
“Mr. A! Menghindar!” Teriakan Far yang terkapar menggema di langit ruangan.
Aku mendongak, melihat ke arah ujung kapak yang runcing, yang terarah tepat di atas ubun-ubunku. Refleksku kini sedikit lebih meningkat daripada sebelumnya. Ketika kapak itu hanya tinggal sepersekian detik mengenaiku, aku refleks mendorong tubuhku mundur ke belakang.
“Hah! Kalian tidak akan ada kesempatan untuk menang!” Minotaur itu mendengus.
Miss. E menyeka darah segar yang mengalir di mulutnya. “Tidak ada kesempatan untuk menang?” Miss. E berdiri dari tempatnya terkapar sehabis terkena dampak serangan Minotaur sebelumnya. “Mungkin... mungkin jika Minotaur yang asli, kami pasti kalah. Bahkan jadi makanan santapan.” Dia mengepalkan tangan, rambutnya kembali mengembang ke atas, mengeluarkan cahaya berwarna kuning. “Tapi... tapi Minotaur yang di hadapanku ini,” Berlari, menaiki tubuh Minotaur, dan, “MANA MUNGKIN AKU AKAN KALAH!” Warna rambutnya seketika berubah menjadi oranye, dia menghempaskan kepalan tinjunya ke wajah Minotaur.
AARRGGHH!
Minotaur terdorong dua langkah ke belakang. Miss. E melompat ke menuju permukaan lantai, menatapku. “Kau masih punya bola kekuatan mengeluarkan panas?” Aku mengangguk. “Baiklah,” Miss. E menoleh ke arah Mr. S dan Far. “Kalian menyingkirlah lebih dulu, biar aku dan Mr. A yang akan menghabisi Minotaur replika ini.”
Minotaur itu mendengus, “AARRGGHH! Dasar manusia sombong!” Mengambil ancang-ancang, kaki kanannya di maju mundurkan ke depan dan belakang, badannya condong ke depan.
Tanpa aba-aba, Miss. E berlari menghadapi Minotaur yang menatap tajam perempuan itu sedari tadi. “SINI KAU! MANUSIA RAMBUT ORANYE!” Minotaur itu berlari ke depan, menghadapi Miss. E. Minotaur menyeruduk kan tanduknya ke arah Miss. E, dan terangkat ke atas langit ruangan. Minotaur itu berteriak, mengeluarkan gema suara yang memekakkan telinga, salah satu tangannya yang memegang kapak terangkat ke udara, siap membelah tubuh Miss. E menjadi dua.
Sebelum kapak tersebut mengenai tubuh Miss. E, dia terlebih dulu memutar badannya menghindari ayunan kapal tersebut. PRANG! Kapak tersebut terpental jauh, singgasananya terbelah menjadi dua bagian–menancap di dinding ruangan karena serangan balik dari Miss. E,
Miss. E mendarat sempurna tepat di belakang Minotaur, “Sekarang Mr. A!”
Aku menatap mata merah Minotaur itu, mengambil bola kecil dari kantong, BUM! Hawa panas segera menyebar dari radius yang sangat luas. Aku mengempaskan bola biru berkali-kali sebagai pelindung, keluar secepat mungkin dari radius tersebut.
Rambut Miss. E berubah menjadi kuning, bergerak lincah dan cepat, menyusul Mr. S dan Far di belakang.
“AARRGGHH! DASAR MANUSIA!” Minotaur meraung keras.
Mr. S berkali-kali mencoba membuka pintu yang ingin kami tuju, tapi berkali-kali juga pintu itu tidak bergeming sedikitpun. “Biar aku yang membukanya.” Miss. E melangkah di belakangnya. Dia memegang gagang pintu, menghantarkan panas ke gagang tersebut. Beberapa detik kemudian, gagang tersebut meleleh–bolong.
Minotaur mengentak-entakkan kakinya, membuat lantai tersebut bergetar. Seolah, lantai itu akan runtuh. Aku berlari sekuat tenaga. Miss. E yang gereget dengan lariku, langsung bergerak ke arahku, dan segera kembali ke tempat sebelumnya.
__ADS_1
BRAK! Mr. S mendobrak pintu tersebut. Kami pun masuk ke dalam ruangan yang kami tuju.
***
Sewaktu pertama kami tiba, kami menghabiskan sepuluh menit untuk mencari button wood di tempat-tempat yang terselip. Aku menyusuri laci meja, bingkai, lantai, dan sebagainya. Tetapi hanya ada secarik kertas yang tulisannya sudah buram.
“Yang ini bukan?” Miss. E mengangkat sesuatu di tangannya tinggi-tinggi.
Far mengangguk, “Tidak salah lagi. Itu benda yang kita cari,” Far menatap, kami bergantian. “Tekan tombolnya.”
Miss. E menekan tombol tersebut dan lantai tengah ruangan ini tiba-tiba merekah, memunculkan peti dengan keliran emas bercampur perak. Kami beranjak mendekat, bersama-sama membuka peti tersebut.
Aku menatap bingung, “Kenapa isinya kosong?”
Miss. E dan Mr. S beranjak dari tempatnya, “Misi kita telah selesai. Sekarang ayo segera, aku sudah menentukan jalan yang aman untuk kembali pulang.”
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, “Bukannya ini tugas rahasia? Kenapa isi peti nya sama sekali tidak ada?”
Mr. S menepuk dahi, “Miss. F, nanti kau jelaskan kepada Mr. A. Apa dia masih baru? Kalau begitu, kau beruntung bisa bertemu dengan kami.”
“Hei, hei kalian.” Teriakan kecil seseorang terdengar dari luar. Archie? Kenapa dia ada di sini?
Archie nampak terengah-engah, “Cepat keluar dari sini. Tempat ini sudah tidak aman lagi.”
Sebelum aku menanyakan banyak hal, Far mendahuluiku. “Siapa kau, anak kecil?”
Archie menyeka keringat yang mengucur dari dahinya, “Oh iya. Perkenalkan aku Archie,” Miss. E dan Mr. S mendengus kesal, mulai melanjutkan langkah mereka. “Tunggu, kalian berdua! Di atas sana sudah tidak aman lagi. Ikuti aku, di sini ada jalan keluar lain yang lebih aman.”
Dia berjalan ke pojok dinding, meraba-raba sesuatu. Klik! Bagian atas ruangan membentuk tangga menurun seperti pertama kali kami masuk. Archie berjalan mendekati tangga, “Ayo cepat, sebelum kalian ketahuan.” Tanpa disuruh dua kali Kami langsung segera menaiki tangga tersebut.
__ADS_1
Aku menoleh ke belakang, “Kau... Archie bukan?”
Sebagai jawaban, Archie hanya tersenyum lantas mengangguk.
Aku... aku masih belum paham apa yang sebenarnya dilakukan Archie. Aku menatap ke depan, menyusul dengan segera mereka bertiga yang sudah mendahuluiku.
“Miss. E, kau tahu dia siapa?” Tanpa berpikir, aku spontan melontarkan pertanyaan tersebut.
“Jangankan aku, Mr. S dan Miss. F saja tidak tahu dia siapa. Dia tidak ada di dalam rencana, apalagi klan kami juga tidak ada pemberitahuan kalau ada seorang lagi yang datang.” Jawabnya datar. Suaranya menggema dikarenakan ruangan tersembunyi ini tidak memiliki ruang yang cukup hanya sekedar untuk duduk.
Dua menit tanpa henti berjalan mendaki tangga, akhirnya kami sampai ke permukaan. Bulan purnama menyambut yang pertama menyambut kami di luar. Sinarnya terasa lembut menerpa wajahku.
“Akhirnya, misi kita selesai juga.” Mr. S duduk di hamparan rumput yang hijau, menyeka keringatnya yang telah membasahi bajunya sedari tadi. Miss. E tersenyum lebar melihat laut tenang yang berada di bawah sinar bulan.
Aku dan Far mengempaskan badan ke hamparan rerumputan hijau. Ah... padahal hanya beberapa jam aku mengerjakan misi ini. Akan tetapi waktu berjalan terasa begitu lambat. Aku tersenyum kecil melihat bulan purnama yang berhiaskan bintang-gemintang di angkasa raya.
***
“Tidak bisa dipercaya! Siapa yang mengalahkan kedua Minotaur ini?” Salah satu prajurit menatap ngeri.
“Kalian!” Salah satu prajurit melambaikan tangan. Mereka yang memeriksa Minotaur yang di dalam ruangan–yang telah dikalahkan Far–segera berlari kecil meninggalkan ruangan tersebut.
Sekumpulan prajurit yang menyaksikan kejadian ini menatap tidak percaya. Satu dua dari mereka mendadak muntah. “Mustahil penyusupnya hanya satu orang!”
“Jangan melihat tubuh Minotaur yang meleleh itu, cepat kita masuk ke ruangan harta karunnya!” Ketua dari para prajurit itu memerintah, berlari lebih dulu memasuki ruangan tempat harta karun Kerajaan Don-Pa disimpan.
Mereka melihat Archie yang tengah bersandar di samping peti harta tersebut sambil memegang tongkat kayu yang biasa dia bawa. “Kau! Jangan bergerak! Sebaiknya diam di tempat, jika tidak ingin mendapat masalah yang lebih besar.” Ketua prajurit itu mengacungkan bilah pedang.
Archie terkekeh, beranjak berdiri, mengacungkan tongkat kayunya. “Jika kau berani, lawan aku.”
__ADS_1