Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Chapter 35 – Harta Kerajaan Don-Pa (2)


__ADS_3

“CEPAT! KORBAN SEMAKIN BANYAK!”


“LAPORAN! PERTAHANAN BAGIAN BARAT TIDAK BISA KAMI ATASI.”


POOONNGG!


POOONNGG!


***


Kesadaranku kembali. Gelap.


“Memangnya sampai kapan kita akan terus menunggu dia siuman? Cuma anak remaja. Toh dia tidak terlalu bahaya.”


Penjaga yang memakai jas hitam menyikut lengan teman disebelahnya. “Ingat, dia salah satu dari penyusup! Akhir-akhir ini banyak yang mencoba menyusup diam-diam ke Kerajaan Don-Pa. Tapi nihil, mereka gagal. Dan berakhir dieksekusi.”


Penjaga itu seperti menunjuk wajahku yang tertunduk. “Lihatlah. Bocah ingusan itu, meskipun terlihat lemah, dia justru berhasil menghancurkan tembok perbatasan yang tebal itu. Walaupun hanya beberapa meter, namun itu sebuah rekor baru tahun ini.”


Drrt... pintu terbuka.


“Kalian berdua. Cepat pergi ke sebelah barat. Ada hal yang lebih genting.” Jelas atasan dari kedua penjaga itu.


“Tapi, bagaimana dengan–”


“Aku yang akan berjaga. Kalian cepat segera pergi ke sebelah barat.”


“Hm.” Suara tapak kaki segera mengambang di langit-langit ruangan.


“Sebaiknya aku ke toilet dulu. Sudah tidak tahan.” Menyusul satu lagi tapak kaki.


Aku membuka mata, melihat kedua tanganku. Syukurlah, tidak di borgol. Aku beranjak dari kursi. Meregangkan tangan. “Ini tempat apa? Gudang makanan?” Aku melangkah mendekati tong dan kayu berbentuk kotak menyebar ke seluruh ruangan.


Aku mendekat ke salah satu kotak kayu, “Semoga ada makanan. Aku sudah lapar sekali.” Membuka kotak kayu tersebut. Benar saja. Apel, pisang, anggur, manggis, dan masih banyak lagi seperti sirsak memenuhi isi kotak itu.


Aku menyeringai lebar. “Hahaha, kebetulan sekali.” Tanpa celingak-celinguk, aku duduk bersila, langsung melahap apa saja yang ada di isi kotak tersebut. Tiga menit. Setengah buah di isi kotak kayu tersebut habis. Hanya menyisakan kulit-kulit dari buah yang kumakan.


Baiklah, saatnya kembali ke misi. Aku beranjak berdiri. Berjinjit pelan menuju pintu yang menganga. Mengintip sedikit ke kiri dan kanan. Suasana hatiku mendadak kesal. Kenapa sih Far meninggalkan aku sendirian? Kan dia tahu aku anggota baru. Apa karena aku memanggilnya Mr. F ya? Bukannya dia perempuan ya? Alisku mengerut.


Senyap. Yes! Tidak ada orang! Aku menepuk-nepuk bajuku, melangkah santai keluar. Tapi...


Ini bagian mana ya? Oh iya, ruang bawah tanahnya di mananya ya? Hmm... yang aku ingat Far meloncat ke arah utara. Apa jangan-jangan di situ ya? Aku mengelus pelan dagu dengan jari jempol dan telunjukku.


Setelah tiga menit menimbang-nimbang, akhirnya kuputuskan untuk berjalan menuju utara.

__ADS_1


Suara seseorang terdengar sayup-sayup dari kejauhan di belakang. Aku refleks menoleh. Ada siluet seseorang yang tengah menutup ritsleting celana. Aku mempercepat langkah, bersembunyi di balik semak-semak.


Bunyi sepatunya semakin dekat, semakin besar bunyinya. Orang itu mendongak, melihat cepat menyapu lorong di sekitar. “Hm? Apa hanya perasaanku?”


Aku mengintip dari sela-sela semak. Dia balik kanan. Aku beranjak dari semak, mengendap-endap. Sesekali bersembunyi, menjadi patung, kodok. Eh–


Tujuh puluh menit, dengan keringat yang mengucur deras di pelipis, akhirnya berhasil keluar dari tempat aku disekap. Aku menoleh ke belakang, aku baru menyadari bahwa tempat gudang penyimpanan makanan ternyata besar. Seperti Villa. Dikelilingi dengan hutan. Tidak jauh dari


Aku tetap mengendap-endap, “menyatu dengan alam”, hingga tiba ke permukiman Kerajaan Don-Pa.


***


Ruang tengah kastel Pasukan Bulan.


“Ingat, misi ini kalian jalankan selama satu bulan. Dan jangan membuat kekacauan sama sekali ketika kalian masuk dan membaur ke permukiman. Operasi akan dimulai ketika hari festival kembang api sedang berlangsung. Saat itu, pertahanan Kerajaan Don-Pa melemah.” Leah duduk, menyeruput teh.


“Jangan duduk santai saja. Bergerak segera!”


Aku dan Far berdiri tegap, mengangguk. Wass tertawa pelan, memegang pundak kami. Dan Zap! Kami tiba-tiba berada hampir di pinggir hutan dengan banyak mercusuar/lampu sorot berlalu hilir-mudik.


Aku menoleh ke belakang, Zap! Wass menghilang.


“Mr. A, bersiap.” Far mengeratkan sarung tangan kulitnya.


***


Dua jam. Aku habiskan untuk meloncat dari satu dahan ke dahan yang lain. Beberapa kali berputar balik, menghindari penjaga yang tengah asyik mengobrol sambil sesekali bercanda.


Matahari mulai menampakkan dirinya, menyiram sebagian kecil dari hutan lebat bertanah basah. Napasku menderu, berjalan tergopoh-gopoh. Matahari mengisi sela-sela dedaunan pepohonan, menyambut lembut wajah dan bajuku yang kotor. Mataku mulai meredup, setengah dari pandanganku seakan menghilang. Hitam. Aku mengulurkan tangan kanan ke depan. Akhirnya... permukiman. Aku hampir sampai. Kesadaranku sedikit mulai menghilang. Hei, di sana ada perempuan yang sedang menaruh karung ke gerobak.


Aku tersenyum tipis. Hei, kamu.


“He...na! Cepat bawa karung yang lain!” Sayup-sayup terdengar suara dari dalam gubuk. Aku menoleh.


“Iya, Ibu! Aku segera ke sana.” Perempuan itu berlari kecil menuju gubuk tersebut.


Kesadaranku menghilang. BRUK! Aku pingsan untuk kedua kalinya.


***


Hangat...


Empuk...

__ADS_1


Suara api terdengar lembut...


Klotak...


Klotak...


Klotak...


Terdengar suara langkah kaki menuju kemari.


“Hm? Kakak ini mau sampai kapan pingsan?” Seseorang mengambil kain dari dahiku. Kemudian mencelupkannya ke air, lantas mengompres ke dahiku kembali.


Aku mulai membuka mata. Mengusap. “Hm? Aku ada di rumah siapa?” Aku beranjak duduk di kasur.


“Kakak sedang di rumahku.” Anak laki-laki, kecil. Mungkin berusia tujuh tahun, tersenyum sembari menunjuk dirinya antusias dengan jempol.


Anak itu mengangkat ember, balik kanan. “Tubuh kakak sedang tidak baik-baik saja. Lebih baik kakak berbaring saja dulu,” Anak itu menoleh. “Oh iya, perkenalkan. Aku Archie, walaupun aku terlihat seperti anak-anak. Tapi umurku 22 tahun lho.


Wajahku terkesiap. 22 tahun? Kukira 7 tahun. Archie tertawa kecil, kembali melangkah keluar ruangan.


Aku memandangi kedua tanganku yang dibebat dengan perban.


Drrt... Pintu terbuka.


Archie kembali lagi dengan membawa nampan. Tersenyum, meletakkannya di samping kasurku. “Sarapan dulu. Oh ya, nama kau siapa?”


Aku meraih sepotong roti di nampan tersebut, memakannya. “Namaku Alan. Kau bisa memanggilku Mr. A kalau kau mau. Eh, umurmu kan 22 tahun. Apa aku panggil saja–”


“Tidak usah. Panggil dengan nama Archie saja sudah bagus kok. Jangan terlalu formal.” Archie balik badan, “Aku pergi ke kota dulu ya. Aku mau menjual hasil panenku ke sana. Toilet ada di samping meja makan ya.” Archie berjalan ke arah pintu. Keluar.


“Wah... rotinya enak sekali.” Aku lahap memakan sepotong roti itu.


Dan ketika rotinya tersisa setengah, dalaman rotinya berisi keju. Manis, dan asin yang pas. Hap! Hap! Hap! Rotinya habis tak bersisa. Buku-buku aku mengambil susu di nampan tersebut, lantas meminumnya seperti orang yang tidak minum selama lima hari.


Tok! Tok! Tok!


“Halo, apa ada orang di sana?”


Tok! Tok! Tok!


“Halo. Kami dari utusan Istana utama Don-Pa.”


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Aku menyingkap sedikit gorden, mengintip dari balik jendela. Gawat!


__ADS_2