambil salah satu bagian dari awan birunya tersebut, membuat bola yang baru.

__ADS_1


Bola warna merah, Karl langsung gesit memasukkan bola tersebut ke dalam awan biru, yang membuat awan tersebut berubah berwarna merah seperti bara api.


“Kerl! Naik!” Kerl mengangguk, lalu melompat naik ke atas awan merah tersebut.


Fang tetap memantapkan dirinya melesat. Aku sudah bersiap-siap dengan dua bola biru di tanganku.


Karl menyeringai sambil memegang bola buatannya, “Ayo Kerl! Gandakan serangan aku dan kita kalahkan Fang!”


Karl melempar bola yang sebesar kasti, lalu Kerl meniupnya, membuat bola tersebut membesar.


Aku melempar bolaku tepat mengenai tubuh Fang. Membuatnya dilindungi oleh selaput tipis berwarna biru yang memiliki ketahanan dua kali lipat.


Bola milik Karl meledak di pertengahan jalan, menghasilkan asap dan rangkaian tali berwarna hijau. Karl dan Kerl terkesiap melihat kekuatannya tidak tidak bereaksi ketika Fang melewati bola tersebut.


Fang menatap tajam mereka berdua, dia menginjak dahan pohon sekejap, lalu melompat lagi, goresan pedangnya mengenai tepat pada bagian dada Karl dan Kerl, yang otomatis membuat Karl pingsan dan awan merah tersebut lenyap begitu saja.


“Bagus Adrian!” Kami melakukan tos. Aku, Fang menyaksikan pertarungan tim Abel dan Thomi. Memang pertarungan yang dahsyat.


Fang mencengkeram tanganku, “Ayo, kita pergi.”


“Hah? Bukannya sisa gulungan nya ada pada mereka?”


“Kamu kira gulungan nya hanya ada tiga? Gulungan yang di sebar Airiz dan Daisy itu ada sebanyak tiga gulungan lagi.” Fang melirik sekilas pertarungan mereka, dan balik menatapku kembali.


Aku mengangguk, meski tidak begitu paham, “Intinya di latihan kali ini ada dua orang pemenang kan?” Fang mengangguk, meng-iyakan ucapanku. Lantas Fang melompat ke arah yang sedikit berlawanan dengan pertarungan antara tim Thomi dan Abel.

__ADS_1


...****...


“Tidak jauh dari sini kan?” Napasku menderu sambil terus mengikuti jejak Fang.


“Iya, tidak jauh dari sini kok.” Fang melihat sekelilingnya, mencari di mana letak gulungan tersebut.


“Ah, itu dia.” Fang melompat dari dahan, aku juga mengikuti. Dia mengambil gulungan yang sedikit kotor oleh tanah.


“Ini gulungan yang kita butuhkan, Adrian. Gulungan biru! Tinggal satu lagi. Ayo Adrian!” Baru saja dia menginjakkan kaki di tanah, sudah mau ke atas lagi.


“Ke mana?” Tanyaku, napasku masih tersengal karena menyusul Fang. Sepertinya aku harus banyak latihan lagi.


Fang balik badan, kesal. “Ya kita mencari gulungan terakhir. Kita tinggal berjalan beberapa ratus meter dari sini, dan kita sampai deh menemukan gulungan terakhir itu.” Fang melambaikan tangan, seolah itu hal yang mudah.


Tidak perlu menungguku beristirahat sebentar, Fang langsung mendorong tubuhnya melompat menuju dahan pohon. “Ayo Adrian, tunggu apa lagi?” Aku mengangguk. Dia tidak lihat wajahku yang sudah kelelahan ini apa?


Aku mendorong tubuhku, melompat. Lalu kami pergi menuju tujuan selanjutnya, gulungan berwarna merah.


...****...


Kami telah sampai ke tempat gulungan itu tersisa, tanpa perlu menghadapi langsung tim Abel. Akan tetapi, ketika Fang sudah hampir mengambil gulungan tersebut dari atas batu yang berlumut di bagian bawahnya, seseorang berteriak dari dahan pohon.


“Jangan sentuh gulungan itu! Atau kalian yang akan kena imbasnya!” Abel berteriak dari dahan pohon, menunjuk Fang yang ingin mengambil gulungan tersebut.


Fang yang mengetahui mereka sudah datang dengan membawa gulungan, langsung mengambil gulungan tersebut dan aku langsung menyelimuti tubuh kami dengan jubah transparan yang aku miliki. Kebetulan saja aku menemukan bola kecil yang bisa berubah menjadi jubah transparan itu.

__ADS_1


Abel menggeram, kesal. “Tetam, ayo kita tunjukkan kepada mereka, kekuatan kombinasi kita!” Tetam menyeringai, mengangguk. Lantas dia lompat dan berada tepat di belakang Abel, menggerakkan bayangan dari Abel tersebut.


Pertarungan antara Tim aku dan Tim Abel akan segera di mulai.


__ADS_2