
Archie manggut-manggut, “Kamu ingin tahu ramalan tentang festival kembang api, bukankah begitu?”
Kliennya tersenyum, mengangguk pelan.
“Baiklah, anak muda. Jika kamu ingin sekali tahu apa yang akan terjadi di festival kembang api yang akan diadakan dua puluh sembilan hari lagi, dengan senang hati akan saya ramalkan.”
Wajah klien berseri-seri, menunggu Archie meramal dari bola kristal ungunya tersebut. Archie mengangkat tangan setinggi dada, “Tapi biayanya 1.000 peso ya.”
Klien tersebut merogoh-rogoh kantongnya, memberikan satu kantung kecil berisi peso. Archie mengambilnya, menyerahkannya padaku. “Tolong hitungkan, pendampingku.”
Walaupun aku tidak mengerti bagaimana ada orang yang masih percaya dengan ramalan di siang bolong ini, tapi aku tak mengambil pusing. Aku terima kantung kecil itu, membukanya, lantas menghitung jumlah peso di dalam kantung kecil itu.
Nilai koinnya bukan 1 peso per koin. Melainkan 100 peso per koin. Ini memudahkanku menghitungnya. Dilihat dari koinnya yang bernilai 100 peso, berarti dia bukan orang yang miskin. Apalagi jika aku melihat baju yang dikenakannya. Baju dan celana hitam, dan kainnya terbuat dari kain sutra. Jika tidak salah menilai.
100...
200...
500...
700...
950...
1.000...
Aku segera memasukkan koinnya ke dalam kantungnya seperti semula. Archie menoleh. Bagaimana? Apakah pas? Mungkin begitulah maksud tolehan tersebut. Aku mengangguk. Archie juga mengangguk-angguk, kembali tersenyum ramah melihat kliennya.
Archie sedikit batuk, mengangkat kedua belah tangannya. Bola kristal ungu tersebut menyala terang. “Baiklah, anak muda. Akan aku ramalkan hal besar yang akan terjadi di festival kembang api yang akan datang sebentar lagi.”
Wungg...
Wungg...
Bola kristalnya berpendar-pendar. Memantulkan cahaya ungu. Aksesoris kalung, cincin, bintang-bintang, serta aksesoris lainnya yang tergantung di sekitar ruangan ikut memantulkan cahaya berwarna ungu.
Archie memejamkan mata, berkomat-kamit tidak jelas. Beberapa detik kemudian dahinya mengucurkan keringat yang deras. Bola kristal tersebut masih menyala terang. Sang klien mengatupkan kedua tangannya, berdoa.
__ADS_1
Dua menit yang menegangkan. Bola kristal itu terus bersinar, memancarkan cahaya yang amat terang, namun tidak menyilaukan. Dahi Archie semakin banyak mengeluarkan keringat, jubah yang dikenakannya juga ikut basah.
Wungg...
Wungg...
DUM! Bola kristal berwarna ungu itu retak, aksesoris-aksesoris yang tergantung di dinding dan langit-langit ruangan sedikit retak. Mengeluarkan debu-debu halus berwarna ungu pula. Beterbangan pelan menuju lantai, seolah aku tengah melihat bintang-bintang yang indah di langit malam.
Archie tersengal, tangannya terulur kearahku. “Air, pendampingku.” Tanpa disuruh dua kali, langsung kuambilkan air botol yang sudah dia beli sebelum menuju ke sini.
Archie menyambut, langsung meminum. Tiga kali tenggak, air botol itu langsung habis. Hanya menyisakan botol kemasannya saja.
“Bagaimana Kek? Apakah ada sesuatu di festival tersebut?” Klien menyeka keringat, terkejut ketika bola kristal itu mengeluarkan bunyi yang tidak terduga.
Archie berdeham, “Buruk sekali Nak. Buruk sekali.”
“Buruk kenapa, Kek?”
“Karena kamu membayar biayanya, akan aku jelaskan,” Archie menyeka keringat di pelipisnya. “Festival kembang api... festival kembang api... festival kembang api... bagaimana cara aku menjelaskannya ya...”
“Apakah ada sesuatu yang tidak berkenan, Kek?” Tanya klien itu sekali lagi. Memastikan.
Klien itu mengangguk, “Tentu saja. Itu bahkan ada di dalam buku sejarah. Menara tinggi yang sudah tidak dipakai selama ratusan– bukan, lebih tepatnya ribuan tahun lalu.”
Archie mengangguk, “Benar sekali, Nak. Menara itu hanya digunakan untuk mengeksekusi penjahat yang sudah tidak bisa disebut manusia lagi. Dan tepat pada tengah malam, pukul 00.00, di puncak kemeriahan festival itu, justru adalah awal dari kekacauan.”
“Bagaimana bisa? Festival kembang api kan tentu saja hanya sebuah festival.” Aku refleks bertanya.
Archie tidak mengangguk, pun tidak menggeleng, “Aku tidak tahu persis kejadian apa yang membuat festival itu kacau. Tapi yang jelas aku melihat seseorang dieksekusi di menara itu. Dan itu adalah sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya selama ini.”
Klien menyimak saksama. “Itu saja, anak muda. Aku tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut, karena hanya itu yang aku lihat.”
Wajah berseri-seri klien tersebut padam. “Oh begitu saja ya. Terimakasih.” Klien itu beranjak dari duduknya, melambaikan tangan. Lantas kembali menyingkap gorden ruangan. Kring Kring! Bunyi suara bel di depan pintu terdengar.
Eh? Tunggu. “Ramalan tadi serius?” Aku memastikan.
Archie melambaikan tangan, beranjak dari duduknya. “Tentu saja tidak, kawan. Ayo bergegas, tutup tempat ini. Itu tadi sudah lumayan menguras tenagaku.”
__ADS_1
Archie meregangkan badannya, menoleh. “Tunggu apa lagi, Mr. A? Cepat!”
***
Hari kedua, hari ketiga, pun sama. Aku hanya dimanfaatkan Archie sebagai asistennya saja. Pagi menyiram tanaman, siangnya menjadi tukang peramal, sorenya pulang ke rumah. Ganti baju, lantas pergi lagi ke pusat kota untuk berjualan bahan makanan seperti sayuran, buah, dan bumbu-bumbu yang lain.
“Kenapa daganganku tidak laku ya, Alan?” Archie yang duduk bersila mendongak.
Aku tersenyum menepuk dahi, “Ya jelas tidak laku lah. Kau memasang harga yang sangat mahal hanya untuk seukuran bawang merah. 100 gram bawang merah kau pasang harga 100 peso? Mana ada orang yang ingin membelinya jika seperti itu.”
Aku tidak tahu apakah dia memang berumur 22 tahun? Ataukah hanya bualan semata. “Hm? Mahal? Bukannya bumbu memang mahal ya?”
“Kata siapa mahal? 100 gram bawang merah seharusnya kau pasang harga 10 peso saja. Tapi menurutku, jika kau pasang harga 20 sampai 30 peso juga bisa.” Aku ikut duduk. Bersila.
“Lho? Kenapa bisa begitu? Bikin orang pusing saja.” Archie menggaruk rambutnya yang bergelombang itu.
Huh... tarik napas Adrian... buang... tarik napas lagi.... buang...
Aku merangkul bahunya, “Lihat,” Menunjuk pedagang lain yang berjualan hal yang serupa. “Dengarkan. Mereka pasang harga berapa?”
Archie menengok, memperhatikan dengan saksama. “12 peso, per 100 gram, Alan.”
“Tepat sekali.” Kemudian menunjuk ke sisi lain. Pembeli berbondong-bondong mendatangi tempat itu. “Kau dengar harganya, Archie?”
“18 peso per 100 gram.” Jawabnya.
“Tepat sekali.” Aku menatap wajahnya dalam-dalam. “Dan apakah kau sudah tahu perbedaan dari kedua pedagang itu?” Archie mengangguk. Wajahnya lebih seperti orang kebingungan.
Archie menunjuk, “Yang pertama, kedua gerai itu berbeda. Satunya lusuh, yang satunya bagus.” Aku mengangguk, “Seterusnya?”
“Lalu penjualnya yang satu paman-paman lusuh. Yang satunya lagi perempuan cantik.” Aku menepuk dahi. Ini di luar ekspetasi, ekspedisi, dan eks-eks yang lainnya.
“Bukan itu! Kualitas, Archie! Kualitas! Kualitas bahan di gerai satu dan dua jelas berbeda. Gerai kedua bawang merahnya lebih bagus daripada gerai pertama. Makanya mereka memasang harga sedikit lebih tinggi.”
“Lalu, gerai kita punya bawang merah yang lebih bagus daripada punya gerai dua. Tapi karena kau memasang harga 100 peso, makanya jualan kita tidak laku-laku.”
Archie ber-oh pelan. Hanya “Oh”? Hanya itu?
__ADS_1
Maka keesokan harinya Archie memasang rencana baru, membuat pasar gempar dengan beritanya...