Re-Growth of Life

Re-Growth of Life
Chapter 31 – Masa Lalu yang Kelam (1)


__ADS_3

Either mengatupkan tangannya– “Hah? Selamat tinggal?” Frenin terkekeh. WUUSSHH! Angin hijau kebiruan Either seketika menghilang.


Frenin berubah menjadi serigala dewasa, mendarat sempurna di atas tanah. “Hahaha... anggota kau kali ini cukup membuatku kerepotan, Leah.” Frenin menatap tajam ke salah satu pohon.


Wuusshh, Leah dan Wass muncul dibarengi dengan bergugurannya dedaunan. “Sekarang kau sembuhkan Brok terlebih dahulu, Frenin. Dia aset berharga kami.”


“Kau bisa saja Leah. Padahal dalam hati sangat khawatir dengan anggotamu kan?” Frenin berjalan anggun, tubuhnya perlahan menyusut dan menjadi serigala kecil lagi. Frenin menepuk-nepuk dada Brok yang bolong. Dalam waktu singkat, tubuh Brok yang mendingin, perlahan membaik. Organ-organ yang telah rusak pun tersulam kembali.


Brok mengerjap-ngerjap. Menggosok matanya, melihat kami yang mengelilinginya dengan tatapan heran. “Apa aku sudah berada di surga?”


“Bukan. Kau berada sekarang di neraka, Brok. Ayo cepat, kita tidak punya waktu. Misi-misi kalian terus menanti.” Leah mengulurkan tangan, membantunya berdiri. Leah menatap Wass.


Wass menggeleng, menunjuk Vine. “Vine, buka portal. Kita akan segera ke kastil.” Tanpa disuruh dua kali, Vine mengangguk. Menyuruh kami berdiri dan berbaris rapi. Leah dan Wass yang pertama kali memasuki portal tersebut. Disusul Far, Vallen, Lizt, Tama, bla bla bla, aku, dan yang terakhir Vine.


***


Tak berselang lama, kami tiba di tengah ruangan. Dengan tiga sofa panjang dan satu meja berbentuk lingkaran ditengahnya.


“Jadi, misi kali ini apa, Leah?” Aku mengangkat tangan, bertanya.


Leah mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung kakinya, “Misi kita hari ini adalah menikmati libur.”


Mata Brok, Brice serta yang lain seketika membesar. “Libur?”


Leah tidak banyak bicara, hanya mengangguk sebagai jawabannya. “Tapi waktunya tidak banyak, hanya tiga hari saja. Setelah itu kalian akan dihadapkan dengan misi yang lebih serius.” Leah balik kanan, melangkah menuju kamarnya, tidur.


***


Yes! Karena hari ini dan tiga hari kedepan libur, aku meminta Wass mengantarkanku ke Perpustakaan Balon. Perpustakaan terbesar dan terlengkap di Kerajaan Markrasta. Sebenarnya aku merasa prihatin kepada Wass. Dia tersandar di sofa yang berada di tengah ruangan. Menyeka keringat yang mengucur deras hingga ke leher.


Wass menatapku yang sedikit kikuk di ruang tengah tersebut. Dia tahu aku ingin pergi berlibur seperti anggota yang lain (mungkin Vine tidak memerlukan bantuan Wass, ya karena mereka memiliki kekuatan yang sama. Tetapi dengan cara kerjanya yang berbeda).

__ADS_1


“Kau ingin berlibur juga, Adrian? Biar aku kuantarkan. Ke mana?” Wass tersenyum menatapku sambil menyeka keringatnya yang membasahi setengah dari bajunya tersebut.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, sedikit kikuk. “Eh, kamu– maksudnya kau kan sedang lelah. Jadi, tidak apa-apa. Aku akan menunggumu hingga selesai–”


“Kau meremehkanku, anggota baru? Sebutkan saja. Aku tidak keberatan. Malah jika ada satu anggota yang tidak pergi berlibur, Leah bisa sangat marah kepadaku. Jadi ini juga demi kepentingan bersama, oke?” Aku mengangguk, memberitahu tempat yang ingin kutuju.


Wass mengusap hidungnya dengan jempol, “Mudah.” Wass memegang bahuku, dan Cling! Aku telah sampai di Perpustakaan Balon, hanya tinggal berjalan seratus meter.


Oh iya, aku lupa memberitahu kalian sesuatu. Sebenarnya sebelum Leah memukul dinding di samping kamar mandi, Brice memberitahuku Perpustakaan Balon bisa diakses gratis oleh anggota pasukan manapun. Buka dari jam sepuluh hingga jam sembilan malam.


Mengapa? Mengapa aku malah pergi ke perpustakaan, sedangkan ini kan hari libur? Karena kata Pak Arion, perpustakaan adalah tempat yang asyik. Tidak asyik memang, jika kalian langsung membaca tentang buku sejarah yang setebal lima ratus halaman, dan masih ada kelanjutannya yang lain hingga empat puluh lima buku lagi.


Tapi kata Pak Arion, mulailah dengan yang ringan dulu. Misalnya dengan membaca buku cerita dongeng, cerita anak-anak, cerita remaja, hingga lambat laun, kalian merasa nyaman dengan membaca buku. Nah barulah kalian bisa membaca buku sejarah yang tebalnya lima ratus halaman itu tanpa rasa kantuk pada mata.


***


“Aku pergi dulu, Adrian. Selamat bersenang-senang di perpustakaan. Walaupun aku tidak tahu letak serunya di mana.” Wass melambaikan tangan, juga aku. Lima detik kemudian, Wass menjentikkan jari, dan Cling! Wass hilang begitu saja.


Dari Anak-anak hingga dewasa, mereka berjalan memasuki Perpustakaan Balon. Kalian tahu sebesar apa perpustakaannya? Sebesar gedung pencakar langit yang ada di dunia kalian. Eh, kok aku tahu? Tentu saja dong. Kan pelajaran sejarah sudah di bahas Pak Arion sejak satu semester aku di sekolah bersama Abel.


Balon-balon beterbangan indah, warna-warni menghiasi langit. Rerumputan yang terpangkas rapi. Banyak sekali mainan untuk anak-anak hingga mereka yang telah lanjut usia. Juga tempat duduk yang nyaman jika kalian ingin membaca buku diluar perpustakaan.


“Silakan tunjukkan tiketnya pengunjungnya.” Penjaga pintu perpustakaan itu mengulurkan tangannya. Aku menunjukkan kartu anggota pasukan.


Nama : Adrian


Tempat/Tanggal Lahir : Markrasta, 26-06-xxxx


Anggota Pasukan : Bulan–


“Baik, kartunya saya terima. Silakan nikmati fasilitas Perpustakaan Balon.” Aku mengangguk, kembali meraih kartuku.

__ADS_1


“Wah... sangat jarang sekali pasukan kerajaan yang datang ke perpustakaan. Baru kali ini.” Penjaga itu bergumam sembari memotong tiket pengunjung yang lain. Aku tidak terlalu mendengarkannya, dan langsung masuk begitu saja.


“Wah... kebetulan sekali, Adrian.” Seseorang menyapaku dari kejauhan.


Aku melangkah mendekat, penasaran siapa yang memanggilku. Apakah aku terkenal? Hahahaha...


“Kau masih kenal aku?” Dia menunjuk wajahnya.


Hmmm... Siapa ya? Seingatku, aku tidak pernah punya teman yang tampan begini. Mungkin Abel atau Fang, tapi mereka tidak setampan ini. Siapa ya? Dan lagi pun... pakaiannya bukan pakaian biasa. Ini seperti pakaian para bangsawan kerajaan.


Matanya berbinar-binar melihatku, menunggu tebakan yang kubuat.


Pak Arion? Tidak, tidak tidak. Dia kan sudah besar, mana mungkin tingginya setara denganku. Tunggu dulu... ini juga bukan Thomi kan? Aku juga melihat Thomi di rapat sebelumnya. Tapi wajahnya mereka tentu berbeda. Hmmm... siapa ya? Apa aku tanya saja? Tunggu, sepertinya aku ingat.


Aku menunjuknya dengan ragu-ragu, “Apa kau–”


“Yap, Lizam!” Matanya berkaca-kaca, memelukku hingga aku sulit bernapas.


“Su-sudah Lizam. A-aku tidak b-bisa ber-na-pas...”


“Oh? Iya, maaf. Hehe...” Akhirnya dia melepaskan pelukannya juga.


Aku segera menghirup udara sebanyak-banyaknya, lalu melepaskannya. Lizam memegang tanganku, mulai berjalan.


“Kenapa kah ke perpustakaan, Adrian? Biasanya pasukan kerajaan jarang yang ada ke perpustakaan, bahkan hampir tidak ada sebelum-sebelumnya.”


“Hmm... sebenarnya aku tidak ada tempat berlibur lagi sih, selain ke sini. Dan juga ini gratis bukan? Semenjak mata uang seluruh kerajaan diganti dengan peso, harga makanan hingga tempat wisata menaik sepuluh kali lipat.” Aku melihat kesana kemari. Banyak rak-rak buku besar. Tidak hanya satu, melainkan puluhan. Juga meja dan kursi banyak di sediakan. Buku tersebut boleh dibaca langsung di tempat, atau dibawa pulang. Dengan batas satu minggu.


Lizam manggut-manggut, “Iya juga sih. Makanan yang awalnya satu perak saja, sekarang sudah menjadi sepuluh peso. Dulunya mereka membuat nilai mata uang perak dan peso itu setara, tapi lihatlah sekarang. Pemikiran mereka sama sekali berbeda dengan kenyataan.”


“Eh? Kenapa kita malah membahas mata uang ya?” Lizam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2